Perempuan sebagai Hamba Allah Swt
penulis: Nur Azima
“cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia”
_KH. Husein Muhammad_
Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan
Sejarah yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.
Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak perbudakan, pelecehan seksual, bahkan pembunuhan keji yang dirasakan langsung oleh perempuan di zaman itu. Terlebih doktrin-doktrin bahwa perempuan adalah aib bagi masyarakat ‘jahiliyah’ berujung pada maraknya penguburan bayi permpuan yang tak berdosa hidup-hidup. Situasi inilah yang berujung pada kontruks sosial zaman ‘jahiliyah’ menngharuskan perempuan tinggal dirumah (Domestik) dan laki-laki bebas keluar (publik).
Kemudian secara evolusioner Islam hadir menghapuskan segala bentuk perbudakan dan ketidak adilan terhadap perempuan di zaman ‘jahiliyah’. Dari sisi kemanusiaan perempuan ditegaskan sebagai manusia dan penegasan bahwa nilai kemanusiaan tidak memandang jenis kelamin. Kita bisa melihatnya pada Q.S Al- Hujarat ayat 13.
Sampai saat ini yang menjadi diskursus adalah terkait proses penciptaan perempuan. Merujuk pada QS. An-nisa Ayat 1.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
“Wahai Manusia! bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”
Ada pendapat diantaranya adalah bahwa proses penciptaan manusia dari tulang rusuk Adam sebagai manusia pertama. Dari beberapa literatur pendapat pertama ini diperpegangi oleh Ibnu Katsir, Al Qurthuby dan Asy Syuyuthi.
Sedangkan Sayyid Qutub dalam menjelaskan Ayat 1 dari QS. An Nisa di atas, dia mengatakan ayat tersebut memberikan kesan bahwa manusia yang berasal dari satu iradah itu berhubungan dalam satu rahim, bertemu dalam satu koneksi, bersumber dari satu asal-usul, dan bernasab kepada satu Nasab.
Selaras dengan hal tersebut asal usul perempuan adalah sama dengan laki-laki, yaitu min turab digaungkan oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Quraish Sihab. Dengan alasan pemahaman kalimat “Perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam” secara tekstual adalah Pendapat yang disarikan dari kisah Israiliyah. Pendapat yang bertentangan dengan QS. Al Isra’ ayat 70 yang mengatakan bahwa Allah memuliakan anak cucu Adam, yang mana tidak menyebutkan jenis kelamin tertentu Pendapat yang bertentangan dengan QS. Ali Imran ayat 195 yang menyebutkan “ba’dhukum ala ba’dh” yang berarti laki-laki dan perempuan tercipta dari pertemuan ovum dan sperma.
hal tersebut juga dijelaskan dalam Q.S Al-Mu’minun Ayat 12-14 digambarkan proses penciptaan manusia.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)
Artinya :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan nuftah dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Penciptaan perempuan tidak secara khusus dan pasti ditegaskan, melainkan penciptaan manisia telah mengikut sertakan penciptaan perempuan sebagai manusia juga, dibalik semua itu laki-laki dan perempuan di ciptakan pastilah mempunyai makna dan tujuanya mengapa mereka di ciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun bisa kita lihat bahwa perempuan dan laki-laki yang tidak ada perbedaan dimata Tuhan melainkan sebagi manusia yang membedakan hanyalah ketakwaan hal ini merujuk pada QS. Al-Baqarah Ayat 30.
Kedatangan Islam yang disyiarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw, sungguh memuliakan perempuan contoh secara garis besarnya yaitu perempuan akan menjadi seorang ibu dan istri, Seperti yang telah ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits yang populer yang berasal dari pertanyaan seorang sahabat terkait kehormatan seorang Ibu. "Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini? Rasul menjawab, ‘Ibumu.’ Kemudian dia bertanya lagi. Lalu siapa? Rasul menjawab, ‘Ibumu.’ Kemudian lagi, ya Rasul?, tanya orang itu. Rasul menjawab, ‘Ibumu.’ Lalu, laki-laki itu bertanya lagi, Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul? ‘Bapakmu,’ jawab Rasulullah.
Berbagai pandangan yang mengekang perempuan persoalan domestik dan publik juga menjadi diskursus penting. Banyak kemudian yang mempengaruih hal ini diantaranya adalah teks Hadits yang terkesan masih membedakan secara diskriminatif dan tidak adil antara laki-laki dan perempuan yang harusnya dipahami dan dilakukan reinterpretasi agar tetap dalam jangkar kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana sifat Allah Yang Maha Adil. Kita memahami bahwa secara teks Al-Qur’an Mutlak adanya, namun tidak dipungkiri tafsiran yang bersifat relatif.
Dewasa ini, keadilan dan hak permempuan dalam ranah publik terasa adanya. Alangkah baiknya kita selalu bersyukur atas apa yang telah di berikan kepada kita terutama nikmat menjadi perempuan. Dengan mensyukurinya kita akan selalu dalam lindungan-Nya dan selalu di mudahkan apa pun yang kita lakukan dan tentunya kita selalu di iringi dengan Ridho-Nya. Diantara bentuk kesyukurannya perempuan harus berjihad dalam menuntaskan kebodohan dan eksis dalam menjawab tantangan zaman dan tetap menjaga nilai-nilai.
Seorang yang berilmu akan diangkat derajadnya oleh Allah Swt, itu artinya dengan ilmulah perempuan bisa menjaga marwah dan kemuliannya. Tujuan dari tulisan ini yaitu tidak ada maksud untuk mendikotomikan laki-laki dan perempuan tapi hanya semata sebagai gambaran bagaimana perempuan tetap menjaga marwahnya sebagi perempuan muslim yang diangkat derajatnya oleh Rasulullah Muhammad Saw, dan punya tugas yang sama dengan laki-laki menegakkan agama (Islam) yang rahmatan lilalamin dan menjadi pesan untuk generasi bangsa yang bertaqwa, berbudi luhur dan berilmu serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemrdekaan Indonesia.
Sebagai penutup tulisan ini, seorang perempuan yang mulia adalah dia yang bisa menjaga kehormatan dan kemuliannya. Terlepas dari itu baik laki- laki dan perempuan semoga kita dijauhkan dari segalah fitnah dunia termasuk tidak terlena dengan dunia yang fanah ini, untuk tetap berbuat kebaikan dan senantiasa menjauhka diri dari kesia-siaan dan perbuatan tercela.
Wallahu a’lam.

Bukan kopri kalau tidak menarik😅
BalasHapusAlurnya menarik tapi konklusinya kurang garam
BalasHapus