Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.
Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.
Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poros bawah dan sama sekali tak memiliki jurus (bukan jurus superhero) yang boleh dikata hebat jika benar-benar sadar akan pentingnya apa sebenarnya edukasi (Pendidikan) itu pada hakikatnya.
Itulah sebabnya mengapa kita harus betul-betul berani menerima tantangan di zaman sekarang ini yang tengah kita rasakan bersama, karena itu tadi. Kaum-kaum yang KATANYA ingin bangkit dari rasa sadar yang masih belum ter-bangun-kan, di sebabkan oleh daya manusia dalam tingkat Hegemoni Liberalistis yang sangat tinggi dan tak ada manfaat yang dapat digunakan sebagai landasan berpijak dalam kehidupan sehari-hari, melainkan hanya sifat di luar ambang batas pada tiap-tiap pribadi lebih condong kepada nilai-nilai yang bentuknya kebarat-baratan dan sama sekali tidak melirik pada tataran budaya-budaya negeri sendiri (kearifan lokal), yang telah di anggapnya sebagai hal yang jadul/kampungan.
Budaya barat tak bersalah jika kita pandai-pandai memilih mana yang baik dan mana pula yang buruk. Hanya saja, setiap mata (manusia) yang melihat hasil ciptaan atas Ciptaan-Nya, tak lagi mampu menyaring dari apa yang ia lihat, dengar, lalu di telan begitu saja (bagaikan saripati madu yang menolak lebah untuk melepaskannya).
Jadi, perihal seperti ini yang terdapat dalam mindset kita harus di daur ulang sedemikian rupa agar keselarasan dalam hal edukasi dan tekhnologi tetap berada di posisi yang setara dan merata, tanpa ada sama sekali terkikis oleh ingin-ingin yang tak di kehendaki.
Mulailah dari sekarang untuk membangun relasi antara Budaya Lokal dan Budaya Internasional dengan penuh semangat literatur, dalam artian menerima budaya baru yang baik dan mempertahankan budaya lama yang baik pula.
Makassar, 27 Feb 2019
Credit by : Muhammad Algis Mahmuddin
Sumber gambar ilustrasi : https://www.google.com/search?q=pendidikan%

Komentar
Posting Komentar