Ada yang tau apa itu cantik?
Bagaimana kita mendefinisikan wajah cantik itu sendiri?
Hm rasanya, tidak ada yang mampu
untuk mendefinisikan standar cantik secara gamblang. Mengapa?
Karena definisi cantik tergantung
pada perspektif seseorang yang kian berganti seiring berjalannya waktu.
Diera sekarang ini teknologi yang
semakin canggih membuat dunia kecantikan
dan estetika ikut terseret arus transformasi yang dikenal dengan istilah (beuty
4.0) produk kecantikan merajalela dipasarkan dimana-mana sedangkan industri 4.0
ditandai dengan munculnya smartphone, superkomputer dan robot pintar yang
sangat memudahkan kita bekerja saat ini, maka lain halnya dengan era kecantikan
yang justru dipenuhi dilema berkepanjangan.
Konsep ini merupakan paradigma
atau cara melihat standar kecantikan dari sudut pandang sosial terutama netizen
sampai hari ini, standar kecantikan seolah ikut ditentukan perkembangan zaman
itu tidak dinaffikan apalagi bagi kaum hawa dan cemohan yang ada di media
sosial atau komentar dari netizen baik diiInstagram, facebook, dan twitter. Yah..
beginilah kondisi ketika opini publik menjadi demikian sangat penting.
Eksistensi menjadi tujuan utama seseorang
mempercantik diri apalagi adanya dunia digital semua ingin eksis dengan selfi
untuk mendapatkan pujian dan apresiasi dari orang lain. Perkembangan digital
membuat orang yang ingin memamerkan kecantikan mereka dimedia sosial demi
mendapatkan likes dan komentar yang baik.
Lihat saja sudah berapa banyak
orang yang rela operasi plastik agar dapat memiliki wajah cantik sebab produk
make up kian berganti dari harga standar sampai puluhan juta untuk mempercantik
tubuh karena jika ada produk baru
masyarakat seolah-olah langsung terhegemoni tanpa memikirkan berapa biaya yang
dikeluarkan.
Alhasil, dokter kini tidak lagi
berpegangan pada golden ratio atau kecantikan yang diukur secara profesional.
Tapi, kini dokter juga harus mempertimbangkan pendapat dari pasien, dan tentunya
baik dari netizen, hingga kecantikan versi netizen yang meliputi kecantikan
sempurna, wajah berbentuk yang terpengaruh industri Korea Selatan cara yang
instan dan hasil yang natural dan wajah glowing semua diimpikan bukan hanya
perempuan kalangan laki-laki juga ada.
Yah, beginilah media sosial standar
yang dibuat netizen berpotensi membuat orang tak pernah puas Pasalnya komentar
netizen tidak pernah berhenti menghujat dan selalu melihat kelemahan seseorang
hal ini mempengaruhi kondisi ini semakin rumit ketika faktanya setiap orang punya kecenderungan untuk
membandingkan diri dengan melihat keadaan sekitar sebagai standar untuk
dirinya, tak heran jika orang berbondong-bondong membandingkan dirinya dengan
apa yang ada di media sosial.
Belenggu kecantikan media sosial
versi netizen inilah yang membuat dilema bahkan akan tertekan dan frustasi
akibat komentar netizen yang di luar batas kewajaran. Dalam hal ini, gangguan dismorfik tubuh bukan sekedar rasa
tidak aman atau kurangnya kepercayaan diri lebih dari itu, gangguan pada standar kecantikan juga
berunjung pada upaya keras untuk
menyembunyikan ketidak mampuan yang sesungguhnya tidak kita kenali.
Maka dari itu,
konsep ini ada karena kurangnya pemahaman dan penghayatan tentang diri sendiri
intinya ketika pemahaman sudah bijak mengambil keputusan mana yang baik dan
buruk kita tidak akan mudah terpengaruh
standar kecantikan yang ada sebab Beauty bukan hanya urusan kecantikan yang
lebih sempurna tanpa mengenai gambaran nyata tertutup topeng bedak tepal (skincare).
Kenali dirimu
terlebih dahulu baru mengenali orang lain.

Komentar
Posting Komentar