Langsung ke konten utama

Tonggak Berdirinya Negara


Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna.

Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang substansinya adalah menguasai negara kita.

Seperti yang sudah di jelaskan di atas, kelima point tersebut meliputi :

1. Rakyat
Hakikat dari negara adalah untuk memberikan proteksi dan menciptakan keadilan bagi seluruh elemen masyarakat. Namun yang menjadi pertanyaan adalah demokrasi lahir dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sesuai dengan ideal akan demokrasi hari ini malah di salah artikan oleh partai-partai yang menjadi kekuatan dan hasrat demi melampiaskan serta mempertahankan status qou.

Tanpa kita sadari yang terjadi adalah demokrasi di pegang dari partai, oleh partai dan untuk partai. Jadi jangan heran ketika partai memainkan tipu muslihatnya untuk menindas secara perlahan masyarakat kita sehingga tak mampu memberikan kontribusi bagi negara.

Akan tetapi, rakyat kita menjelma sebagai segerombolan hewan ternak yang hanya di berikan asupan gizi (HOAX) dan saling memangsa satu sama lain sehingga rakyat semata-mata tak memiliki peran penting di negara kita. Seharusnya, rakyat harus mampu berfikiran dan bertindak secara selektif serta sadar bahwa selama ini hanya di jadikan ladang subur oleh oknum-oknum yang berkepentingan.

2. Pemerintah
Adanya suatu negara karena adanya pemerintah beserta komponen-komponennya untuk menstabilkan dan menciptakan nilai keadilan bagi rakyatnya. Minimnya badan pengawasan yang tak lagi mempertahankan idealisnya yang justru berselingkuh untuk membuat rakyat semakin tertindas dan menyengsarakan.

Perlu kita ketahui bersama bahwa sistem di negara ini yang berasaskan dengan Pancasila sudah ideal namun stagnan cuma di tahun 1945 di tandai dengan lahirnya beberapa generask yang tak mampu mempertahankan cita-cita dari eksistensi negara kita.

Rakyat hanya di antarkan di depan gerbang kemerdekaan sehingga tak di izinkan masuk ke dalamnya, karena ekonomi politik di pegang penuh oleh para elite-elite yang mendesain sedemikian rupa yang di kontrol lewat badan trias-politika. Kita harus menyadarkan setiap representatif dari rakyat bahwa sudah selayaknya di penuhi segala kebutuhannya demi melegitimasi suatu tatanan untuk menciptakan keadilan yang selama ini di cita-citakan oleh para founding father Indonesia.

3. Kaum cendekiawan
Kaum cendekiawan yang merupakan pion utama untuk menghalau segala arus globalisasi yang menuai konflik di masyarakat. Namun, kaum cendekiawan kita tak mampu berbicara banyak dan minimnya kuantitas yang bertahan di dalam negara kita karena hanya di pandang sebelah mata sehingga kaum cendekiawan ini memutuskan untuk berhijrah dan menetap di negeri lain.

Terbukti banyaknya kaum cendekiawan kita yang eksis setelah mengabdi di negeri orang seperti ilmuwan, tenaga pendidik, atlet dan lain sebagainya yang hidup berceceran di negara-negara adidaya. Sehingga hanya segelintir yang membendung kuatnya arus dan badak menerpa negara kita yang semakin hari semakin menghilangkan norma-norma serta asas-asas ideologis negara.
    
Kaum cendekiawan seharusnya melakukan manuver proses humanisasi kepada pemerintah dan rakyat karena secara garis vertikal memposisikan dirinya berada di tengah antara pemerintah dan rakyat. Minimnya kesadaran yang dimiliki oleh kaum cendekiawan (katanya) yang membuatnya hanya sekedar pion saja di negara ini. Lagi-lagi proses infiltrasi yang dilakukan oleh intelegent negara adidaya yang membuat idealis dari kaum cendekiawan kita tak di pertahankan dan tak murni lagi.

4. Budaya
Catatan sejarah mengingat kita bahwa konflik yang sering terjadi dan membuat perang saudara di akibatkan karena hilangnya budaya di suatu negara. Seperti misalnya di timur tengah dan wilayah barat kocar-kacir membendung arus globalisasi yang menghantam negaranya.
    
