"Setiap upaya diagnosa dan terapi atas persoalan yang terjadi di Indonesia tanpa melihat keterkaitannya dengan konstalasi global, niscaya akan menemui kegagalan...” (Kh. Hasyim Wahid).
Dalam salah satu literatur, hasil buah tangan KH. Hasyim Wahid,. dkk, yang berjudul Telikungan Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, dijelaskan gamblang berbagai hal. Seolah buku ini, menjabarkan terang tentang bagaimana sebenarnya keadaan dan konstalasi perpolitikan di berbagai belahan dunia. Termasuk indonesia itu sendiri, yang dikatakan dengan tegas, tak lepas dari pengaruh luar.
Melalui refleksi dan penggambaran sejarah yang dipaparkan sedemikian rupa oleh penulis, para pembaca dibawa langsung dan seolah turut jadi saksi riil sejarah sesaat peristiwa tersebut sedang berlangsung.
Sekiranya ditinjau lebih jauh, dapat kita simpulkan. Bahawasanya, Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, Belanda, dan Jepang, juga yang lainnya (?); mereka semua, berusaha untuk memonopoli perpolitikan di dunia. Termasuk tanah air kita, Indonesia.
Dari masa pra kemerdekaan indonesia, sampai dengan pasca kemerdekaan; ternyata, bangsa kita ini masih mengalami penjajahan, yang tanpa kita sadari. Penjajahan yang dimaksudkan di sini, bukan dalam bentuk kekerasan dan penindasan seperti pada masa sebelumnya. Melainkan, dari sisi pemikiranlah kita dijajah.
Bukan tanpa sebab, negara-negara asing ingin menguasai, memonopoli, ataupun serupa selainnya; melainkan, mereka mempunyai hasrat untuk menguasai SDA dan SDM yang ada di negeri tercinta kita ini.
Bila kita menelaah ke arah masa lalu, di mana awalnya bangsa-bangsa asing memasuki negara kita; karena adanya semangat untuk mengobservasi bagaimana keadaan negeri kita, yang pada saat itu mereka lakukan hanya untuk memecahkan teori yang dikemukakan oleh Copernicus dan Crishtoper Columbus, yang menyatakan bahwa Bumi itu bulat. Selain dari pada itu, mereka juga mengikuti semangat Gold (emas), Glory (kejayaan), dan Gospel (kepercayaan/keagamaan); atau lazimnya disebut, 3G.
Pada masa itu, para kolonialis mendirikan kongsi dagang pertama di indonesia, yang bernama VOC. Di mana, VOC ini menganut paham kapitalisme; inilah yang kemudian menjadi awal mula masuknya paham kapital di indonesia. Memasuki waktu tiga setengah abad lamanya, para kolonialis menjajah negara kita. Di situlah bermunculan tokoh muda yang merupakan korban dari politik etis Belanda, dan mereka melakukan gerakan perlawanan.
(Baca juga: PERAN MAHASISWA DALAM KAMPUS DAN MASYARAKAT).
(Baca juga: PERAN MAHASISWA DALAM KAMPUS DAN MASYARAKAT).
Perlawanan tersebut, tidak terhenti pada saat belanda (kolonialis) menjajah negeri kita tercinta ini begitu saja. Melainkan, sana-sini terus terjadi pergolakan. Sebagai contoh, saat jepang menduduki negeri kita, sampai mereka menyerah saat Hiroshima dan Nagazaki diluluh lantakkan oleh tentara sekutu dengan bom. Peristiwa tersebut, didahului dengan luluh lantaknya pangkalan Pearl Harbour.
Saat merefleksi sejarah indonesia, dan masuk pada fase kemerdekaan; di mana sistem pemerintahan mulai terbangun di indonesia; ternyata, masih saja negara asing lainya mempunyai niatan jahat terhadap indonesia. Pada saat itu, setelah jepang mundur dari indonesia, berlomba-lombalah negara asing lainnya melakukan infiltrasi ke Indonesia. Mereka menjajah secara halus; atau tepatnya, penjajahan secara modern.
Mulai dari Belanda dengan membonceng NICA yang kemudian membentuk RIS; lalu, terjadinya G30S PKI yang didalangi oleh Amerika Serikat melalui tangan kananya; yaitu, Sohearto. Sehingga, dapat melengserkan kekuasaan Soekarno sekaligus menggusur PKI sebagai salah satu partai pendukung Soekarno. Di mana saat itu, PKI di jadikan sebagai kambing hitam oleh Sohearto pada saat pembunuhan para jendral di Lubang Buaya.
Kembali menarik ulur sejarah, tepatnya saat masa kepemimpinan Soeharto, Amerika dengan mudahnya, masuk ke Indonesia dan menanamkan investasi modal asing yang menyebabkan krisis moneter dan menurunkan nilai mata rupiah di mata dunia.
Di sini sesunguhnya setelah amerika dapat menjajah bangsa kita secara halus. Mereka tidak serta merta membantu bangsa kita dengan tulus. Melainkan, dia punya maksud tersendiri untuk tidak melepaskan indonesia di karenakan SDA dan SDM nya, serta letak strategis NKRI.
Kekira, demikian gambaran terkait problematika sejarah dan pergulatan bangsa Indonesia, yang penulis dapat sampaikan di sini pasca pembacaan buku terkait. Tentu, melalui catatan ringkas ini, kita bisa merenung dan merefleksi kembali bahwa, penting kiranya untuk kita bergandengan dan membendung paham imperialis atau neoliberalis.
Pada akhir tulisan ini, saya ingin manyampaikan bahwa, senjata yang paling ampuh adalah PERSATUAN.
Tulisan ini, barangkali masih memiliki kekurangan. Sebab, tugas saya bukan pemuas tuk si pembaca. Minimal, tulisan ini bisa menjadi bahan refleksi dan juga sebagai amunisi pengetahuan untuk kita sekalian.
Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit: Lia Anggraeni
(Alumni Karantina Baca, PK. PMII IAIN Palopo).
Palopo-Desember 17, 2019.
(Edited: Desember 18, 2019)
(Edited: Desember 18, 2019)

Komentar
Posting Komentar