Langsung ke konten utama

PENCEGAHAN PENGGUNAAN NARKOBA BAGI PEMUDA

PENCEGAHAN PENGGUNAAN NARKOBA BAGI PEMUDA


Muhammad Rafly Setiawan

Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Palopo


Penyalahgunaan zat adiktif seperti Narkoba merupakan fenomena yang amat meresahkan bagi seluruh elemen masyarakat. Tanpa terkecuali kalangan muda yang mayoritas menggunakan barang haram tersebut. Dampak buruk bagi pengguna narkoba adalah merusak kesehatan fisik seperti menurunnya berat badan secara drastis, gangguan psikoligis seperti kerap berhalusinasi. Bahkan dapat merenggut nyawa bagi penggunanya.

Dampak lain turut dialami bagi pecandu narkoba di lingkungan sosial dan masyarakat, seperti diberi pelabelan sampah masyarakat, cenderung tidak sehat secara fisik, seringkali malas dan menghabiskan waktunya dengan sia-sia, diasingkan oleh masyarakat akibat kerap melakukan tindak kriminal atas kecanduan narkoba. Oleh sebab itu, menimbulkan berbagai keresahan di masyarakat sehingga dianggap tidak berguna bagi suatu komunitas kemasyarakatan.

Pengaruh yang muncul terhadap calon pengguna narkoba disebabkan oleh faktor keluarga, permasalahan pribadi, lingkungan, lingkaran pertemanan (toxic relationship), korban bullying, dan gangguan psikis seperti rasa penasaran terhadap zat adiktif tersebut sehingga memunculkan hasrat untuk menggunakan. Bahkan setelah itu, akan menjadi kebiasaan dalam mengonsumsi barang haram tersebut.

Dilansir dari situs kominfo.jatimprov.go.id menerangkan bahwa Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sedang mencari solusi terkait penyalahgunaan narkoba pada kalangan pemuda. Sekitar 3,4 juta atau 57 persen kalangan pemuda sebagai pengguna barang haram tersebut. Artinya, dapat disimpulkan bahwa negara Indonesia rentan terhadap narkoba dan kemungkinan terburuknya adalah Indonesia dalam kurun waktu dua dekade mendatang krisis pemuda yang tercerahkan.

Ini menandakan perlu adanya upaya preventif dan rehabilitasi untuk menyelamatkan regenerasi penerus bangsa Indonesia agar terhindar dari jurang kehancuran di masa depan. Karena penyimpangan dan perilaku dalam mengonsumsi narkoba merupakan malapetaka bagi kehancuran suatu negara.

Penulis mencoba menawarkan beberapa upaya praktis yang dapat dilakukan secara cepat dan berkelanjutan. Pertama pencegahan secara primer. Kedua pencegahan secara sekunder. Dan ketiga pencegahan alternatif (tersier). Tentunya, seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam beberapa upaya preventif tersebut.

Pencegahan secara primer dapat dilakukan kepada orang yang belum mengenal maupun belum menyentuh narkoba. Seperti mengadakan sosialisasi di berbagai tempat terkait bahaya penggunaan narkoba, memberikan edukasi di berbagai tingkat pendidikan tentang pengetahuan narkoba dan hukumnya terhadap penggunanya, dan menebar informasi di berbagai platform media sosial, baik berupa tulisan, gambar maupun video tentang betapa bahayanya narkoba dan dampak yang ditimbulkan bagi penggunanya.

Kemudian, pencegahan sekunder dilakukan kepada orang yang sedang mengonsumsi narkoba. Seperti proses penyadaran akan bahaya zat adiktif tersebut, konseling, bimbingan sosial yang intensif, pendidikan dan motivasi hidup agar punya tekad bulat untuk meninggalkan narkoba, rehabilitasi, dan penanaman nilai keagamaan dan kebudayaan.

Selanjutnya, pencegahan alternatif (tersier) dilakukan kepada orang yang pernah (eks) menggunakan narkoba. Seperti menciptakan lingkungan kondusif yang kondusif agar tidak terjerat kembali sebagai pecandu narkoba, membuka ruang interaksi yang inklusif, implementasi nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan setiap hari, dan konseling serta bimbingan sosial kepada eks pengguna narkoba.

Selain itu, ada beberapa hal sederhana yang perlu dipahami sebagai orang tua. Pertama adalah memiliki pengetahuan tentang narkoba agar keturunannya dapat menghindarinya. Kedua melakukan kontrol kepada anak untuk menghindarkannya dari pengaruh negatif. Ketiga dapat menjadi sahabat bagi anaknya untuk menceritakan segala isi hatinya, pendapat dan permasalahan yang dihadapinya. Dan terakhir adalah mengimpelementasikan secara intensif nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan agar dapat dijadikan teladan anaknya.

Betapa besar dampak yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba, khususnya bagi pemuda yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin di Indonesia. Maka sudah seharusnya kita turut andil dalam memberantas zat berbahaya tersebut untuk menghindarkan negeri ini dari kehancuran besar yang kemungkinan besar akan terjadi.

Sudah saatnya partisipasi aktif dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat patut diaktualisasikan. Bahwa kemudian, kita akan mendapatkan kesadaran dan bertanggung jawab terhadap masa depan negara Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...