Sedangkan, di negara kita yang kaya akan keberagaman sehingga di persatukan dalam nilai Pancasila untuk menciptakan perdamaian di negara kita. Namun, regenerasi hari ini tak mampu menjaga eksistensi budaya karena tak mengetahui esensi yang terdapat di dalamnya sehingga tercipta stigma negatif bahwa budaya barat dan timur tengah yang harus kita contohi serta di terapkan di negara kita, hal inilah yang membuat penyakit dan mampu terorganisir dengan baik karena hanya segelintir saja yang membendungnya.
    
Jika kita menilitik dari aspek kesejarahan, perlu juga kita ketahui bersama bahwa budaya yang terdapat di negara kita mempunyai peradaban yang sudah maju ketimbang harus berkiblat ke barat dan timjr tengah. Contoh konkritnya adalah Papua dahulu kala sudah menciptakan api untuk di pakai ritual tarian dan mengelilingi api tersebut, nah memasuki abad ke-19 baru kemudian di ciptakan tari-tarian yang di adopsi dari negara kita sehingga adanya lampu untuk menerangi terus kemudian melakukan tariannya.
    
Setelah masa kolonialis hingga sekarang, kita tak tahu lagi budaya kita yang sesungguhnya akibat daripada pencurian ilmu pengetahuan yang terkemuka hilang bagai mitos. Hukum pun berkiblat di negara Belanda yang notabenennya konsep itu di curi dari peninggalan kerajaan kalingga.
    
Perlu merekontruksi pola pikir secara kolektif untuk tetap menggali ilmu pengetahuan murni yang lahir dari budaya kita sendiri agar terhindar dari pemburaman sejarah, sehingga ada upaya untuk memperbaiki jenjang generasi kedepan demi mempertahankan budayanya sendiri serta anak cucu kita terhindar dari setiap propaganda-propaganda intelegent negara adidaya.

5. Spiritualitas
Sejatinya negara kita juga kaya akan spiritualitasnya, namun tanpa kita sadar hal ini membuatnya hilang kepermukaan karena di hantam oleh kefanatikan dari agamanya sendiri sehingga beranggapan dan langsung mentasydid bahwa itu takhayul, bid'ah, khurafat (TBC). Sejarah sudah membuktikan peradaban maju kita karena spiritualitasnya yang sedemikian kuat dengan membentuk mental kemaritiman, yang terjadi memutar balikkan dengan mental agraris.
    
Kita lupa bahwa sejarah yang kita konsumsi sekarang di ruang-ruang publik adalah kebohongan yang di sepakati inbas dari negara kita yang sudah terlalu lama tidur dan tak mampu bangun lagi (+350 tahun). Minimnya kualitas untuk peduli bagi negara kita yang membuat mental-mental masyarakat besifat apatis dan pragmatis.

Kelima variabel tersebut sangat besar perananya untuk memperkokoh dan meciptakan keadilan tanpa sikap diskriminatif terhadap satu kelompok. Perlu bergerak secara edukatif dengan konsep horizontal dan vertikal agar supaya aspek kesejarahan dapat di murnikan kembali.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah kelima variabel tersebut sudah di sadarkan secara ideal atau tidak? Kita harus bergerak secara kolektif untuk memperbaiki tatanan sosial negara ini sehingga tercipta tujuan yang hendak di capai negara ini.

Selayaknya komitmen di bangun berdasarkan asal kemurnian yang di pergunakan untuk kemaslahatan bersama sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan seperti yang tertulis di atas.

Ini hanya sekedar tulisan yang hanya sedikit menghadirkan seni, yang harus terus di berikan kritikan yang membangun dan di berikan solusi untuk pesan yang di sampaikan dapat tersalurkan dengan baik. Bukan semata-mata melakukan politik praktis, tapi untuk politik kemanusiaan sesuai kebutuhan negara ini.

Semoga kita selalu senantiasa terhindar dari kebohongan yang telah di sepakati agar tidak terkontaminasi oleh anak cucu kita, semangat para musafir pergerakan.
(Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq)



Muhammad Rafly Setiawan 
Koordinator Bidang Gerakan dan Jaringan 
PK. PMII IAIN PALOPO.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...