Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.
Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini.
Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN. Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.
Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragaman negeri ini. Tapi, apakah semua wadah dengan semangatnya selalu menjadi motivator untuk menjaga tradisi dan budaya itu ?waduh...! Langsung aja freng...hehehe
Pesantren sebagai kiblat pendidikan tentu tidak hanya sebatas judul tulisan ini, tetapi saya merasa bahwa, ada perbedaan antara pesantren dengan wadah-wadah pendidikan lainnya.
Pernah tidak kita mendengar atau membaca literatur-literatur bahwa wadah pendidikan pertama di Nusantara ini adalah pesantren ? Salah satu cara untuk menjaga dan melestarikannya adalah mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Atau bahkan ikut nyantri didalamnya.
Tradisi lokal ini sangat penting sebenarnya untuk kita pahami bahwa agama dan tradisi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mengingat bahwa, metode yang dilakukan Walisongo dalam menyebarkan islam adalah dengan melakukan pendekatan-pendekatan humanistik dan menjaga tradisi-tradisi lokal.
Bahkan para Walisongo kemudian menginovasi sedemikian rupa tradisi tradisi lokal dengan memasukkan nilai-nilai islam didalamnya yang tidak lepas dari empat prinsip Aswaja An-nahdliyah yaitu tasamuh, tawassut, toleran, dan ta'addul.
Alasan para Walisongo mewariskan tradisi-tradisi itu adalah, agar kita mampu merawat negeri ini dari para penjilat-penjilat negeri ini.
Proses industrialisasi dan swastanisasi ini kemudian ingin mencoba mengeruk negeri ini, dan itu akan merusak tatanan tradisi dan budaya di Negeri ini yang dibangun oleh para sesepuh kita terdahulu.
Akankah kita hanya tinggal diam melihat fenomena ini ? Disisi lain, kekayaan alam kita dikeruk. Baik dari aspek ekonomi maupun kultural.
Tulisan sederhana dan jauh dari kesempurnaan ini hanya mencoba memberikan bahan refleksi bagi kita semua bahwa tatanan tradisi dan budaya ini sangat penting untuk kita pertahankan. Karena ini adalah warisan, dan warisan itu tidak boleh kita buang begitu saja. Tetapi harus kita kemas sedemikian rupa sehingga menjadi maslahat di lingkungan sekitar.
Tapi perlu kita ingat bahwa, tidak semua pesantren mempertahankan tradisi tradisi lokal, justru ada beberapa yang mencoba ingin menghilangkan warisan-warisan itu. Bahkan ironisnya, menghilangkan tradisi dan budaya lokal namun mengomsumsi tradisi dan budaya Western dan bahkan condong ke-Arab-Arab-an.
Saya bukannya anti tradisi dan budaya luar, tapi apakah kita tidak bangga dengan milik kita sendiri ataukah kita malu dengan tradisi dan budaya kita ?
Pernahkah kita mendengar tempat keramat yang biasa dikatakan "Angker" dan disakralkan oleh orang-orang terdahulu kita ? Kenapa demikian, karena ada hal yang coba di lestarikan.
Apa itu ? Pangan, air, tanah, dan hutan. Coba kita renungkan bagaimana misalkan orang sebebas-bebasnya menebang hutan, tentu akan merusak keindahan alam. Bukankah kita di ajarkan Bahwa HABBLUMMINAL ALAM ini yang harus selalu kita jaga.
Hubungan kepada alam juga perlu kita jaga, termasuk menjaga dan melindungi pohon-pohon yang ada didalam hutan, Kemudian tanah, dll.
Kenapa mesti harus di lindungi ? Karena kita harus berpikir bahwa, kita menjadi pelajar misalkan, setelah tamat dari pendidikan kita mau kemana ? Disisi lain, swastanisasi dan industrialisasi sebebas-bebasnya dilakukan oleh para oligarki atau pemodal, tanah kita direbut, lalu setelah tamat sekolah ternyata kita menjadi kuli diatas tanah kita sendiri.
Kembali ke PESANTREN, cukup banyak orang beranggapan bahwa pesantren terjangkit penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat). Yah, itulah salah satu contoh kegagalan dalam memahami kegiatan-kegiatan ritual pesantren yang seringkali kita terpenjara dengan pikiran kita sendiri.
Jadi ini alasan saya memberikan wejangan kepada para khalayak bahwa ada wadah yang menjadi jembatan menuju kepada cahaya yang terang benderang dengan selalu memberikan wejangan-wejangan spriritual. Apatah lagi ketika berbicara persoalan kultur.
Pesan terakhir penulis dari tulisan ini bahwa, mempertahankan dan melestarikan tradisi negeri ini adalah kewajiban kita bersama-ama sebagai kader bangsa menuju kader Ulul Albab.
“MENJAGA TRADISI LAMA YANG BAIK, DAN MENGAMBIL TRADISI BARU YANG LEBIH BAIK".
Walloohul muwaafieq ilaa aqwaamith thorieq...
Credit by : Ayyink 'Salim' Dakhiri.
Palopo - 13 juli 2019.
Referensi :
K.H. Hasyim Asy'aryi - Pengabdian Seorang Kiyai Untuk Negeri. (Buku).
https://www.google.com/search?q=pengabdian+seorang+kyai+untuk+negeri&safe=strict&client=ms-android-asus (gambar ilustrasi).

Komentar
Posting Komentar