Langsung ke konten utama

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?



Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama. 

Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir. 

Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poros bawah dan sama sekali tak memiliki jurus (bukan jurus superhero) yang boleh dikata hebat jika benar-benar sadar akan pentingnya apa sebenarnya edukasi (Pendidikan) itu pada hakikatnya. 

Itulah sebabnya mengapa kita harus betul-betul berani menerima tantangan di zaman sekarang ini yang tengah kita rasakan bersama, karena itu tadi. Kaum-kaum yang KATANYA ingin bangkit dari rasa sadar yang masih belum ter-bangun-kan, di sebabkan oleh daya manusia dalam tingkat Hegemoni Liberalistis yang sangat tinggi dan tak ada manfaat yang dapat digunakan sebagai  landasan berpijak dalam kehidupan sehari-hari, melainkan hanya sifat di luar ambang batas pada tiap-tiap pribadi lebih condong kepada nilai-nilai yang bentuknya kebarat-baratan dan sama sekali tidak melirik pada tataran budaya-budaya negeri sendiri (kearifan lokal), yang telah di anggapnya sebagai hal yang jadul/kampungan. 

Budaya barat tak bersalah jika kita pandai-pandai memilih mana yang baik dan mana pula yang buruk. Hanya saja, setiap mata (manusia) yang melihat hasil ciptaan atas Ciptaan-Nya, tak lagi mampu menyaring dari apa yang ia lihat, dengar, lalu di telan begitu saja (bagaikan saripati madu yang menolak lebah untuk melepaskannya).

Jadi, perihal seperti ini yang terdapat dalam mindset kita harus di daur ulang sedemikian rupa agar keselarasan dalam hal edukasi dan tekhnologi tetap berada di posisi yang setara dan merata, tanpa ada sama sekali terkikis oleh ingin-ingin yang tak di kehendaki.

Mulailah dari sekarang untuk membangun relasi antara Budaya Lokal dan Budaya Internasional dengan penuh semangat literatur, dalam artian menerima budaya baru yang baik dan mempertahankan budaya lama yang baik pula.

Makassar, 27 Feb 2019

Credit by : Muhammad Algis Mahmuddin

Sumber gambar ilustrasi : https://www.google.com/search?q=pendidikan%

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...