WARNA WARNI PAYUNG PENJUAL SOMAI
Payung Tumpuan Ekonomi Keluarga
Edito: JM
Hampir setiap hari tidak terlewatkan disepanjang jalur sebelah utara jalan lingkar kota Palopo, tepatnya sebelum masuk di Pelabuhan Tanjung Ringgit, payung warna-warni menghiasi pinggiran laut, selain itu mata akan disapa kepulan asap, sumbernya bukan dari rokok pengunjung, tetapi asap bakaran jagung dan somai yang menjadi menu khas dari pedagang kaki lima ditempat ini.
Warna-warni yang riang tentunya menarik perhatian para pengendara yang melewati jalur tersebut, terlebih godaan aroma jajanan yang disajikan. Jika kita melihat pengunjung memang dominan anak muda, tetapi tidak menutup kemungkinan setiap kalangan datang silih berganti ditempat ini, selain isi perut bersama keluarga, sahabat, atau kekasih hati juga mendapatkan bonus menikmati pemandangan laut yang luas.
Sebagai mahasiswa IAIN Palopo tentunya tempat ini sangat akrab, sudah acap kali berkunjung ketempat dengan tujuan sekadar melepas penat setelah belajar seharian dan mengisi perut yang keroncongan, sesekali menjadikannya tempat berdiskusi dengan sahabat-sahabat aktivis pergerakan. Pada 27 Juli 2021, kemarin kami berkunjung dengan suasana yang berbeda. Melirik kondisi yang jika melihat sekilas begitu banyak kebahagian dari berbagai pasang mata yang saling bersua ditengah keramaian yang tidak seramai sebelum Future Shock pandemic Covid-19 ini, tetapi jika kita berjalan jauh kedalam maka akan menemukan beberapa hal yang membuat kita sedikit lebihnya punya tujuan lain selain makan ditempat ini, yaitu berbagi.
Untuk melihat warna lain disisi jalan itu penulis dan beberapa sahabat bercengkrama dengan 15 pekedai, waktu itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari 2-3 orang, pada saat itu penulis bersama seorang sahabat bercengkrama langsung dengan 4 dari 15 pekedai. Setiap pekedai punya cerita tersendiri.
Pertama, ia bukan pemilik asli kedai tetapi dia adalah orang yang dipercayakan untuk bekerja sebagai penjaga kedai. Baru saja memulai pekerjaannya dua minggu terakhir, setelah bercerai dengan suaminya dengan penghasilan Rp. 150.000/minggu. Jenjang pendidikan beliau yang sampai tamatan Sekolah Dasar, pekedai adalah sebagai alternatif untuk berpenghasilan, meski tidak menentu beliau menggunakannya untuk kehidupan sehari-hari bersama anaknya penyandang disabilitas tunawicara yang semenjak pandemi tidak lagi memperoleh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) .
Pekedai Kedua, Berjualan setahun terakhir untuk menambah finansial dan membantu meringankan beban ekonomi keluarganya, suaminya bekerja sebagai supir mobil antar kota menceritakan kehidupan sederhana dan tentang salah satu diantara enam orang anak yang seharusnya menempu pendidikan Sekolah Dasar memilih untuk berhenti dan akhirnya putus sekolah karena memiliki tubuh besar jauh berbeda dengan teman-teman kelasnya menjadikan ia objek bulian teman kelas. Penghasilan ibu ini kian menurun setelah pandemi covid-19 dari kisasran Rp. 200.000 – Rp 300.000/ hari menjadi tidak kurang Rp 100.00/hari dan tidak lebih dari Rp 200.000/hari ditambah hasil nyopir suami, menjadi tumpuan ekonomi keluarga.
Pekedai ketiga, secara penghasilan tidak jauh beda dengan pekedai kedua dan jenjang pendidikan tidak berbeda dengan pekedai pertama, yah hanya saja tepatnya beliau tidak tamat Sekolah Dasar. Untuk pekedai ketiga yang masih muda dan telah menikah ini, berhasil menyekolahkan dua orang puteranya sampai kejenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial. Cukup memuaskan, meski puteranya yang ia dorong untuk lanjut ke perguruan tinggi lebih memilih bekerja dan menjadi penjaga warkop dan ini menjadi keresahan tersendiri bagi ibu ini.
Terakhir dari pekedai keempat, secara penghasilan tidak jauh berbeda dengan pekedai sebelumnya hanya saja lebih unggul tipis. Beliau juga hanya sampai pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan sepertinya berhasil mengkader puterinya. Kondisi pandemi Ketika pendidikan formal harus menggunakan sistem online yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sedangkan keluarga tidak mampu untuk memfasilitasi kebutuhan maksimal dalam pembelajaran jarak jauh ini. saat ini puterinya mengalami putus pendidikan formal Sekolah Dasar (SD).
Dari hasil cengkrama dengan keempat pekedai ada beberapa hal yang mestinya menjadi catatan besar bahwa Future Shock (Kejutan Masa Depan) menjadi tekanan tersendiri bagi para pedagang disepanjang jalan lingkar dan tidak bisa dipungkiri bahwa penghasilan utama pedagang didominasi oleh pemuda yang nota benenya adalah mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan, khususnya di IAIN Palopo.
Sejak ditutupnya perguruan tinggi untuk tatap muka tentunya berdampak juga bagi pedagang jalan lingkar. Menelitik lebih jauh keterbelakangan pendidikan turut menjadi problema nyata yang membawa masyarakat ke tahap ekonomi rendah, dilain sisi munculnya ketidakpercayaan terhadap pendidikan formal mengakibatkan banyak diantara mereka putus sekolah dan lebih memilih untuk bekerja, termasuk beberapa anak dari pekedai diatas. Selain itu, tidak lupa fenomena bulliying bagi anak-anak, dan pelayanan pendidikan bagi penyandang disabilitas masih perlu adanya perhatian ekstra dan menjadi tugas bersama setiap elemen masyarakat terutama pemerintah Kota.
Catatan dari kami :
Afadal Passambo, Rafika, Alamsaputra

MantaPMII
BalasHapus