Problematika Perekonomian Indonesia dan
Wacana New Normal
Penulis : Amar Awwal
Pada dasarnya, Covid 19 yang muncul di China akhir tahun 2019 ini bukan yang pertama kalinya, melainkan pernah muncul di tahun 1960 yang menyerang pernafasan salah satu pasien yang terkena flu biasa (commond cold).
Beberapa ahli kesehatan dunia yang telah melakukan investigasi mengenai asal dan penyebab virus ini mengatakan, bahwa kemunculannya bermula dari hewan lalu menular ke manusia, atau dengan kata lain virus Zoonosis.
Penyebaran virus ini sama seperti virus penyebaran flu lainnya, yakni dari batuk dan bersin ataupun dari kontak fisik secara langsung dengan manusia yang terinfeksi.
Virus corona ini telah menjadi pandemi internasional, dimana virus ini telah menginfeksi lebih dari 7,3 juta manusia di muka bumi ini. Saat ini, Amerika serikat menduduki posisi pertama angka kasus terbanyak dengan jumlah kasus terdeteksi hingga periode 10 Juni 2020 mencapai angka 2.045.307 kasus, ditambah angka kematian mencapai 114.151 kasus.
Kebijakan pemerintah dan problem di masyarakat
Di tengah mewabahnya virus tersebut, yang dihadapi Indonesia saat ini melahirkan beberapa kebijakan, banyak kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk menanggulangi dampak buruk dari wabah ini, mulai dari kebijakan social distancing, physical distancing, bekerja, belajar dari rumah dan juga beribadah dari rumah.
Upaya ini telah dilakukan pemerintah pada saat angka kasus positif Corona di Indonesia mulai meningkat, hal demikian untuk mengurangi terjadinya penularan yang berakibat pada penambahan kasus.
Namun kebijakan tersebut tak seutuhnya menuai respon masyarakat dengan baik, bahkan beberapa daerah terlihat kontroversial dengan kebijakan tersebut.
Kita melihat dari segi ekonomi, hampir semua masyarakat Indonesia mempunyai latar belakang ekonomi yang sama, apalagi dalam hal pekerjaan. mungkin jika sebagian masyarakat yang melakukan aktivitas pekerjaan di kantor bisa melakukan “work from home”, namun apa kabar dengan masyarakat yang pekerjaannya harus dilakukan diluar ruangan dengan aktifitas fisik secara langsung.
Problem ekonomi masyarakat
Semakin mewabahnya virus ini membuat sebagaian masyarakat resah dan bingung akan seperti apa roda kehidupan hari esok jika pemerintah dan dunia belum bisa menanggulangi virus ini.
Telah banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk bisa mengurangi dampak yang signifikan dari virus ini, namun sampai saat ini belum bisa teratasi sepenuhnya.
Diperlukan adanya solidaritas yang kuat antara masyarakat dan pemerintah untuk bisa bekerja sama dalam menanggulangi dampak dari virus ini. melihat hingga saat ini, 3 bulan lebih covid-19 mewabah di negeri ibu Pertiwi, dan sudah hampir 7 bulan virus ini mewabah secara mengglobal.
Dampak yang timbulkan sangat signifikan, mulai dari bidang sosial, tak kalah telaknya lagi pada bidang ekonomi. Contoh sederhana dalam hal tenaga kerja, akibat adanya virus corona, sebagian dari perusahaan yang sementara mengejar agregat bahkan perusahaan kelas kakap di Indonesia memaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal dengan sejumlah karyawan, baik dari perusahaan yang bergerak di bidang industri, hingga pada perusahaan jasa.
Sejumlah perusahaan dagang (industri) maupun jasa di Indonesia yang melakukan kebijakan PHK demi mengurangi terjadinya kerugian besar diantaranya adalah, sebut saja PT Indosat Tbk, bukalapak, net tv, Krakatau steel, kfc tbk, dan sejumlah perusahaan lainnya.
Hal demikian dilakukan atas dasar menjaga perusahaan dari kerugian, bahkan menjaga perusahaan agar tidak gulung tikar di tengah pandemi Corona virus (covid 19 ) ini.
Urgensitas stabilisasi ekonomi
Menjaga kestabilan perekonomian meski di tengah wabah ini memang sangat kerap di perbincangkan dan mulai direalisasikan di Indonesia dengan berbagai macam cara dari sisi pemerintah sendiri.
