TOXIC PARENT
~SUDAH DENGAR ISTILAH TOXIC PARENT?~
-KHAERUNNISA
Tulisan yang tak kunjung selesai dipart 1 kembali diceritakan dalam lanjutan part 2
Lagi-lagi tindakan dari toxic parent yang lain masih ada lagi, misalnya orang tua yang selalu mencari empati dan simpati anak bersikap seolah-olah sedang berada pada situasi yang sangat jatuh dan butuh pertolongan dengan ucapan
Apa kamu tidak kasian lihat mama seperti ini? Baru pulang kerja ini lho, kamu mau liat mama sakit?
Dituangkan oleh penulis yang posisinya sebagai seorang anak, Jika mendengar orang tua berucap demikian pastinya akan merasa terbebani dengan tanggungjawab yang harus di penuhi sebagai anak yaitu membahagiakan orangtua. Saya yakin bukan hanya diri pribadi saya yang merasakan hal tersebut, tetapi banyak anak-anak diluar sana pasti ada yang merasakannya.
Ada pula orang tua yang berubah menjadi penagih hutang/rentenir, terdengar lucu bukan? Tapi yaa memang seperti itu keadaanya, dimana orang tua biasanya akan berkata "Kamu harus selalu ingat ya nak, kamu bisa sekolah itu karena kerja keras orang tua kamu, kamu bisa seperti sekarang ini juga karena usaha orang tua yang merawat kamu dari kecil sampai sekarang".
Oleh karena itu meskipun para orang tua tidak berkata demikian, setiap anak pasti merasakan tanggungjawab yang harus ia emban, mereka juga tau kalau hidupnya masih bergantung pada kalian.
Hingga tulisan ini saya buat untuk mengungkapkan sedikit perasaan saya seperti yang sering kita lihat dari kasus kasus kekerasan anak yang terus meningkat setiap tahunnya.
Terutama kasus kekerasan seksual terhadap anak, yang pelakunya tidak sedikit adalah orang-orang terdekat bahkan orang tuanya sendiri ada beberapa orang tua yang melecehkan anaknya memang terdengar logis tapi seperti itulah yang terjadi sekarang ini. Dimana orang tua yang seharusnya melindungi anak malah berbuat menjadi monster bagi sang anak.
Kita bisa di cek di sosial media masing-masing atau mungkin duduk didepan tv ditemani secangkir kopi, menonton sedikit hal-hal yang lebih berfaedah dari pada menonton film kisah cinta remaja bak Romeo and Juliet yang berakhir tragis, bahkan dibelokkan menjadi berakhir bahagia.
Cobalah mencari hal yang lebih bermanfaat dengan mencari info terbaru tentang kejadian-kejadian yang terjadi diluar sana dengan membaca koran misalnya, atau yang lainnya. Tapi yang perlu di ingat ialah tidak semua hal yang ditayangkan oleh media itu baik untuk kesehatan otak manusia hehe.
Terkadang ada beberapa hal yang memang harus dicerna baik-baik dan dicari tau kebenarannya. Selepas dari kekerasan orang tua terhadap anak seharusnya sebagai orang tua harus bijak dalam berbicara kepada anaknya, karena fikiran anak masih labil dan belum terbentuk seluruhnya. Cobalah bersahabat dengan mereka, karena bersahabat dengan mereka sesungguhnya tidak menurunkan derajat dan martabat kalian sebagai orang tua.
Kita sebagai anak pula, yang setiap harinya mendapatkan kasus seperti ini janganlah merasa menang, dengan sedikit-sedikit menentang orang tua, dan selalu mau menang sendiri.
Tidak sedikit pula saya mendengar kasus kekerasan yang didalam rumah, bukan lagi suami atau istri pelakunya bukan lagi orang dewasa pelakunya, melainkan seorang anak.
Kekerasan anak terhadap orang tua, sudah sering terjadi belakangan ini pasti kalian pernah membaca atau mungkin menonton di Tv kesayangan kalian atau di sosial media tentang legenda Malin Kundang? (yang tidak pernah nonton atau membacanya, mungkin bisa di search di youtube atau digoogle biar tau hehe) dimana Malin Kundang ialah anak dikutuk menjadi batu karna durhaka terhadap orang tuanya.
Legenda itu ternyata belum cukup menjadi pembelajaran bagi anak-anak zaman sekarang, terbukti dengan banyaknya Malin Kundang Zaman sekarang atau biasa disebut Zaman Now, yang bahkan kelakuannya bisa dikatakan lebih sadis daripada legenda Malin Kundang yang sebenarnya.
Terbukti dengan banyaknya anak yang durhaka, kepada orangtuanya seperti yang terjadi baru-baru ini dimana seorang anak tega memukul Ibunya karena tidak dibelikan Handphone dan masih banyak lagi kasus dimana anak melakukan kekerasan terhadap orangtuanya.
Dengan maraknya kasus seperti ini kita seharusnya dapat mengambil pembelajaran Dan untuk Orang tua dan anak yang ada diluar sana saling menyayangilah dan berbagi kasih satu sama lain. Bersahabatlah dengan anak sendiri dengan mengesampingkan ego yang dimiliki dan menjadi teman curhat si anak begitupun sebaliknya.
Terlepas dari semua itu, mari kita menghadapi masalah dengan kepala dingin mengambil air wudhu lalu beristirahat, dan lepaskan beban-beban pikiran, karena sejatinya setiap orang memiliki hidup masing-masing, dan cukup memperbaiki dan mencintai diri sendiri.
Saya Khaerunnisa, Mohon maaf atas segala kesalahan terdapat dalam penulisan ini, baik dari segi bahasa maupun perkataan saya yang mungkin menyinggung perasaan bagi pembaca, karena itu semua factor ketidak sengajaan. Karena saya pun masih dalam tahap belajar dan berproses, dan tentunya masih butuh kritikan dan saran dari sahabat-sahabat semua.
Saya akhiri dengan ucapan
Wallahul Muaffiqilaa Aqwamith Tharieq
Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraqatuh.

Komentar
Posting Komentar