Suatu hari, saat Soekarno masih duduk dibangku pelajar, dia seperti tiba-tiba diilhami pemikiran cemerlang. Suatu kejadian yang membuatnya merenung untuk melahirkan sebuah paham yang hari ini disebut sebagai ideologi Marhaenisme. Ia ketika itu bolos kuliah, lalu mengelilingi daerah Bandung dengan sepedanya.
Dalam proses perjalanan, ia melihat Pak tani lagi sibuk dengan seuntaian cangkulnya. Lalu, Soekarno perlahan menghampiri pak tani itu kemudian menyapa dan melakukan dialog sederhana bersama pak Marhaen. Seorang petani berbaju lusuh.
Berikut percakapan singkatnya, "siapa pemilik sawah ini", tanya Soekarno". Kemudian dijawab oleh orang yang ditanya, "saya juragan, ini tanah turun temurun yang diwariskan dari orang tua. kata petani berbaju lusuh itu".
Lalu Soekarno bertanya lagi kepada pak tani itu, "Bajak dan cangkul itu apa punyamu ?. "Ia gan (red. Juragan)". Jawab ringkas pak Marhaen. Bung Karno lanjut bertanya, "lalu hasilnya untuk siapa ?". "Untuk saya gan, hasilnya hanya cukup untuk hidup sehari-hari". Kata petani itu.
Dari kejadian itu, Sukarno muda berpikir dalam hati, "Marhaen adalah nama yang sama seperti Smith dan jones, disaat itu cahaya olahan melintas di otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menemani semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti dia."
Semenjak saat itu, Soekarno merasa perlu berikhtiar dan berjuang untuk para petani yang berusaha hidul dari sepetak tanah yang sangat kecil.
Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit atau orang kecil yang memiliki alat-alat yang seadanya, sekedar cukup untuk hidupi dirinya sendiri; atau biasa disebut sebagai kaum mustadl'afin.
Mereka adalah korban feodalisme yang diperas oleh para bangsawan selama berabad-abad lamanya. Rakyat dipaksa mengikuti pola ekonomi imprealisme. Dimana, hanya bisa untuk memenuhi kebutuhannya untuk sekadar makan.
Bangsa kita yang sudah dimelaratkan, karena bekerja bukan untuk diri sendiri, melainkan orang lain. Perkataan marhaenisme itu adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami (kata Soekarno dengan lantangnya).
Marhanisme bertujuan untuk menghilangkan penghisapan, penindasan, pemerasan, dan penganiayaan; serta berupaya mencapai dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur melalui kemerdekaan nasional demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
Dalam memahami marhaenisme secara mendalam, setidaknya ada dua hal yg harus kita harus kita pahami, yaitu : Pertama, Pengetahuan tentang kondisi Indonesia. Kedua, Pengetahuan tentang Marxisme.
Akan tetapi, cita-cita bung Karno tentang kesejahteraan kaum Marhaen dalam konsep ideologi Marhanisme, akhirnya harus sirna seiring berjalannya waktu dengan lengsernya bung Karno dari pimpinan negeri ini sendiri pada tahun 1966.
Waktupun berjalan mengikuti zaman, setelah kontra-revolusi mulai berkuasa mengeluarkan tap MPRS nomor XXV dan MPR XXVI, dengan tujuan untuk membersihkan ajaran2 bung Karno tadi, yang efeknya perlahan merusak. Ajaran bung Karno perlahan kehilangan apinya (Marxis Marhaenis).
Tidak mengherankan jika ajaran bung Karno yang terdengar di telinga kita sekarang ini, tak lebih dari sebuah frase-frase atau slogan-slogan heroik. Ibarat tanah tanpa isi, begitulah semangat pasca bung Karno adalah Marhanisme tanpa Marxisme.
73 tahun sudah berlalu sejak proklamasi berhasil dibacakan oleh founding fathers. Kita hari ini mungkin mulai melupakan sejarah panjang bangsa kita. Bangsa yang akhirnya bisa menyuarakan kemerdekaan kepada dunia setelah berupaya lepas dari cengkeraman imprealisme yang beberapa abad lamanya melekat di Indonesia.
Kalau kita berbalik ke sejarah, bahwa bung Karno merupakan salah satu tokoh pelopor kemerdekaan dan dia juga yang pertama kali mendapatkan amanah untuk memimpin negeri ini.
Namun, pada 21 Juni 49 tahun lalu, seorang putra terbaik ini bangsa Indonesia menghembuskan nafas terakhirnya tepatnya pukul 07.07 WIB. Tepatnya pada Minggu 21 Juni 1970, bung Karno wafat karena mengidap penyakit komplikasi.
Hari-hari terakhir bung Karno dihabiskan sebagai tahanan politik. Ia bagai orang buangan yang diasingkan negaranyasendiri. Dia dijebloskan sebagai tahanan di rumah oleh Soeharto yang dengan lihai telah mengambil alih kekuasaan. Rapi dan pelan-pelan namun pasti.
