Langsung ke konten utama

Islamku, Islam anda, Islam kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi


Resensi Buku: Sahabat Ilham Andi Lukman

Judul buku      : Islamku, Islam anda, Islam kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi.

Penulis             : Abdurrahman Wahid

Penerbit           : The Wahid Institute

Cetakan           : I, Agustus 2006

Jumlah hal       : 451


Sebuah buku dengan judul "Islamku, Islam anda, Islam kita (agama masyarakat negara demokrasi)". Sebuah karya dari  nahkoda ke-4 Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yaitu Dr. K. H. Abdurrahman Wahid . Di masyarakat beliau kerap disapa Gus Dur. 

Buku yang  mengangkat pokok pemikiran  pluralisme. Mengutip daripada pernyataan Gusdur ‘Tuhan tidak perlu dibela’ merujuk pada  suatu hal yang lebih mebutuhkan pembelaan, yaitu umat-Nya atau manusia pada umumnya yang ketika mereka menerima ancaman atau ketertindasan dalam berbagai aspek  kehidupan. Tuhan jelas tidak mungkin tertindas oleh ciptaan-Nya, karena Tuhan kuasa.

Penulis juga  tidak hanya melihat agama Islam secara subyektif, tetapi juga secara objektif. Buku ini mengemukakan bahwa dalam  pengalaman pribadi seseorang tidaklah sama dengan orang lain, sehingga pasti akan muncul berbagai pemikiran yang berlainan satu sama lain.

Dari kenyataan itulah bahwa yang dimaksud ‘islamku’ adalah Islam yang ada pada pemikiran atau pengalaman Gusdur dan diinterpretasikan melalui buku ini tetapi demikian tidak memaksan orang lain mengikutinya.

Realitas yang sering kita jumpai seseorang atau kelompk tertentu  menganggap pendapatnya yang paling benar. Sehingga memaksakan kehendak kepada orang lain bahwa ‘islamku’ yang paling benar. Nah, dengan  tafsir kebenaran Islam seperti inilah menurut Gusdur menentang atau bertentangan dengan konsep demokrasi yang merujuk pada penentangan negara yang berasas Pancasila dengan nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan Islam.

Akibatnya segala macam cara dilakukan yang melahirkan konsep bahwa tindak kekerasan merupakan jalan satu-satunya dalam mempertahankan Islam kemudian berkembang dan muncullah terorisme dan sikap radikal demi cita-cita yang utopis.

Sedangkan yang dimaksud dengan  ‘islam anda’ merupakan apresiasi Gusdur terhadap ritual, budaya atau adat keagamaan yang menjadi bagian inheren dalam masyarakat. Gusdur kemudian  memberikan bentuk penghargaan terhadap kepercayaan dan tradisi keagamaan sebagai kebenaran yang dianut komunitas masyarakat tertentu yang patutnya harus dihargai. 

Pad petikan ‘islam kita’ lebih merujuk pada kepedulian atau rasa empati seseorang terhadap masa depan Islam yang didasarkan pada kepentingan bersama umat muslim di penjuru dunia. 

Pada bab pertama buku,  menujukkan ketidak sepakatan Gusdur  adanya konsep Negara Islam bukan dengan alasan yang tidak pasti baginya Islam adalah jalan hidup, tidak memiliki konsep yang jelas terhadap negara untuk dikatakan sebagi sebua kewajiban ummat muslim.

Sepanjang perjalanan  penulis ( Baca : Gusdur) telah mencari konsep  Negara Islam, menurut syariat Islam kendati demikian sampai saat ini pun ia tidak menemukan penjelasan secara eksplisit untuk kewajiban mendirikan Negara Islam (Khilafah Islamiyah yang meberi gambaran utopia). 

Penulis yang dijuluki ‘Bapak Bangsa’ itu mengutuk tindak kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan agama islam karena islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskriminatif. Satu-satunya pembenaran terhadap hal ini adalah ketika umat muslim diusir dari rumahnya.

Buku ini juga membahas tentang pembelaan Gusdur dalam berbagai kasus di Indonesia. Gusdur tidak pandang bulu tidak membedakan agama, keyakinan, etnis, posisi sosial atau apapun dalam melakukan pembelaannya. Bahkan Gusdur tidak ragu untuk mengorbankan imagenya sendiri untuk membela korban yang perlu dibela. Dalam negara demokrasi seperti Indonesia ini kita perlu memberi porsi yang sama rata dan sama rasa terhadap masyarakat, agama dan menjunjung tinggi pada demokrasi itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...