Toxic Parent : (Part 1), Tak Tau istilah demikian?
Ini Akibat Hegemoni Suara Hati Seorang Istri
Penulis : Khaerunnisa
Di dalam kamus bahasa inggris Toxic artinya racun, lalu apa jadinya jika mendengar istilah Toxic didalam rumah tangga, tepatnya ialah Toxic Parent. apakah orang tua beracun? Haha terdengar sedikit menyeramkan bukan? Atau mungkin lucu. Tapi itu memang nyata adanya.
Betapa maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang sering kita jumpai. Terlebih lagi pada zaman sekarang ini, bukan lagi KDRT antara suami dan istri, tetapi justru sudah lebih ekstream lagi karena telah meyentuh ranah kekerasan secara fisik yang terkadang dilakukan orang tua terhadap anaknya.
Kalau istilah kerennya sih “toxic parent”, yaitu ‘keadaan dimana orang tua mempunyai kelakuan buruk atau melakukan kekerasan fisik terhadap anak’.
Seperti pada kasus yang di post pada laman detiknews pada 23 april 2020 silam, dimana di dalam situs tersebut memberitakan seorang ayah yang dengan kejamnya tega menghantam kepala putra kandungnya sendiri hingga terpental. Kejadian tersebut terjadi di Sibolga, Sumatra Utara.
Seorang ayah yang berinisial RM itu ditangkap oleh jajaran polres setempat setelah 1 bulan lebih pasca kejadian. Sabtu 18 april si kakek dari anak tersebut melaporkan kejadian ke polres akibat beredarnya video penyiksaan tersebut (btw kejadiannya tuh kalau gak salah pada tanggal 14 maret 2020).
Saat ditangkap, RM mengatakan bahwa dia sengaja menyiksa dan menghantam kepala putranya hingga terpental lalu memvideokan lantaran istrinya yang kabur dari rumah dan tak kunjung pulang selama 2 pekan akibat percekcokan rumah tangga.
Tujuannya ialah agar istrinya bisa cepat pulang. Tapi bukannya istri yang datang pulang, malah polisi yang datang menjemput, hadehh...
Kasus tersebut adalah contoh kecil daripada toxic parent.
Toxic parent tidak hanya berlaku bagi orang tua yang berkelakuan buruk atau secara sengaja melakukan kekerasan fisik terhadap anak secara langsung, maupun tidak langsung.
Tapi toxic parent juga berlaku untuk orang tua yang secara perlahan lahan bahkan tanpa disadari telah meracuni pikiran-pikiran anaknya hingga mempengaruhi daripada sel syaraf otak serta psikologis anak.
Tindakan seperti itu justru penulis merasa malah lebih berbahaya daripada kekerasan fisik, kenapa? Ya, karna tindakan seperti itu tak terlihat, secara kasat mata, sehingga orang-orang atau masyarakat lain yang melihatnya tidak sadar, tetapi justru hal seperti inilah yang sangat mempengaruhi daripada kembang pikir anak.
Selepas dari itu, saya teringat oleh apa yang diajarkan salah seorang guru agama saya sejak duduk dibangku Sekolah Dasar hingga SMA bahwa "Tidak ada orang tua yang ingin keburukan untuk anaknya, semua orang tua pasti melakukan hal hal yang kedepannya akan membahagiakan anak-anaknya". semua orang pasti setuju kan tentang hal itu. Walau mungkin ada sedikit orang tidak setuju.
Tapi yang saya pikir ialah sejak dahulu saya belum sedikitpun mendapatnya pengajaran dari guru agama saya bagaimana cara mendidik anak yang benar, cara memberikan pengajaran maupun nasehat kepada anak agar ia mau mendengar, ataupun cara bagaimana bersahabat dengan anak.
Semua itu tidak saya dapatkan di pelajaran saya saat masih duduk dibangku sekolah, yang saya dapatkan itu hanya sebatas bahwa anak itu harus taat kepada orang tua, bahwa anak itu harus patuh terhadap orang tua, sekejam apapun mereka, mereka tetaplah orang tua kita yang mengajarkan kita bagaiaman cara makan, berbicara, berlari, dan lain sebagainya.
Kalau ada yang bertanya apa untungnya sih memberi pengajaran seperti itu kepada anak-anak? Ya jelas ada untungnya lah, anak yang sekarang itu akan menjadi orang tua dimasa depan, kapan lagi dia akan diberi pengajaran kalau bukan sejak sekarang? belajar bagaimana berkelakuan baik terhadap sesama anak ataupun kepada sesama yang lebih kecil, muda, maupun kepada yang lebih tua.