Begitulah cara Soeharto menyingkirkan sang penyambung lidah rakyat Indonesia. Tragedi berdarah pada 30 September 1965 yang menyeret partai komunis Indonesia (PKI) dituding menjadi aktor utamanya untuk membuka jalan bagi Soeharto yang tampil sebagai pahlawan. Ia juga mengintip peluang untuk melemahkan pengaruh bung Karno.
Disisi lain, bung Karno terkesan untuk melindungi PKI demi mempertahankan konsep NASAKOM (nasionalis, agamis, dan komunis) yang diyakininya sebagai tiga utama kekuatan bangsa Indonesia.
Setelah peristiwa itu menewaskan beberapa perwira tinggi angkatan darat tersebut, sebagai salah satu petinggi AD yang kebetulan selamat, Soeharto langsung muncul ke permukaan dan memotori upaya "penyelamatan" negara.
Golongan agamawan, mahasiswa, media, dan beberapa aspek lainnya berhasil dimobilisasi demi menuntut pembubaran PKI dan mengganyang antek-anteknya. Bung Karno pun mulai digoyang. Soeharto memperoleh momentumnya setelah bung Karno menandatangani surat perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).
Surat perintah ini pada dasarnya hanya memberikan wewenang kepada Soeharto selaku Panglima Komando Pemulihan dan Ketertiban (pangkopkambit). Itu untuk mengambil tindakan bila diperlukan. Namun Soeharto dgn jeli memaksimalkan lembaran perintah itu sebagai Surat sakti justru untuk menggerus pengaruh dan kekuasaan bung Karno selaku presiden. Hal ini terbukti setelah SUPERSEMAR ini dikukuhkan oleh majelis permusyawaratan rakyat sementara (MPRS).
Marhaenisme relevan untuk saat ini. Menurut saya, marhaenisme itu sebagai bagian dari marxsime yang menjadi guiding theory untuk menjalankan perjuangan. Maka marhaenisme pun adalah the guiding theory untuk perjuangan rakyat Indonesia.
Soekarno pun berkata, "jangan sekali-kali kamu terima marhaenisme itu sekedar teori, tidak guidge to action dan engkau harus berjuang saudara-saudaraku, yaitu untuk masyarakat adil makmur dan sejahtera yang didalamnya merdeka betul".
Untuk kesimpulan, Marhaenisme sekarang ini relevan untuk menjawab tantangan zaman untuk nelihat karakter kapitalisme di Indonesia dalam alam neoliberal saat ini.
Walloohul muwaafiq illa aqwaamith Thoriq..
Credit by: Ridwan Tamping.
Palopo 04 Agustus 2019.
Referensi :
1. (buku) Pokok-pokok Ajaran Marhaenisme Menurut Bung Karno.
2. marhaenisme-ideologi-bung-karno-yang-hampir-mati (Kompasiana)
3. Sumber Gambar Ilustrasi
Dalam proses perjalanan, ia melihat Pak tani lagi sibuk dengan seuntaian cangkulnya. Lalu, Soekarno perlahan menghampiri pak tani itu kemudian menyapa dan melakukan dialog sederhana bersama pak Marhaen. Seorang petani berbaju lusuh.
Berikut percakapan singkatnya, "siapa pemilik sawah ini", tanya Soekarno". Kemudian dijawab oleh orang yang ditanya, "saya juragan, ini tanah turun temurun yang diwariskan dari orang tua. kata petani berbaju lusuh itu".
Lalu Soekarno bertanya lagi kepada pak tani itu, "Bajak dan cangkul itu apa punyamu ?. "Ia gan (red. Juragan)". Jawab ringkas pak Marhaen. Bung Karno lanjut bertanya, "lalu hasilnya untuk siapa ?". "Untuk saya gan, hasilnya hanya cukup untuk hidup sehari-hari". Kata petani itu.
Dari kejadian itu, Sukarno muda berpikir dalam hati, "Marhaen adalah nama yang sama seperti Smith dan jones, disaat itu cahaya olahan melintas di otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menemani semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti dia."
Semenjak saat itu, Soekarno merasa perlu berikhtiar dan berjuang untuk para petani yang berusaha hidul dari sepetak tanah yang sangat kecil.
Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit atau orang kecil yang memiliki alat-alat yang seadanya, sekedar cukup untuk hidupi dirinya sendiri; atau biasa disebut sebagai kaum mustadl'afin.
Mereka adalah korban feodalisme yang diperas oleh para bangsawan selama berabad-abad lamanya. Rakyat dipaksa mengikuti pola ekonomi imprealisme. Dimana, hanya bisa untuk memenuhi kebutuhannya untuk sekadar makan.
Bangsa kita yang sudah dimelaratkan, karena bekerja bukan untuk diri sendiri, melainkan orang lain. Perkataan marhaenisme itu adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami (kata Soekarno dengan lantangnya).
Marhanisme bertujuan untuk menghilangkan penghisapan, penindasan, pemerasan, dan penganiayaan; serta berupaya mencapai dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur melalui kemerdekaan nasional demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
Dalam memahami marhaenisme secara mendalam, setidaknya ada dua hal yg harus kita harus kita pahami, yaitu : Pertama, Pengetahuan tentang kondisi Indonesia. Kedua, Pengetahuan tentang Marxisme.
