Langsung ke konten utama

Asumsi Perempuan Dalam Bekerja

Penulis : Sahabatwati Riska Saputri


   Manfaatkan waktumu sebaik mungkin bermafaat bagi orang banyak sebab entah esok atau lusa kita tidak tau sampai kapan kaki ini melangka. Bahkan semua sudah ada yang mengatur tinggal kita sebagai insan manusia yang menjalankan kehidupan ini sebaik-baiknya.
Baik dalam kehidupan manusia kebutuhan ekonomi merupakan kebutuhan primer yang dapat menunjang kebutuhan yang lainnya. Kesejahteraan manusia dapat tercipta manakala kehidupannya ditunjang dengan perekonomian yang baik pula. 
Salah satunya berkarir, seorang perempuan tentu saja mendapatkan imbalan yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk menambah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
    Namun dapat kita lihat bahwa tradisi lama tidak dapat diruntuhkan dengan muda memenjara sebagian perempuan dalam tangan-tangan otoriter. Dimana saat ini masih banyak perempuan yang hanya bergantung pada laki-laki, padahal jika dilihat kualitas dan kuantitas seorang perempuan dalam dunia bisnis juga mampu melampaui laki-laki dalam bekerja. 
Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki. perempuan pun mempunyai hak yang sama pada hakikatnya baik itu dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan pendidikan. Sayangnya sampai saat ini perempuan sering kali dianggap lema dan hanya menjadi sosok pelengkap.
Pandangan setiap kaum patriarki yang paling mendominasi didunia adalah perempuan. kapalisme memenjarankan perempuan Sebagai iklan produk hingga banyaknya kejadian yang tidak menghormati yang beranggapan perempuan tidak dihargai.
Terlebih lagi adanya pola berpikir bahwa peran perempuan hanya sebatas bekerja dapur, sumur dan kasur mengurus keluarga dan anak, sehingga pada akhirnya hal diluar itu menjadi tidak penting.
    Asumsi masyarakat yang menyatakan bahwa pekerjaan perempuan hanya sekedar tambahan peran penghasilan keluarga juga menjadi salah satu sebab rendahnya tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan dalam ekonomi dan ketenaga kerjaan karena masih terjadi diskriminasi terhadap perempuan. 
Seiring berjalannya waktu sistematis terjadi mulai dari perekrutan (sebelum masa kerja), selama bekerja maupun setelah bekerja. Sehingga banyak perempuan yang tidak bertahan lama  dalam pekerjaannya .
Namun perlu kita ingat bahwa Perempuan yang bekerja akan mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Pola pikirnya akan semakin terasa begitu juga perkembangan dirinya. Dengan terbiasa membagi tugas antara urusan publik dan privat menunjukkan kualitas dirinya yang perlu diacungi jempol.
Sebagai perempuan kita harus bisa menunjukkan bahwa kita mampu untuk mandiri dan tidak harus tergantung pada laki-laki ataupun keluarga. memang betul, Laki-laki tentu kebanyakan mereka yang memimpin namun tidak bisa kita pungkiri bahwa kita sebagai perempuan juga bisa menjadi pemimpin dalam hal apapun, baik itu dalam ranah lingkup keluarga, kampus, organisasi, dan sebagainya. 
     Sebagai perempuan kita harus kuat dan bisa menyelesaikan masalah dalam situasi apapun. Ingat, kita perempuan adalah kebanggaan orang-orang banyak.
Buktikan apa yang kamu bisa, lakukan apa yang harus kamu lakukan, yakinkan diri kamu bahwa tidak semua laki-laki bisa melakukan apa yang perempuan lakukan.

Perempuan bisa, Perempuan mampu
Perempuan buktikan kemampuanmu
Sejatinya Perempuan harus bergerak dan berkarya untuk negeri tercinta jangan lagi berbicara diskirimasi terhadap perempuan karena kita sudah setara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...