Perempuan Jilbab Dan Akhlak
Penulis: Sartika Kasri
Zaman sekarang kita selalu di perhadapkan persoalan perempuan. Berbicara persoalan perempuan tidak akan pernah ada habisnya. Perempuan adalah makhluk istimewa yang di ciptakan oleh sang maha kuasa. Tuhan menciptakan manusia hebat yang terlahir dari rahim seorang perempuan. Tuhan menciptakan perasaan yang kuat sekaligus rapuh bagi seorang perempuan. Namun sayangnya terkadang banyak perempuan yang tidak mampu memahami keistimewaan yang di milikinya.
Ketika membahas Persoalan perempuan baru-baru ini kita disuguhkan dengan opini perihal perbincangan panas warga net terkait salah satu musisi tanah air Nisa (Vokalis Sabyan Gambus) yang dikabarkan menjalin hubungan asmara dengan salah satu founder Sabyan Gambus yaitu Ayus. Berita perselingkuhan di antara keduanya di benarkan oleh adik dari Ayus sendiri.
Perihal berita yang beredar meskipun belum ada klarifikasi dari pihak Nisa sabyan para netizen beramai-ramai membuli di berbagai akun media sosial miliknya. Seperti yang di ketahui sosok Nisa adalah perempuan yang taat dalam menjalankan kewajibannya sebagai wanita muslim yang mengenakan jilbab yang membuat dirinya tampil dengan anggun. Namun, berita yang menyeret dirinya membuat para netizen menyangkut pautkan kewajiban berjilbab yang di haruskan bagi setiap wanita muslim dengan perilakunya yang di anggap tidak sesuai dengan cara berpakaiannya.
Dalam pandangan masyarakat kita, perempuan yang berjilbab identik dengan akhlak yang mulia, taat beragama, wanita santun, pandai mengaji dan berbagai predikat kesalehan yang di lekatkan untuknya. Sedangkan perempuan yang tidak berjilbab meskipun berakhlak baik namun akan selalu dipandang sebagai perempuan yang tidak benar dan jauh di bawah wanita yang berkerudung hal ini adalah hal yang lumrah dan spontan yang dicapkan oleh masyarakat bagi perempuan tanpa kerudung.
Kendati demikian perlu di lihat secara seksama bahwa antar jilbab dan akhlak bukanlah suatu hal yang di satukan sehinggal ketika melakukan Kesalahan yang menyimpang maka menyalahkan jilbab yang dikenakanya. Menutup aurat dengan jilbab bukanlah merubah diri menjadi malaikat.
Berjilbab bukan menjadikan diri sebagai manusia yang tidak berdosa, pun jilbab bukanlah sebuah jaminan diri akan mengantarkan kita pada surga ilahi, namun jilbab adalah sebuah kewajiban bagi seorang perempuan muslim, sehingga ketika ia berjilbab paling tidak menggugurkan kewajibannya.
Sehingga jika seorang wanita melakukan dosa bukanlah merupakan kesalah dari jilbabnya sebab itu perlu juga digaris bawahi bahwa jilbab bukanlah hanya diperuntukan bagi perempuan yang pandai beragama saja, pandai mengaji, atau pun yang memiliki akhlak muliah tetapi kewajiban bagi setiap yang mengaku muslim.
Berbeda dengan akhlak yang mana merupakan budi pekerti yang di miliki masing-masing insan manusia hal ini bergantung pada individu. Sehingga kita perlu jeli dalam melihat berbagai penomena yang selalu menyeret perempuan perihal jilbab dan akhlak yang di milikinya. Bahwa ternyata Akhlak dan jilbab merupakan dua hal yang berbeda sehingga jika terjadi penomena seperti ini tidak mencampur adukkan antara hal yang seharusnya tidak di satukan.
Sehingga kita masuk pada kesimpulan bahwa seharusnya kita mampu mengambil hikmah di balik setiap kejadian yang terjadi didalam kehidupan dimana tidak menyudutkan yang salah hingga memuliakan yang benar karena selalu ada hikmah untuk dijadikan pelajaran dalam kehidupan kita. Tetap semangat dalam menjalani hidup ini karena roda akan terus berputar sampai dimana batas kemampuan setiap insan menuju keridhoan Allah swt teruslah menebar kebaikan.

Tulisannya bagus. Sedikit bijak.
BalasHapus