Langsung ke konten utama

JEJAK KECIL


Jejak Langkah seorang anak Remaja mencapai sebuah tujuan yang di cita-citakan. Perkenalkan nama saya pati perempuanyang mempunyai mimpi dan sebuah cita-cita yang sangat tinggi. Sejak kecil saya sangat tertarik dengan cerita sejarah.
Karena Kakek dan Nenek saya sejak kecil sudah menceritakan dan mengenalkan tradisi,adat dan budaya dari para pedahulu di kampung halaman saya. Saling menghormati satu sama lain adalah hal yang tak lazim kita temui di lingkungan saya terlebih lagi terhadap orang yang jauh lebih tua. Saya berasal dari kecamatan malangke, kabupaten Luwu utara, tepatnya Desa Pattimang.

Desa ini mempunyai adat istiadat yang sangat kental, serta memiliki ragam budaya, seni, dan berbagai suku. Kendati demikian itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya yang merupakan masyarakat dari daerah tersebut. Desa Pattimang merupakan Kerajaan Luwu pertama yang menerima agama Islam.

Ini terbukti dengan adanya makam raja Luwu yang ada di pattimang bernama datuk Pattimang. Menurut sejarah, pada saat itu beliau datang ke kerajaan Luwu bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu. Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara membagi wilayah syiar berdasarkan keahlian yang mereka miliki dan kondisi serta budaya masyarakat Sulawesi Selatan atau Bugis Makassar saat itu.

Datuk Patimang yang ahli tentang tauhid melakukan syiar Islam di Kerajaan Luwu, sedangkan Datuk ri Bandang yang ahli fikih di Kerajaan Gowa dan Tallo sementara Datuk ri Tiro yang ahli tasawuf di daerah Tiro dan Bulukumba. Pada awalnya Datuk Patimang dan Datuk ri Bandang melaksanakan syiar Islam di wilayah Kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan itu sebagai kerajaan pertama di Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara yang menganut agama Islam.

Seperti umumnya budaya dan tradisi masyarakat nusantara pada masa itu, masyarakat Luwu juga masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme yang banyak diwarnai hal-hal mistik dan menyembah dewa-dewa. Namun dengan pendekatan dan metode yang sesuai, syiar Islam yang dilakukan Datuk Patimang dan Datuk ri Bandang dapat diterima dan akhirnya setelah melalui dialog yang panjang antara sang ulama dan raja tentang segala aspek agama baru yang dibawa itu, raja Luwu (Datu Luwu) yang bernama Datu’ La Pattiware Daeng Parabung pada 4-5 Februari 1605, beserta seluruh pejabat istananya masuk Islam.

Bukan hanya itu, agama Islam-pun dijadikan agama kerajaan dan hukum-hukum yang ada dalam Islam-pun dijadikan sumber hukum bagi kerajaan. Setelah datangnya Datuk Patimang dan berdialog lama (berbulan bulan) dengan petta Patimang atau Raja Luwu ke 15, sang Raja belum bisa mengambil keputusan tentang ajakan Datuk Patimang untuk menganut agama Islam. Alasannya adalah masih ada satu orang lagi yang Sang Raja tunggu Persetujuannya. Akhirnya sang Raja (yang tinggal di Patimang) memanggil anaknya yang kala itu tinggal di Malangke (jaraknya sekitar 7 kilometer).

Alkisah, petta Malangke datang menemui ayahnya dan Datuk Patimang. Dari hasil pembicaraan kala itu, petta Malangke yang merupakan orang berani, akhirnya terlibat adu kesaktian bersama Datuk Patimang. Hingga akhirnya petta Malangke mengakui ajaran agama Islam yang di bawah oleh Datuk Patimang, dan petta Malangke beserta petta Patimang (Ayahnya) masuk Islam. Setelah Raja Luwu dan anaknya beserta seluruh keluarganya dan pejabat istana masuk Islam, Datuk Patimang tetap tinggal di Kerajaan Luwu dan meneruskan syiar Islamke wilayah wilayah lain, hingga akhirnya Datuk Patimang wafat dan dimakamkan di dekat andi pattiware raja luwu e-15 di Desa Patimang, Luwu, Sulawesi Selatan.

Inilah yang menjadi ciri khas, daerah ini mempunyai banyak sejarah dan warisan dari leluhur terdahulu. Nah setiap tahun masyarakat di daerah saya berbondong-bondong melakukan tradisi adat,yang disebut “bola’ Gawe” atau biasa juga disebut “ Ma’gawei samampa” tak hanya itu setiap tahun di tempat ini masyarakat sering melakukan tradisi ketika ke makam datok sulaiman.

Inilah yang membuat saya tertarik untuk menceritakan kisah saya dengan kampung halaman saya. Banyak nilai-nilai yang terkandung dari setiap ceritanya, histrori sejarah adat dan tradisi membuat kampung halaman saya ini semakin sangat istimewah bagi saya, saya berharap anak-anak mudah seperti saya nantinya dapat menjaga cagar budaya dan nilai-nilai budaya ini agar tetap terjaga dan di rawat agar pewaris kedepannya dapat melihat dan dapat mempunyai kesadaran agar menjaga cagar budaya ini, oh iya mengapa saya mengakat judul “Jejak Kecil” karna banyak remaja yang ketika sudah beranjak remaja mereka mempunyai banyak keinginan tahuan maka dari itu jejak kecil ini sebagai makna bahwa setiap keingin tahuan setiap remaja sangat besar maka nilai-nilai cagar budaya ini lah yang harus kita ketahui agar kita dapat mewariskan kepada anak cucu kedepannya sehingga mereka juga mengetahui nilai historis yang terkandung dalam suatu daerah.


Penulis: Fatigama
Editor:Sartika Kasri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...