Akan tetapi, cita-cita bung Karno tentang kesejahteraan kaum Marhaen dalam konsep ideologi Marhanisme, akhirnya harus sirna seiring berjalannya waktu dengan lengsernya bung Karno dari pimpinan negeri ini sendiri pada tahun 1966.
Waktupun berjalan mengikuti zaman, setelah kontra-revolusi mulai berkuasa mengeluarkan tap MPRS nomor XXV dan MPR XXVI, dengan tujuan untuk membersihkan ajaran2 bung Karno tadi, yang efeknya perlahan merusak. Ajaran bung Karno perlahan kehilangan apinya (Marxis Marhaenis).
Tidak mengherankan jika ajaran bung Karno yang terdengar di telinga kita sekarang ini, tak lebih dari sebuah frase-frase atau slogan-slogan heroik. Ibarat tanah tanpa isi, begitulah semangat pasca bung Karno adalah Marhanisme tanpa Marxisme.
73 tahun sudah berlalu sejak proklamasi berhasil dibacakan oleh founding fathers. Kita hari ini mungkin mulai melupakan sejarah panjang bangsa kita. Bangsa yang akhirnya bisa menyuarakan kemerdekaan kepada dunia setelah berupaya lepas dari cengkeraman imprealisme yang beberapa abad lamanya melekat di Indonesia.
Kalau kita berbalik ke sejarah, bahwa bung Karno merupakan salah satu tokoh pelopor kemerdekaan dan dia juga yang pertama kali mendapatkan amanah untuk memimpin negeri ini.
Namun, pada 21 Juni 49 tahun lalu, seorang putra terbaik ini bangsa Indonesia menghembuskan nafas terakhirnya tepatnya pukul 07.07 WIB. Tepatnya pada Minggu 21 Juni 1970, bung Karno wafat karena mengidap penyakit komplikasi.
Hari-hari terakhir bung Karno dihabiskan sebagai tahanan politik. Ia bagai orang buangan yang diasingkan negaranyasendiri. Dia dijebloskan sebagai tahanan di rumah oleh Soeharto yang dengan lihai telah mengambil alih kekuasaan. Rapi dan pelan-pelan namun pasti.
Begitulah cara Soeharto menyingkirkan sang penyambung lidah rakyat Indonesia. Tragedi berdarah pada 30 September 1965 yang menyeret partai komunis Indonesia (PKI) dituding menjadi aktor utamanya untuk membuka jalan bagi Soeharto yang tampil sebagai pahlawan. Ia juga mengintip peluang untuk melemahkan pengaruh bung Karno.
Disisi lain, bung Karno terkesan untuk melindungi PKI demi mempertahankan konsep NASAKOM (nasionalis, agamis, dan komunis) yang diyakininya sebagai tiga utama kekuatan bangsa Indonesia.
Setelah peristiwa itu menewaskan beberapa perwira tinggi angkatan darat tersebut, sebagai salah satu petinggi AD yang kebetulan selamat, Soeharto langsung muncul ke permukaan dan memotori upaya "penyelamatan" negara.
Golongan agamawan, mahasiswa, media, dan beberapa aspek lainnya berhasil dimobilisasi demi menuntut pembubaran PKI dan mengganyang antek-anteknya. Bung Karno pun mulai digoyang. Soeharto memperoleh momentumnya setelah bung Karno menandatangani surat perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).
Surat perintah ini pada dasarnya hanya memberikan wewenang kepada Soeharto selaku Panglima Komando Pemulihan dan Ketertiban (pangkopkambit). Itu untuk mengambil tindakan bila diperlukan. Namun Soeharto dgn jeli memaksimalkan lembaran perintah itu sebagai Surat sakti justru untuk menggerus pengaruh dan kekuasaan bung Karno selaku presiden. Hal ini terbukti setelah SUPERSEMAR ini dikukuhkan oleh majelis permusyawaratan rakyat sementara (MPRS).
Marhaenisme relevan untuk saat ini. Menurut saya, marhaenisme itu sebagai bagian dari marxsime yang menjadi guiding theory untuk menjalankan perjuangan. Maka marhaenisme pun adalah the guiding theory untuk perjuangan rakyat Indonesia.
Soekarno pun berkata, "jangan sekali-kali kamu terima marhaenisme itu sekedar teori, tidak guidge to action dan engkau harus berjuang saudara-saudaraku, yaitu untuk masyarakat adil makmur dan sejahtera yang didalamnya merdeka betul".
Untuk kesimpulan, Marhaenisme sekarang ini relevan untuk menjawab tantangan zaman untuk nelihat karakter kapitalisme di Indonesia dalam alam neoliberal saat ini.
Walloohul muwaafiq illa aqwaamith Thoriq..
Credit by: Ridwan Tamping.
Palopo 04 Agustus 2019.
Referensi :
1. (buku) Pokok-pokok Ajaran Marhaenisme Menurut Bung Karno.
2. marhaenisme-ideologi-bung-karno-yang-hampir-mati (Kompasiana)
3. Sumber Gambar Ilustrasi

Komentar
Posting Komentar