Langsung ke konten utama

Perbedaan Berujung Keistimewaan

Penulis : Hasra

   Gender kerap sekali terjadi dalam lingkup keluarga baik karena pengaruh dari luar seperti isu-isu yang marak terkenal dalam lingkungan masyarakat yang sampai sekarang ada saja masih menerapkan budaya Patriarki.
 Harus kita ketahui patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama dimana posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya, politik dan ekonomi. Perbedaan gender ini yang selalu menjadi alasan untuk mendiskriminasi perempuan baik dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
    Ditambah lagi paling lumrah terjadi adalah dalam lingkup keluarga itu sendiri, dimana perbedaan gender hal yang sangat berpengaruh sehingga diskriminasi terhadap perempuan sering terjadi kadang tidak lain perlakuan tersebut dari orang tua sendiri, mulai dari mengkhususkan hanya satu objek saja kepada sanak saudara laki-laki yang memang diproritaskan sampai yang diinginkan dan seolah-olah menjadi tempat perbandingan antara perempuan. Begitupun hak yang didapatkan seorang laki-laki itu sangat tinggi tanpa melampaui batas dari perempuan hingga perempuan selalunya dianggap termarjinalkan.
Seoramg anak  laki-laki selalu saja  dikaitkan dengan kata tersebut karena mampu mengerjakan berbagai hal katanya sedangkan perempuan selalu didiskriminasi karena dianggap tidak mampu melakukan hal-hal yang rumit mereka hanya di cap sebagai orang lemah karena hanya mengerjakan domestik saja.
     Dan juga orang tua selalu saja membandingkan apa yang dilakukan anak perempuan dengan anak laki-lakinya.misalnya, anak perempuan yang tidak boleh bangun siang, tidak boleh malas dan tidak boleh gemuk. Hal tersebut yang selalu saya dengarkan dari  kalangan keluarga hanya karena saya adalah anak perempuan.
Memang kita tidak tidak harus berbuat seperti itu sebab anak gadis harus rajin tetapi dengan konteks yang sesuai. Karena bisa saja perempuan yang bangun siang karena telah melakukan aktifitas yang berat sehingga dia perlu istirahat yang cukup. Seperti mahasiswa yang begadang karena mengerjakan tugas setelah semua itu otomatis dia akan memerlukan istirahat yang cukup untuk bagaimana bisa memulai aktivitas rutin kembali setiap hari.
     Dan apakah perlakuan itu hanya berlaku sama perempuan saja? berarti laki-laki boleh bangun siang bermalas-malasan! 
Didalam keluarga kerap sekali menganggap bahwa yang hanya bisa bangun siang itu adalah laki-laki dengan alasan mereka capek karena lelah bekerja. Lantas apakah perempuan tidak merasakan capek setelah melakukan pekerjaannya?
Lalu bagaimana dengan perempuan yang gemuk tapi berprestasi?
Akankah mereka melihat sisi positifnya? Atau hanya sisi buruknya saja?
   Perlu kita ketahui bahwa tidak semua keadaan seseorang itu sama dan tidak semua keadaan itu lantas kita jadikan bahan diskriminasi, apalagi dalam keluarga kita itu sendiri. Harusnya didalam keluarga itu untuk saling mendukung satu sama lain agar mencapai tujuan yang benar-benar menjadi harapan keluarga. Tidak boleh ada perbedaan perlakuan antara anak perempuan maupun laki-laki,karena sejatinya perbedaan gender adalah anugrah dari Allah Swt dan semakin berkembangnya zaman perempuan tidak lagi menjadi alat perkerja tapi keseteraan gender sudah melekat antara laki-laki dan perempuan.
    Dan sebagai orang tua harus mampu untuk mengimbangi perhatian kasih sayang yang sama dan tidak membeda-bedakan terhadap anaknya sehingga tidak ada  sifat iri hati yang menimbulkan perkelahian atau kebencian terhadap saudara
Jadi marilah kita untuk memperbaiki mendset dan pola pikir kita untuk bagaimana bisa menegakkan keadilan tanpa memandang jenis kelamin dan kedudukan dalam keluarga. 
Stop Diskriminasi terhadap perempuan. 
Perempuan Mampu, perempuan Bangkit Bergerak.


#PELATIHAN KADER PEREMPUAN KOPRI IAIN PALOPO (PKP) 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...