Bapak presiden Jokowi menyarankan dan membuat kebijakan agar para pelaku ekonomi di Indonesia bisa bekerja sama dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Proses stabilisasi tidak hanya pada sektor ekonomi, namun juga pada sektor sosial. berbagai macam cara pemerintah menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, bisa dilihat dari adanya peningkatan layananan kesehatan, memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak melalui alokasi dana dana desa dan bantuan langsung tunai (BLT).
Selanjutnya langkah yang dilakukan adalah memberikan kebijakan stimulus seperti relaksasi dan pelonggaran pembayaran pajak, kebijakan ini merupakan langkah yang cukup baik dilakukan oleh pemerintah, karena dikhawatirkan dunia usaha baik dari UMKM, pembiayaan keuangan , perusahan, dan masih banyak pelaku usaha ekonomi lainnya yang terlibat akan mengalami efek lanjutan yang lebih parah.
Langkah stimulus selanjutnya adalah diskon 50% untuk pelanggan listrik yang menggunakan daya 900 volt dan memberikan kompensasi listrik secara gratis bagi pelanggan yang terdaftar menggunakan daya 450 volt.
Kompensasi listrik secara gratis dan diskon ini mulai diberikan pemerintah yang bekerja sama dengan PT PLN pada bulan April lalu, dengan jangka kompensasi pertama selama 3 bulan sebelum ada perubahan kebijakan dari pemerintah.
Wacana new normal sebagai tatanan ekonomi baru
Wacana dan sistem penerapan new normal di Indonesia sudah sangat marak diperbincangkan oleh sejumlah tokoh masyarakat saat ini. Namun sejatinya, wacana new normal (normal baru) ini masih berpusat pada pemerintah. rencananya pemberlakuan new normal di Indonesia baru akan dimulai pada bulan Juli mendatang.
Pro dan kontra mulai terjadi mengenai wacana new normal, ada yang berpendapat bahwa kebijakan new normal masih terlalu dini untuk diterapkan di Indonesia, karena melihat angka pertambahan kasus baru masih sangat meningkat dan belum mengalami penurunan secara signifikan.
Bahkan banyak tokoh luar dan dalam negeri melihat wacana new normal Indonesia ditakutkan malah akan memperburuk keadaan, karena adanya ketidaksiapan beberapa daerah di Indonesia untuk bisa menjalankan new normal pada bulan Juli mendatang.
Sebahagian mulai berkomentar bahwa wacana new normal malah akan menjadi bumerang di Indonesia jika hanya direalisasikan untuk menyelamatkan ekonomi saja, tanpa meninjau ulang dampak apa yang akan ditimbulkan jika new normal nantinya terlaksana.
Bahkan presiden Jokowi telah meninjau kesiapan daerah-daerah di Indonesia untuk menyambut pelaksanaan new normal, dengan lokasi tinjauan lebih di prioritaskan khususnya pada aktivitas publik. seperti tempat ibadah, mall, hingga pada transportasi umum.
Hingga saat ini belum ditemukan titik terang mengenai kepastian alur dan prosedur kebijakan new normal pemerintah pada bulan Juli nanti, bahkan masih berstatus sebagai wacana di meja pemerintahan.
Meski kebijakan new normal belum direalisasikan, namun sudah banyak daerah di Indonesia beraktivitas seperti biasanya dan mulai bermasa bodoh dengan keberadaan virus Corona.
Tak sungkang sungkan bahkan sebagian masyarakat sudah beraktivitas tanpa mengikuti protokol kesehatan, hal itu sebagai bukti nyata bahwa sebagian masyarakat mulai resah dan bingung akan pandemi ini, ditambah menyebarnya informasi entah Hoaks atau valid di masyarakat yang semakin membuat kegaduhan.
Mungkinkah kebijakan new normal nantinya akan berjalan sesuai dengan tujuan utama, atau malah menimbulkan masalah baru bagi Indonesia?.
Kita tunggu saja perealisasian dari wacana new normal pada bulan Juli mendatang, semoga benar bisa membawa negara Indonesia ke peradaban kehidupan baru yang lebih baik.
[ A_s ]

Komentar
Posting Komentar