Langsung ke konten utama

Situasi Sosial Dan Keagamaan

Sejak abad ke-20, pendidikan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dinegeri islam, tampak tidak diikat dengan ikatan shahih menurut islam. Tetapi justru telah menjadi sekular, yang berpijak pada dikotomi antara agama dengan kehidupan. Seorang misionaris yahudi, yang bernama Den Loab, telah membuat model kurikulum pendidikan atau paradigma yang akan dipergunakan dibanyak negeri islam. 

Dimana pada wilayah praksisnya, yang terjadi ialah ketika lulus, para pelajar atau mahasiswa lebih banyak tahu tentang Napoleon, abad kebangkitan eropa dan perang Amerika dibanding mengetahui tentang sistem islam, dan sejarah kaum Muslimin di Negera mereka sendiri; sebagai contoh, Mesir. Sebuah negeri yang sebenarnya merupakan negara super power didunia sejak berabad-abad lamanya.

Dalam konteks ini, tiba sudah masa dimana Islam tidak lagi dipandang hanya sebatas alternatif. Tentu berangkat dari hal tadi, bahkan yang lebih ironis, islam telah disejajarkan dengan standar-standar lain, yang dinilai dengan nilai-nilai yang tidak proporsional dan propesional. Dimana islam tidak lagi dibangun berdasarkan prinsip demokrasi. Pada hakikatnya, islam itu abadi karena ia dinamis, dan islam itu baik karena ia mengajarkan pemikiran yang bermacam-macam. 

Nah, dalam hal ini dapat ditegaskan bahwa, kondisi kaum muslimin pada abad ke-20 Masehi, bahkan selanjutnya, telah berjalan menuju kejatuhan dan juga kemunduran dalam berpikir. Sementara dibelahan Barat sana, telah menemukan kebangkitan dan kemajuan revolusi industrinya yang begitu pesat. Hal inilah yang kemudian memperkuat serangan negara-negara barat ke negeri kaum muslimin. Dimana pada saat itu, Barat telah menduduki dan menguasai wilayah per wilayah dari kaum muslimin.

Sudah semestinya, dalam kondisi seperti itu kaum muslimin seharusnya kembali pada khazanah dasar mereka dan peradaban mereka sendiri. Dengan pijakan itulah, kaum muslimin mampu menyandarkan pandangannya yang shahih, yang bisa menunjukkan mereka agar terlepas dari kondisi sebelumnya. Dimana pada saat itu, Islam menjadi umat islam yang merosot taraf berfikirnya, baik dari segi politik maupun sosial. Dengan hal itu, sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi sekarang ini, harus mampu mengikat pada ikatan yang shahih dalam nuansa islam.

Dalam permasalahan itu, kita sebagai umat muslim memang harus kembali pada Al-Qur'an dan Al-Hadits, karena ia merupakan kitab Allah dan tuntunan dari Rasul-Nya, yang didalamnya terdapat kemuliaan didunia dan di akhirat. Tentu, tak lepas dari khazanah keilmuan islam yang telah diwariskan oleh para ulama dan cendekiawan islam sebelumnya untuk upaya lebih memahami isi kandungan Al-Qur'an dan Al-Hadits itu sendiri.

Nah masalahnya, sekarang ini hampir sebagian dari kita telah meninggalkan kitab-kitab tafsir para ulama atau cendekiawan islam yang banyak jumlahnya. Seharusnya, untuk memahami kitab Allah, sebenarnya sudah bisa kita penuhi, namun nyatanya para kaum muslimin masih menemukan banyak kesulitan dalam memahami tafsir tersebut. Jika demikian masalahnya, maka alangkah lebih baiknya bila kita lebih banyak lagi belajar pada para Ulama yang lebih memahami hal ini yang telah melakukan pendalaman terhadap Al-Qur'an, Al-Hadits, dan kitab-kitab klasik islam lainnya.

Credit by : Sahabat(i) Ilasary

Ref : Perempuan Dalam Pasungan (Dr. Nurjannah Ismail).

Sumber gambar ilustrasi :

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

Perempuan sebagai Hamba Allah Swt

  Perempuan sebagai Hamba Allah Swt penulis: Nur Azima “cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia” _KH. Husein Muhammad_ Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam  melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan Sejarah  yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.  Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak p...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...