Langsung ke konten utama

GERAKAN EKONOMI POLITIK MILENIAL



Seperti yang kita ketahui bahwa, Negara Indonesia dari tahun 1511 sampai sekarang, tidak terlepas dari gelombang arus yang kuat dari negara asing. Hal itu di karenakan, mentalitas orang Indonesia adalah mental korup dan menjual. 

Nah, inilah api-api kecil yang menyala, sehingga terciptanya suatu konspirasi antara pengusaha dan pemerintah atau pun pemerintah dan Investor (asing). Kemudian asing dengan mudah merampas hak masyarakat untuk mempermudah pembangunan infrastruktur demi percepatan akses impor ekspor untuk kepentingan mereka.

Ironisnya, kaum tua maupun kaum muda, gerakan ekonomi politiknya untuk mengcounter pertumbuhan ekonomi Kapitalis, masih dinilai stagnan dalam gerakan reformis, sementara gerakan reformis yang dibangun ini adalah gerakan yang non konfliktual atau bisa dikatakan moderat. 

Moderat tidak mempunyai posisi politik yang cukup pasti dan berarti, jadi gerakan reformis ini bisa dikatakan sebagai gerakan yang aman-aman saja. Nah, seharusnya kaum-kaum tua atau pun kaum muda selalu dinamis dalam gerakan ekonomi politiknya dan merubah gerakan ekonomi politiknya itu yang dulunya reformis berubah menjadi gerakan revolusioner. 

Gerakan revolusioner yang di maksud adalah gerakan ekonomi politik yang konfliktual yang menggunakan prinsip keadilan.

Saya rasa, gerakan ekonomi politik revolusioner sangat ngonteks hari ini untuk melawan pertumbuhan ekonomi kapitalisme.

Kita pahami bersama bahwa, negara Indonesia adalah negara maritim. Negara yang mempunyai kekayaan akan pulau. Mungkin kebijakan selanjutnya yang harus ditempuh oleh para petinggi negara adalah, lebih fokus membangun infrastruktur kemaritiman untuk mempercepat impor ekspor lokal, regional, nasional maupun global sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia maju pesat. Ketika negara ini mau di akui sebagai negara maju maka liriklah kekayaan pulaunya.

Jadi, dalam gerakan yang dibangun dan diterapkan nantinya, cukup prinsip keadilan saja yang jadi sasaran utama. Untuk sementara, hilangkan dulu prinsip moderatnya. Sehingga tokoh-tokoh tua dan tokoh-tokoh muda tidak lagi dalam posisi nyaman demi melakukan perubahan yang sebenarnya. 

Jangan lupa juga, dalam membangun gerakan harus mempunyai paradigma yang matang. Nah, paradigma lahir dari hasil bacaan buku, kajian-kajian, diskusi-diskusi, dan lain-lain sebagainya. Jadi harus giat belajarnya. Bagi mahasiswa-mahasiswa yang berorganisasi harus semangat berproses, jangan sampai prosesnya ada yang tertinggal karena takutnya akan ambigu paradigmanya sehingga gerakan yang terbangun akan mengalami disorientasi.

Credit by : Irfan Pallawa
Ketua 1 Kaderisasi dan Keilmuan 
PK. PMII IAIN PALOPO 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...