Langsung ke konten utama

Mahasiswa Milenial dan Perubahan Masyarakat.


Tentang mahasiswa milenial, berarti kita membincang manusia-manusia kampus dengan segala modernitas (teknologi mutakhir) dengan segala kompleksitasnya. Imbasnya, perkembangan peradaban manusia era ini, sukar dipisahkan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan juga teknologi. Teknologi sendiri, merupakan sebuah pengembangan terminologi yang berasal dari Barat dan Yunani; yaitu, "technology". Itu merupakan penerapan atau implementasi dari ilmu pengetahuan dan rekayasa untuk tujuan tertentu. Tujuan tertentu ini, antara lain: memecahkan permasalahan (problem solving), untuk menghasilkan suatu produk, dan lain sebagainya. Teknologi juga bisa didefenisikan sebagai penggunaan dan penerapan pengetahuan tentang alat-alat, teknik, metode atau sistem organisasi atau pun produk sebagai hasil akhir.

Di era ini, kemajuan teknologi telah menyentuh berbagi lini kehidupan bagi seluruh umat manusia. Baik skala lokal, regional, apatahlagi nasional. Salah satu diantaranya, adalah pada bidang informasi yang bisa kita kenal dengan teknologi informasi. Teknologi informasi ini, atau istilah 'nginggisnya' ialah "information technology", bisa membantu manusia dalam membuat, menyimpan, mengubah, mengomunikasikan, serta menyebarluaskan segala bentuk interaksi manusia. Baik itu dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan budaya. Teknlogi informasi menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Gambaran itu, bukan hanya pada komputer pribadi, tetapi juga pada tv, hp, peralatan rumah tangga elektronik, dan lain sebagainya.

Hal-hal termaksud diatas, merupakan gambaran betapa teknologi informasi ini memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan kita. Apalagi kita hidup di zaman milenial ini yang setiap hari-harinya kita tidak mengenal batasan ruang dan waktu, maupun usia dan sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap individu, seperti menambah ilmu pengetahuan, mempermudah mengerjakan tugas sehari-hari, memperluas relasi dengan orang lain, memperpanjang usia lewat silaturrahim, baik itu chattingan mau pun telefon hingga bertatap muka serta bisa mendapatkan informasi dengan muda dan praktis.

(Baca juga: Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini).

Kemajuan pada bidang teknologi informasi ini juga yang terjadi di pelosok-pelosok desa. Hampir semua penduduk di bumi ini, sudah  memanfaatkan teknologi informasi ini. Khususnya akses media sosial mengunakan handphone. Mulai dari anak anak, remaja, hingga orang tua sekalipun. Media sosial seperti wa, fb, instragram, dan lain-lain. Khususnya facebook, bukan hal baru di kalangan masyarakat awan. Hampir semua mengunakan facebook. Hal ini, tentunya merupakan suatu ciri yang baik di kalangan masyarakat itu sendiri yang selalu menuntut untuk perubahan dan menyesuaikan tuntutan zaman itu sendiri. Akan tetapi, muncul sebuah pertanyaan kita terhadap pengunaan media sosial seperti facebook itu sendiri, apakah masyarakat sendiri, sudah mampu secara intelektual dalam mengunakan media sosial secara bijak dan sesuai dengan etika yang diajarkan oleh orang tua, guru, bahkan senior-senior kita dalam mengunakan media sosial dengan baik-baik?

Di satu sisi, hanya sebagian orang saja yang paham dengan etika dalam mengunakan facebook misalnya. Kita sering melihat pada media sosial seperti facebook khususnya, kerap dijadikan wadah menunjukkan eksistensinya sebagi media sosial yang dimana, jati diri pada realita hanya konten-konten yang negative yang muncul, saling menghujat, mencaci maki, menjelekkan, menghina sesama orang lain tanpa digunakan media sebagai sarana komunikasi yang bermanfaat bagi orang lain. Kemajuan teknologi, seharusnya memberikan dampak positif bagi masyarakat, itu merupakan idealnya. tapi realnya (?), justru lebih dominan yang mengarah yang negatif.

(Baca juga: Gotong Royong: Warisan yang Meluntur).

