Langsung ke konten utama

Merawat Ukhuwah Dalam Berbangsa Dan Bernegara


 

MERAWAT UKHUWAH DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Penulis: Anjas Muliadi

Editor: I.AL

Tidak penting apa pun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua oranng, orang tidak pernah tanya apa agamamu. (Abdurahman Wahid)

 

Melihat dari pada suatu negara khususnya negara  Indonesia yang terlahir dari beribu ribu pulau beranekaragaman jenis  yang menjadikan negara Indonesia adalah negara yang memiliki ciri khas tersendiri, yakni multi suku, multi agama, rasa dan etnis.

Kendati  demikian, banyaknya berbagai jenis  perbedaan yang harus di tanggapi secara universal dan harus memahami satu sama lain sehingga dapat melahirkan kehidupan yang harmonisasi dalam sebuah bangsa dan negara.

Dimana kita ketahui bersama toleransi (tassamuh) kerap dijadikan acuan untuk menanggapi suatu perbedaan secara universal sehingga terciptanya kedamaian dalam  umat beragama. Dalam hal ini saya mengangkat  sebuah tokoh KH. Abdurahman Wahid, beliau adalah mantan presiden Indonesia yang ke empat.

Banyak masyarakat  yang sudah mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang menerima berbagai realitas sosial di Indonesia. Dengan konsep pluralisme sosial dan budaya  yang selalu hadir ditengah masyarakat Indonesia yang menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia. Kendati demikian  paham pluralisme tersebut menjadikan toleransi salah satu penguat ukhuwah dalam sosial bermasyarakat.

Toleransi yang dimaksud adalah sikap menghormati pendapat atau pemikiran orang lain yang berbeda serta saling tolong menolong tanpa memandang suku, ras, agama dan antar golongan bahkan beliau mengatakan bahwa " Jika kita berbuat baik, orang tidak akan menanyakan apa agama dan suku mu " jadi subtansi perkataan tersebut ialah kemanusiaan yang adil dan beradab sesuai dengan naskah pancasila.

Dalam hal ini, kita sebagai warga negara Indonesia harus memahami dan saling mengerti satu sama lain berangkat dari sifat li ta'arofu (saling mengerti) dan karromna (saling menghormati) sehingga inilah yang mengatur hubungan antara manusia, untuk menciptakan keharmonisan dalam kehidupan berduniawi.

Seperti yang di katakan oleh Aristoteles yakni zoon politicon yang secara harfiah artinya hewan yang bermasyarakat. Dalam pendapat ini Aristoteles menerangkan bahwa manusia di kuadratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, karena sejatinya manusia tidak akan bisa hidup tanpa bergandengan dengan orang lain.

Untuk itu kita harus memahami beberapa konsep seperti moderat, berimbang, adil, dan toleran untuk menjaga tali persaudaraan atau ukhuwah dalam bermasyarakat yang sifatnya plural. Moderat yang artinya sikap tengah yang tidak cenderung kekanan atau kekiri, dalam konsep berbangsa dan bernegara ini  sangat dibutuhkan untuk mengakomodir kepentingan, perselisihan yang tujuannya untuk mencari solusi yang baik.

Selain itu konsep berimbang sangat di butuhkan untuk dijadikan landasan atau pijakan hukum-hukum untuk mempertimbangkan sesuatu untuk mencetuskan sebuah keputusan. Sedangkan adil adalah salah satu sikap untuk merawat Ukhuwah dan menegakkan keadilan yang di mana telah di jelaskan dalam Al-Qur'an suarah Annisa:135 " wahai orang-orang yang beriman, jadilah kami penegak keadilan, menjadi saksi karna Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang ketawa) orang kaya ataupun miskin, maka Allah lah yang lebih tau kemaslahatan (kebaikannya).

Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karna ingin menyimpang dari kebenaran dan jika kamu memutar balikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah maha teliti terhadap segala sesuatu yang kamu kerjakan. Selain konsep moderat, berimbang, adil, ada pula yang dinamakan sikap  toleran yang dimana sikap toleran adalah sikap saling menghargai terhadap segala kenyataan yang bersifat majemuk baik dari segi pemikiran, sosial, budaya,  serta agama.

Dengan menerapkan konsep tersebut maka akan melahirkan hubungan ukhuwah yang harmonis damai dan tentram. Nah, itulah beberapa konsep dasar dalam bermasyarakat dan bernegara yang harus di pertahankan dalam setiap diri  umat manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...