Langsung ke konten utama

Sebuah Nilai Luhur berasas Islam untuk Indonesia


Sebuah Nilai Luhur berasas Islam untuk Indonesia

 Penulis: Sahabatwati Patmawati

Sebuah nilai luhur berasas Islam yang saya maksudkan pada tulisan ini adalah empat prinsip dasar Ahl Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja). Bagi saya  jika nilai ini dijalankan sungguh-sungguh dalam perilaku keseharian, akan membawa kedamaian dan keselamatan hidup dalam lingkup bermsyarakat/bernegara yang memiliki bergama suku,budaya, dan agama. Ada empat prinsip dasar Aswaja yang perlu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tawassuth (Moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (Toleran), dan i'tidal (Adil). 

Tulisan ini adalah sebuah bentuk refleksi saya sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang enam bulan terakhir menjalani proses di wadah organisasi yang merupakan anak kandung dari Nahdatul Ulama (NU) ini. Meskipun PMII independen secara struktural, namun tidak bisa dipungkiri secara kultural PMII tetap andil dalam upaya menebar dan merawat nilai Ahl Sunnah Wal Jama’ah sebagai landasan berfikir dan bertindaknya.

Nilai yang saya temui ketika saya bergabung di PMII ini adalah nilai yang universal, yang baiknya generasi bangsa kita rasanya penting belajar dan tetap mewariskan nilai ini walaupun mungkin tidak bergelut didalam organisasi PMII atau NU agar memperluas wawasan  keislaman dan  mendapat kebrmanfaatan sebagai bekal menjalani kehidupan.

Ketika kita memiliki wawasan keislam Ahl Sunnah wal Jama’ah maka kita tidak akan mudah mengkafirkan, membid’akan dan atau mencap orang syirik tanpa ilmu dan dalil yang tidak  jelas. Tidak selalau mempertentangkan agama dan Negara atau agama dan budaya, namun melainkan mencari kemaslahatan dengan menerima Islamisasi dan akulturasi sebagi gerbang menjalani kearifan (kebijaksanaan) yang tentunya tidak bertentangan dengan ketauhidan ummat Islam. Disisi satu sisi memahami suatu perkara berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan hati-hati dan kontekstual buakan mengedepankan tekstualitas semata.

NU dan PMII sendiri pada perkara fiqih bersandar pada empat madzhab,yaitu Hambali, Hanafi, Maliki dan Syafi'i. Kaitannya dalam hal tersebut adalah memberikan kelonggaran kepada ummat Islam terutama masyarakat nahdliyin dalam perkara peribadahan untuk mengikuti ajaran empat Imam Maszhab besar tersebut yang selaras atau cocok dengan kondisinya disamping perbedaan yang ada.

Saya adalah perempuan berdarah Jawa yang lahir di Tanah Luwu. Keluarga saya samapi saat ini memegang nilai adat dan budaya Jawa begitupun perkampungan tempat saya tinggal. Sekarang saya paham bawa orang tua saya sebenarnya menggunakan prinsip aswaja hingga kedamian bragama dan berdat jalan beriringan tidaklah mesti dibenturkan. Proses Islamisasi budaya jelas menjadi peraktik yang menjadi sebua keniscayaan bagi kami. Dengan belajar aswaja mebuat saya semakin mencintai adat budaya saya tanpa harus mengganggu prinsip ketauhidan dalam Islam.

Sebelumnya saya pernah merasa canggung atau sangat susah untuk berinteraksi dengan suku lainnya seperti Toraja, Bugis dan Luwu. Sadar akan perbedaan yang ada baik itu bahasa maupun adat.  Seiring berjalannya waktu pengalaman mengajarkan hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk saling berinteraksi satu sama lain.

