Karena Kakek dan Nenek saya sejak kecil sudah menceritakan dan mengenalkan tradisi,adat dan budaya dari para pedahulu di kampung halaman saya. Saling menghormati satu sama lain adalah hal yang tak lazim kita temui di lingkungan saya terlebih lagi terhadap orang yang jauh lebih tua.
Saya berasal dari kecamatan malangke, kabupaten Luwu utara, tepatnya Desa Pattimang.
Desa ini mempunyai adat istiadat yang sangat kental, serta memiliki ragam budaya, seni, dan berbagai suku. Kendati demikian itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya yang merupakan masyarakat dari daerah tersebut. Desa Pattimang merupakan Kerajaan Luwu pertama yang menerima agama Islam.
Ini terbukti dengan adanya makam raja Luwu yang ada di pattimang bernama datuk Pattimang. Menurut sejarah, pada saat itu beliau datang ke kerajaan Luwu bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu. Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara membagi wilayah syiar berdasarkan keahlian yang mereka miliki dan kondisi serta budaya masyarakat Sulawesi Selatan atau Bugis Makassar saat itu.
Datuk Patimang yang ahli tentang tauhid melakukan syiar Islam di Kerajaan Luwu, sedangkan Datuk ri Bandang yang ahli fikih di Kerajaan Gowa dan Tallo sementara Datuk ri Tiro yang ahli tasawuf di daerah Tiro dan Bulukumba. Pada awalnya Datuk Patimang dan Datuk ri Bandang melaksanakan syiar Islam di wilayah Kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan itu sebagai kerajaan pertama di Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara yang menganut agama Islam.
Seperti umumnya budaya dan tradisi masyarakat nusantara pada masa itu, masyarakat Luwu juga masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme yang banyak diwarnai hal-hal mistik dan menyembah dewa-dewa. Namun dengan pendekatan dan metode yang sesuai, syiar Islam yang dilakukan Datuk Patimang dan Datuk ri Bandang dapat diterima dan akhirnya setelah melalui dialog yang panjang antara sang ulama dan raja tentang segala aspek agama baru yang dibawa itu, raja Luwu (Datu Luwu) yang bernama Datu’ La Pattiware Daeng Parabung pada 4-5 Februari 1605, beserta seluruh pejabat istananya masuk Islam.
Bukan hanya itu, agama Islam-pun dijadikan agama kerajaan dan hukum-hukum yang ada dalam Islam-pun dijadikan sumber hukum bagi kerajaan.
Setelah datangnya Datuk Patimang dan berdialog lama (berbulan bulan) dengan petta Patimang atau Raja Luwu ke 15, sang Raja belum bisa mengambil keputusan tentang ajakan Datuk Patimang untuk menganut agama Islam. Alasannya adalah masih ada satu orang lagi yang Sang Raja tunggu Persetujuannya. Akhirnya sang Raja (yang tinggal di Patimang) memanggil anaknya yang kala itu tinggal di Malangke (jaraknya sekitar 7 kilometer).
Alkisah, petta Malangke datang menemui ayahnya dan Datuk Patimang. Dari hasil pembicaraan kala itu, petta Malangke yang merupakan orang berani, akhirnya terlibat adu kesaktian bersama Datuk Patimang. Hingga akhirnya petta Malangke mengakui ajaran agama Islam yang di bawah oleh Datuk Patimang, dan petta Malangke beserta petta Patimang (Ayahnya) masuk Islam.
Setelah Raja Luwu dan anaknya beserta seluruh keluarganya dan pejabat istana masuk Islam, Datuk Patimang tetap tinggal di Kerajaan Luwu dan meneruskan syiar Islamke wilayah wilayah lain, hingga akhirnya Datuk Patimang wafat dan dimakamkan di dekat andi pattiware raja luwu e-15 di Desa Patimang, Luwu, Sulawesi Selatan.
Inilah yang menjadi ciri khas, daerah ini mempunyai banyak sejarah dan warisan dari leluhur terdahulu.
Nah setiap tahun masyarakat di daerah saya berbondong-bondong melakukan tradisi adat,yang disebut “bola’ Gawe” atau biasa juga disebut “ Ma’gawei samampa” tak hanya itu setiap tahun di tempat ini masyarakat sering melakukan tradisi ketika ke makam datok sulaiman.
Inilah yang membuat saya tertarik untuk menceritakan kisah saya dengan kampung halaman saya. Banyak nilai-nilai yang terkandung dari setiap ceritanya, histrori sejarah adat dan tradisi membuat kampung halaman saya ini semakin sangat istimewah bagi saya, saya berharap anak-anak mudah seperti saya nantinya dapat menjaga cagar budaya dan nilai-nilai budaya ini agar tetap terjaga dan di rawat agar pewaris kedepannya dapat melihat dan dapat mempunyai kesadaran agar menjaga cagar budaya ini, oh iya mengapa saya mengakat judul “Jejak Kecil” karna banyak remaja yang ketika sudah beranjak remaja mereka mempunyai banyak keinginan tahuan maka dari itu jejak kecil ini sebagai makna bahwa setiap keingin tahuan setiap remaja sangat besar maka nilai-nilai cagar budaya ini lah yang harus kita ketahui agar kita dapat mewariskan kepada anak cucu kedepannya sehingga mereka juga mengetahui nilai historis yang terkandung dalam suatu daerah.
Penulis: Fatigama
Editor:Sartika Kasri

Komentar
Posting Komentar