Langsung ke konten utama

Tantangan Kehidupan Diera Modernisasi

 


TANTANGAN KEHIDUPAN DIERA MODERNISASI

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."                 (Pramoedya Ananta Toer)

Penulis: Sahabat Arya Gandi Abdilla

Editor: J.M

kita sering mendengarkan diskusi tetang tantangan hidup  kedepan apa yang mestinya harus dilakukan, apalagi dengan tingkat kecanggihan teknologi yang semakin hari kadang membuat kepercayaan semua khalayak insan manusia hanya kepada kepercayaan yang betul-betul nampak/positifistik, sehingga membuat anak yang masih belia seharusnya masih menggunakan permainan tradisional atau bisa dikata kreativitas dari tanggan sendiri berbeda dengan zaman sekarang hampir sudah pudar dengan munculnya gadget.

Hingga hal ini  mulai dikesampingkan oleh kecanggihan dari mesin yang kemudian menjadi ancaman buat kita semua yang ingin mempertahankan kultural yang dari dulu menjadi penyelamat dilingkungan masyarakat sampai menjadi bahan diskursus yang sering kali kita dengarkan sebab ini adalah era industri 4.0 menuju era society 5.0  bagaimana alat teknologi sudah mulai mendominasi kebutuhan kehidupan manusia.

Memang sulit memperjuangkan apa yang sudah tempo hari dipertahankan oleh para pendahulu kita tetapi itu semua hampir dimusnakan oleh zaman. Kalau saya katakan ini menjadi ancaman zaman karena kepercayaan tentang hal-hal yang mistis tidak lagi dipercayai.

Terkadang juga kita selalu bangga ketika kampung halaman dimasuki oleh alat teknologi canggih notabenya merubah kenyaman dan  kurangnya penghasilan para kelas menegah kebawah  terkhusus sering kita jumpai disawah ketika musim panen perempuan yang bekerja memanen padi yang dulunya menggunakan alat mesin pemotong padi tradisional dan sekarang berubah menjadi alat teknologi moderen yang sangat canggi kurangnya bantuan tenaga manusia. Bahkan kelesatan yang ada dimakanan tidak seperti dulu karena pengaruh teknologi yang dimanfaatkan, contahnya ketika masuknya mesin traktor itu mengubah sedikit rasa enak yang ada ditanaman padi  saat diolah menjadi beras nikmat yang dirasakan nasi sudah ada  perbedaan rasa kelezataan dan ini terasa di kampung saya sendiri.

Dan itu semua adalah kerja-kerja politik, karena nilai politik kemanusiaan sudah digeser oleh kecanggihan teknologi semua menjadi tantangan kita yang ingin mempertahankan budaya itu sendiri. Memang ini perlu diwacanakan ke literatur agar kita dapat sadar besarnya tantangan kedepan yang kita hadapi, dan kita mampu membuat tudang sipulung menyampaikan hal ini kepada ketua-ketua adat, apalagi tantangan kedepan lebih sulit lagi.

Belum lagi menceritakan pendidikan kita yang juga sedikit tergeser oleh kecanggihan teknologi, sehingga ini menjadi ancaman untuk pondok pesantren begitu pula yang hari ini masih mempertahankan budaya yang di contohkan oleh para wali.

Sampai penghujung tulisan yang belum selesai ini, kita sebagai  pemuda(i) yang sadar akan pentingnya kultural harus bisa merawat dan menjaga tradisi yang sudah menjadi turun temurun khususnya dilingkungan tempat tinggal karena kita harus mempertahankan budaya lama dan mengambil budaya baru yang lebih baik lagi. Siapa lagi kalau bukan kita untuk menyalamatkan negeri ini dari tanggan jail.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...