Sebagai seorang putri keturunan suku Jawa  saya harus menjunjung kearifan lokal dan keislaman sebagai generasi muda. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan perbedaan adalah sebuah rahmat bagi manusia. Jadi, perbedaan adalah hal yang Indah yang meberikan spirit dalam berdzikir, berfikir dan beramal soleh lebih luas lagi. Menjadikan ‘Aswaja’ sebagai manhaj Al-fikr wal harokah, tentunya akan selalu konteks dengan berbagai persoalan yang dihadapi untuk menghadapi persoalan-persoalan agama maupun sosial kemasyarakatan.

Mulianya nilai Aswaja membuat hati saya terketuk untuk menuangkannya dalam  praktik aktivitas keseharian saya. Ada beberapa contoh yang akan saya angkat dengan pendekatan nilai aswaja dalam kehidupan keseharian.

Pertama, dengan pendekatan prinsip aswaja ketika terjadi suatu perselisihan kita tiadak akan memihak dari salah satu yang mengalami peselisihan terlebi memihak hanya karena latar belakangnya, melainkan kita berupaya mengambil jalan tengah yang melahirkan kemaslahatan bersama. 

Kedua, Aswaja mengajarkan untuk bersikap adil dalam pembagian apapun selama seseorang itu mempunyai hak untuk mendapatkannya. Bagi suku Jawa ada sebuah tradisi yang tidak bisa di tinggalkan yaitu ‘kenduri’ (syukuran/selametan) tradisi ini menyilipkan nilai Aswaja untuk adil dalam membagi makanan, setiap bapak-bapak yang ikut serta dalam ‘kenduri’ mendapatkan berkat (makanan) sesuai porsinya yang di ukur dengan ketentuan metode pembagian orang Jawa.

Ketiga, Tidak lengkap rasanya sebuah kehidupan jika tidak bisa menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Demikian nilai yang diupayakan dengan segala upaya. Contoh lainnya, kehidupan pribadi saya diperhadapkan dengan kondisi yang pada dasarnaya tidak mendikotomikan antara laki-laki dan perempuaan dengan dominan. Saya lebih diperhadapkan paada karakter yang beragam sahabat dan sahabatwati ( panggilan khas PMII kepada sesama aggota/kader). Saya harus menyeimbangakan rasa ketidak sukaan itu dengan pon positif yang saya ambil dari keunikan dan keragaman karaketer sahabat saya agar tetap bisa berjuang dan menempa diri bersama.

Kempat, bersikap toleran dalam artian saling menghargai satu sama lainnya dengan bersikap multukulturalisme (sikap multikultural) agar tercipta kerukunan umat diatas perbedaan agama, suku, ras dan lain sebagainya. Semakin orang berilmu semakin tinggi nilai toleransinya. Orang yang berilmu pandai beradaptasi atau menyesuakin diri kecuali dengan hal-hal yang bersipat prinsipil menjadi sebuah pegangan yang tidak bisa diganggu gugat.

Contoh lainnya, ketika saya mengadakan acara ‘slametan’ Orang tua saya mengundang tetangga untuk menghadiri acara ‘slametan’ di antara tetangga ada orang non muslim. Kendati demikian  tetangga saya meski non muslim tetap menyempatkan hadir, karena menghargai undangan dari kami. itulah sebuah contoh kecil toleransi dalam kehidupan social. Disini saya paham bahwa jikamereka bukan saudara seagama saya, maka mereka tetaplah saudara saya sebangsa dan sesama manusia. 

Tentunya tulisan ini masih jauh dari kata sempurna untuk memberikan gambaran tentang nilai luur ini, namun izinkan saya menjadi bagian dari warga pergerakan yang turut andil membumikan aswaja. Alhasil, Aswaja bukan hanya sebuah pandangan keagamaan, akan tetapi lebih jauh merupakan pandangan hidup seorang muslim dalam menyikapi lingkungannya yang majemuk dan dinamis. Aswaja adalah manhajul fikrah wal harakah (landasan pemikirandan gerakan) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik berhubungan dengan agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Seorang muslim penganut Aswaja mampu hidup dan menyesuaikan diri serta dituntut untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman masyarakat di manapun mereka hidup. 

Wallahua’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...