Orang tua memang memenuhi kebutuhan anak, tidak sampai menyakiti ataupun melukai fisik. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi ialah ada beberapa perilaku orang tua yang justru secara perlahan-lahan bisa menciptakan racun pada diri anak.
Seperti misalkan mengatur cita-cita anak dengan ekspektasi-ekspektasi diluar batas pikir. Sudah banyak kasus seperti ini biasa kita dapatkan, bahkan disekitar saya pun ada.
Contoh sedernaha, misalnya seorang anak yang bercita cita ingin berprofesi menjadi seorang penulis, tetapi impian tersebut ditentang oleh orang tua, karena orang tua ingin anaknya menjadi seorang Dokter (misalkan).
Orang tua selalu memberikan komentar negatif tentang penulis, seperti "jadi penulis itu nda ada untungnya, capek capek nulis tapi nda kelihatan hasilnya”. coba kalau jadi Dokter, bisa menyembuhkan orang sakit, selain dapat pahala dapat juga uang yang banyak, bisa membahagiakan ayah dan ibu".
Atau mungkin seorang anak yang minatnya di bidang IPA, tetapin dipaksa masuk ke bidang IPS. Wkwkwkw
Nah ekspektasi-ekspektasi seperti itu bukannya menambah semangat belajar anak, melainkan membuat pikiran anak menjadi terbebani, ya, walaupun mungkin ada beberapa anak yang mempunyai pikiran yang berbeda, tapi saya bisa memastikan bahwa 8 dari 10 anak pasti merasa terbebani oleh ekspektasi ekspektasi seperti itu (baca : tidak semua)
Selain dari memberikan ekspektasi diluar pikir anak, ada juga kasus lain dari toxic parent yang meracuni pikiran anak, Seperti misalkan membanding banding anak sendiri dengan anak orang lain, dan membicarakan keburukan anak sendiri di depan tetangga.
Misalnya sedang berkumpul atau kebetulan sedang bersama. Dengam ucapan sepele seperti "anak saya tuh selalu bangun siang, kalau bukan saya yang bangunin mah nda bakal bangun, terus bangun tidur tidak langsung membantu ibunya beres-beres rumah".
Terdengar sepele memang, tapi bagi anak itu sudah merupakan panah beracun yang menancap di jantung. Rasanya ingin segera ditelan bumi saat itu juga, ingin melawan? Tapi ingat kalau dia itu adalah orang tua kita, jadi yaa sudahlah biarkan sakit ini kurasakan sendiri kata para buciners. wkwkwk
Ada juga orang tua yang menjadi monster bagi anaknya, anak berbuat kesalahan sedikit dimarahi, dibentak bentak dengan suara yang bisa dibilang bernada keras, bahkan sampai ada yang dipukul. Memang saya akui, mungkin itu adalah cara orang tua mendidik anak agar anak menjadi penurut, dan mau mengikuti segala arahan dari orang tua.
Tapi hal ini bukan mengubah anak menjadi baik, justru hal ini bisa berakibat ke sebaliknya, dimana anak akan menjadi semakin nakal, anak yang menjadi sulit diatur, atau mungkin yang lebih parahnya malahan anak bisa menirukan apa yang dilakukan orang tuanya kepada orang lain, atau kepada anak-anaknya nya kelak.
Dan perlu dingat! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitupun manusia, apapun yang dilakukan anak sekarang, bisa jadi itulah gambaran dari orang tuanya sewaktu dulu.
[ A_s ]

♥️♥️♥️
BalasHapusKarena pernikahan hanya sekedar suka sama suka .. ingin saling memiliki bukan untuk membina bahtera rumah tangga yg utuh
BalasHapusKalau tujuan/ niat dari seseorang dalam pernikahannya itu jelas maka jelas pula akan terlihat bagaimana ia berlaku dalam rumah tangganya..
Dan aku setuju banget dengan pendapat artikel diatas.. jadi sebelum itu kita persiapkan diri kita dulu sebaik mungkin sebisa mungkin untuk yg terbaik kelak dalam rumah tangga kita.. apa yg perlu dipersiapkan yaitu muhasabah diri kita, mulai dari perilaku yg beradab serta pendidikan yg baik. Gak hanya itu tapi juga skill kewanitaan yg fitrahnya hrs afa dlm diri kita .
Alkhamdulillah semoga memberikan yg terbaik dan selalu semangat ... goodjob
BalasHapus👍
BalasHapusMasayallah,, Betul skli itu 😊
BalasHapus