Sehingga, dari ulasan di atas, setidaknya ada beberapa dampak negatif dari pada media sosial. Diantaranya adalah:

1. Individu cenderung berprilaku malas untuk bersosialisasi atau berinteraksi secara fisik serta malas membaca buku.

2. Meningkatnya penipuan dan juga kejahatan cyber seperti kejahatan penipuan melalui via telepon selular dengan berbagai modus ekspresi yang bermacam-macam, ada yang mengatasnamakan kepolisian, mengatasnamakan perusahan tertentu dengan berbagai undian berhadiah dan lain-lain.

3. Cyber bulliying seperti hina fisik (body shaming, seksisme, dan lain sebagainya.

4. Semakin maraknya menyebarkan konten dan situ negative yang berbau pornografi dan bahkan dapat mudah diakses di media sosial tersebut.

5. Adanya kecanduan atau tingkat ketergantungan kepada HP, yang berdampak pada turunnya prestasi, malas membaca buku, malas datang kajian serta kurangnya produktivitas untuk bermanfaat bagi orang lain.

6. Terancamnya budaya kita indonesia yang diwarisan oleh nenek moyang kita. Yaitu mental penggerak, suka gotong royong, toleransi, pluralisme, serta menjaga marwah saling bergatungan sesama manusia bukan individualistis, hilangnya canda tawa, sendau gurau didalam lingkungan itu sendiri, berdiskusi sambil ngopi berbumbu rasa dialektika yang manfaat.

Seiring waktu, masuknya teknologi informasi ini di Indonesia, budaya yang kita perkuat sudah hampir pupus hilang sekejap. Kehilangan ekstensi yang kaya nilai sosialnya, karena orang-orang cenderung berpikiran lebih asyik dengan "cyber spance" dengan tujuan ingin eksis di media sosial dan kemudian berdampak pada terciptanya individu yang tertutup, kurang bersosialisasi, dan kurang peka terhadap lingkungan sosial sendiri.

(Baca juga: Gerakan Ekonomi Politik Milenial).

Mengamati realita hidup manusia mineal yang ditandai dengan teknologi informasi yang serba canggih ini, tentunya, saya akan menawarkan beberapa obat penawar bagi kita semua, untuk dijadikan acuan gerak langkah kita, sebagai intelektual dalam meminimalisir dampak negatif itu terhadap kecanduan teknologi bagi kaum mineal. Berikut diantaranya:

1. Dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara memanfaatkan teknologi informasi yang baik dan yang benar, dengan memperhatikan etika dan yang ada. Sehingga, teknologi dapat dijadikan akses jalan kesuksesan dalam bentuk pemasaran dan lain sebagainya.

2. Memanfaatkan lembaga pendidikan sebagai wadah yang mampu menciptakan generasi yang andal, mengedepankan kaderisasi di media sosial. Dalam hal ini, dibutuhkan mata pelajaran yang tidak hanya menjadi mahasiswa yang mengoperasikan alat-alat komputer. Melainkan, dia mampu berpikir kritis serta selektif untuk membangun peradaban bangsa dalam konsep milenial terutama perkembangan literasi media.

3. Mengunakan teknologi informasi sebaik mungkin dengan mengakses situs atau konten yang positif dan mempunyai nilai pendidikan.

4. Tetap menjaga diri agar tidak terpengaruh oleh berbagai penawaran yang ditawarkan oleh situs-situs tertentu tanpa mengetahui manfaatnya dan konsekuensinya.

5. Mengatur waktu pengunaan teknologi agar tidak muncul rasa candu.

6. Tidak terlau ekspos kegiatan seharian kita. karena akan memunculkan kesempatan bagi pihak yang serakah dengan konten kita.

7. Memanfaatkan internet secara efektif sesuai dengan kebutuhan kita. Tetap perlu dibatasi pengunaan teknologi informasi kita, agar tidak menyelakai kepribadian kita, maupun orang lain. Karena pada dasarnya, teknologi informasi sangat penting bagi kehidupan kita dan itu saya mengutip salah satu tokoh yang menyatakan bahwa, "Media sosial itu sebagai alat untuk mematuhi gerak-gerik manusia dalam setiap aktivitas".

Maka, oleh sebab itu, sahabat-sahabat ku, marilah kita memanfaatkan teknologi informasi ini dengan sebaiknya untuk diri anda, kita, kami, dan semuanya.

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...

Credit: Ayyub Sadega.
Palopo-November 14, 2019.

Sumber gambar ilustrasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...