Langsung ke konten utama

Menjerat Gus dur

 

Resensi Buku: Sahabat Rahmad Hidayat

Judul buku : Menjerat  Gus dur

Penulis : virdika rezky utama

Penerbit : Numedia digital indonesia

Cetakan : 1 desember 2019

Jumlah hal:  376

Editor: I.AL

 

Yang lebih penting dari politik adalah  kemanusiaan (Gus Dur)

KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) biasa di sebut tokoh nasional yang paling lama bertahan di jajaran elit indonesia paling berpengaruh. Dikala tokoh-tokoh seangkatan sudah surut Gus Dur masih tetap memainkan peran penting dalam politik indonesia.

Gus Dur mulai masuk dalam percaturan politik dan kebangsaan Indonesia sejak awal 1970-an ketika ia baru pulang menimba ilmu  dari Baghdad. Pada awalnya Gus Dur tampil sebagai sosok budayawan dan cendekiawan rakyat yang memikirkan dan sikapnya yang menunjukan kepedulian terhadap nasib rakyat ditengah dinamika pembangunan nasional. Kemudian ia tampil sebagai pemimpin umat dengan menjadi ketua umum pengurus besar Nahdatul Ulama (PBNU) selama 15 tahun dan akhirnya ia menjadi pemimpin politik dan  juga menjadi presiden RI dan juga ketua Umum Dewan syura DPP PKB.

Gus Dur bertahan sedemikian lamanya dalam percaturan politik indonesia karena Gus Dur mengajarkan kepada kita bahwa memasuki gerbong dunia politik itu memerlukan kesabaran dan kesediaan untuk menjadikannya sebagai proses perjuangan jangka panjang. Dalam proses demikian, kekuasaan harus dibangun dengan investasi sosial kultural yang cukup, kalau saat ini banyak kemudian orang begitu masuk dunia politik langsung mengejar jabatan tinggi, namun berbeda dengan Gus Dur.

Sebelum menjadi presiden RI dan ketua DPP PKB, Gus Dur sudah malang melintang ditengah masyarakat selama kurang lebih 30 tahun. Selama kurun waktu tersebut, Gus Dur tampil sebagai juru bicara masyarakat dengan menulis tentang berbagai persoalaan masyarakat dan bangsa menjadi pembicara dalam berbagai seminar menjadi juru dakwah dalam kegiatan keagamaan dan menjadi pembela atau pendamping bagi mereka yang tertindas.

Ibarat seorang pelari Gus Dur adalah pelari maraton jarak jauh karena  maraton atau perjalanan politik Gus Dur cenderung perlahan namun akumulatif tidak berorientasi pada hasil semata. Gus Dur mengajarkan pada kita bahwa tujuan politik seharusnya tidak dirahi dengan cara-cara yang instan. Cara cara instan bukan hanya menyebabkan kekuasaan yang dibangun tidak kokoh, tetapi juga cepat berakhir.

Gus Dur membangun jalur politiknya sebagai cendekiawan rakyat sebagai seorang cendekiawan,kekuatan politik Gus Dur bukan semata- mata pada kepiawaian manuver politik yang di perankan, tetapi lebih pada kekuatan struktur pengetahuan yang dibangun untuk menjelaskan yang terjadi dan bagai mana proyeksi kedepannya.

Ada beberapa literatur juga mengatakan perpolitikan Gus Dur tidak jauh berbeda dengan perpolitikan Sukarno, Muh Hatta dan beberapa pendiri bangsa yang lain, mereka adalah pemimpin yang membangun kekuasaan berbasis pengetahuan bukan semata-mata menuver-manuver politik yang penuh dengan tipu daya.

Selain dengan tokoh-tokoh berpengaruh Gus Dur juga selalu berkominikasi dengan masyarakat bawah Saking dekatnya dengan masyarakat acara pengajian tingkat desa pun Gus Dur tetap bersedia hadiri. Baginya berkominikasi dengan masyarakat luas adalah momentum untuk mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Dengan menjalani komunikasi dengan berbagai kalangan itu, pengaruh Gus Dur terus bertahan bahkan semakin meluas pendukung dan simpatisannya juga bertambah.

Gus Dur adalah sosok memiliki semangat hidup yang luar biasa dan kepercayaan diri yang tinggi Semangat dan kepercayaan diri itu menjadikan Gus Dur mampu mengatasi berbagai persoalaan yang dihadapi termasuk masalah usia kesehatan. Masalah yang bagi orang lain mungkin menjadi kendala serius untuk mempertahankan karir politiknya.

Dalam beberpa kasus, Gus Dur menyatakan bahwa politik adalah hal yang tidak di komunikasikan ada banyak pemikiran dan sikap politik Gus Dur yang terus menjadi tanda tanya sampai saat ini, dan Gus Dur juga tidak pernah menjelaskan secara utuh apa yang menjadi tujuannya, mungkin Gus Dur sudah menjelaskan secara normatif apa yang menjadi pemikiran dan sikapnya, tetapi kebanyakan masyarakat tetap saja menganggap bahwa ada suatu yang tidak dikatakan Gus Dur secara verbal dan itu sebenarnya yang menjadi tujuan utamanya.

Kondisi demikian muncul begitu banyak penafsiran baik yang mendukung maupun menolak. Banyak komentar baik yang pro maupun kotra justru semakin mengingatkan pengaruh politik Gus Dur belum hilang pro dan kontra Gus Dur kemudian melempar pemikiran atau sikap politik lain yang kontroversial sehingga pada akhirnya masyarakat disibukkan kembali untuk memperbincangkan.

Itulah Gus Dur sosok santri yang menjelma menjadi cendekiawan dan pemimpin politik yang sangat berpengaruh. Semua itu dia bisa dicapai karena  pengatahuannya yang sangat luas terhadap persoalaan masyarakat dan pengetahuan agama yang mendalam serta kemampuannya meramu pengetahuan tentang masyarakat dan agama. Itulah pengetahuan baru yang menjadi kunci pembuka untuk memahami dinamika masyarakat dan sosial atas persoalanya. Semua bisa dijaga karena Gus Dur memiliki tingkat kesabaran yang tinggi menapaki jalur politik sebagai proses invetasi sosial jangka panjang.

Tulisan saya ini hasil dari resensi buku menjerat Gus Dur, dan membuat saya ingin menulis cara berpolitikan  Gus Dur atau pola pikir Gus Dur mengenai politik bermasyarakat agar  refleksi mengenai pemikiran Gus Dur dan terhadap cara berpolitiknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

Perempuan sebagai Hamba Allah Swt

  Perempuan sebagai Hamba Allah Swt penulis: Nur Azima “cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia” _KH. Husein Muhammad_ Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam  melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan Sejarah  yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.  Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak p...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...