Langsung ke konten utama

Standar Kecantikan Ada Ditangan Netizen

 


 STANDAR KECANTIKAN ADA DITANGAN NETIZEN

Penulis: sahabatwati Anisa Lehing
Editor: J.M

Ada yang tau apa itu cantik?

Bagaimana kita  mendefinisikan wajah cantik itu sendiri?

Hm rasanya, tidak ada yang mampu untuk mendefinisikan standar cantik secara gamblang. Mengapa?

Karena definisi cantik tergantung pada perspektif seseorang yang kian berganti seiring berjalannya waktu.

Diera sekarang ini teknologi yang semakin  canggih membuat dunia kecantikan dan estetika ikut terseret arus transformasi yang dikenal dengan istilah (beuty 4.0) produk kecantikan merajalela dipasarkan dimana-mana sedangkan industri 4.0 ditandai dengan munculnya smartphone, superkomputer dan robot pintar yang sangat memudahkan kita bekerja saat ini, maka lain halnya dengan era kecantikan yang justru dipenuhi dilema berkepanjangan.

Konsep ini merupakan paradigma atau cara melihat standar kecantikan dari sudut pandang sosial terutama netizen sampai hari ini, standar kecantikan seolah ikut ditentukan perkembangan zaman itu tidak dinaffikan apalagi bagi kaum hawa dan cemohan yang ada di media sosial atau komentar dari netizen baik diiInstagram, facebook, dan twitter. Yah.. beginilah kondisi ketika opini publik menjadi demikian sangat penting.

Eksistensi menjadi tujuan utama seseorang mempercantik diri apalagi adanya dunia digital semua ingin eksis dengan selfi untuk mendapatkan pujian dan apresiasi dari orang lain. Perkembangan digital membuat orang yang ingin memamerkan kecantikan mereka dimedia sosial demi mendapatkan likes dan komentar yang baik.

Lihat saja sudah berapa banyak orang yang rela operasi plastik agar dapat memiliki wajah cantik sebab produk make up kian berganti dari harga standar sampai puluhan juta untuk mempercantik tubuh  karena jika ada produk baru masyarakat seolah-olah langsung terhegemoni tanpa memikirkan berapa biaya yang dikeluarkan.

Alhasil, dokter kini tidak lagi berpegangan pada golden ratio atau kecantikan yang diukur secara profesional. Tapi, kini dokter juga harus mempertimbangkan pendapat dari pasien, dan tentunya baik dari netizen, hingga kecantikan versi netizen yang meliputi kecantikan sempurna, wajah berbentuk yang terpengaruh industri Korea Selatan cara yang instan dan hasil yang natural dan wajah glowing semua diimpikan bukan hanya perempuan kalangan laki-laki juga ada.

Yah, beginilah media sosial standar yang dibuat netizen berpotensi membuat orang tak pernah puas Pasalnya komentar netizen tidak pernah berhenti menghujat dan selalu melihat kelemahan seseorang hal ini mempengaruhi kondisi ini semakin rumit ketika faktanya setiap orang punya kecenderungan untuk membandingkan diri dengan melihat keadaan sekitar sebagai standar untuk dirinya, tak heran jika orang berbondong-bondong membandingkan dirinya dengan apa yang ada di media sosial.

Belenggu kecantikan media sosial versi netizen inilah yang membuat dilema bahkan akan tertekan dan frustasi akibat komentar netizen yang di luar batas kewajaran. Dalam hal ini,  gangguan dismorfik tubuh bukan sekedar rasa tidak aman atau kurangnya kepercayaan diri lebih dari itu,  gangguan pada standar kecantikan juga berunjung pada upaya keras untuk menyembunyikan ketidak mampuan yang sesungguhnya tidak kita kenali.

Maka dari itu, konsep ini ada karena kurangnya pemahaman dan penghayatan tentang diri sendiri intinya ketika pemahaman sudah bijak mengambil keputusan mana yang baik dan buruk  kita tidak akan mudah terpengaruh standar kecantikan yang ada sebab Beauty bukan hanya urusan kecantikan yang lebih sempurna tanpa mengenai gambaran nyata tertutup topeng bedak tepal (skincare).

Kenali dirimu terlebih dahulu baru mengenali orang lain.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...