Langsung ke konten utama

New Normal Yang Abnormal


New Normal Yang Abnormal

Penulis : Nur Azizah Iskandar

Banyak pakar yang memprediksi bahwa pandemi covid-19 ini akan berakhir di tahun 2021, Meski itu hanya tebak-tebakan saja. diberbagai media memberitakan bahwa pemerintah saat ini sedang merencanakan berbagai upaya untuk menghadapi gaya hidup baru yang disebut New Normal.

New Normal yang dianjurkan WHO ini merupakan kehidupan baru yang harus dijalankan oleh masyarakat.  dari kenormalan yang semakin hidup berdampingan dengan virus covid19. Pro dan kontra mulai bermunculan menanggapi rencana penerapan New Normal ditengah meningkatnya kasus covid-19 hingga saat ini.

Istilah ini memang ambigu, apakah kita sudah normal dalam melawan covid-19, Ataukah hanya menyelamatkan “kaum kapitalis” yang merugi saat ini ? 

Agar roda perekonomian tetap berjalan, pemerintah menurunkan TNI dan Polri untuk mendisiplinkan masyarakat yang beraktivitas diluar rumah agar tetap menjaga protokol kesehatan. 

Mungkin itu hanya menutupi ketidaktegasan pemerintah dalam menangani pandemi ini. bagaimana tidak, kebijakan pemerintah yang saat itu memperbolehkan masyarakat mudik saat menjelang lebaran yang akhirnya memperluas penyebaran virus walaupun adanya pelarangan pulang kampong. namun tetap saja mereka berpindah daerah dan masih banyak lagi kebijakan pemerintah yang “kontraproduktif”.

Contoh sederhana, dibukanya pusat perbelanjaan menjelang lebaran. Di Beberapa negara juga telah menerapkan New Normal namun gagal karena semakin meningkatnya kasus covid-19, sehingga terjadi gelombang kedua  pandemi covid-19.

Adanya kebijakan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, yang mengakibatkan kegiatan masyarakat menjadi sangat terbatas, sehingga berimbas pada perekonomian, pendidikan, dll. 

Pada masa transisi menuju new normal, hemat saya sangat terburu-buru. karena mengingat kasus ini tak kunjung menurun. Namun, pemerintah saat ini telah melonggarkan kebijakan tersebut secara bertahap dengan membuka tempat ibadah, pusat perbelanjaan, serta perkantoran dengan mengikuti protokol kesehatan.

Kondisi new normal yang akan terjadi bisa dikatakan “abnormal”. Mengapa demikian? Di tengah peningkatan covid-19 di Indonesia, yang masih memprihatinkan tiba-tiba presiden membuka pusat keramaian yang seharusnya ditutup sampai kasus ini menurun. 

Tidak ada yang salah dengan konsep New Normal, tapi bukankah ini menjadi peluang bertambahnya korban baru dan menambah tugas para tim medis dengan keterbatasan APD, Masker, Dll. 

Pengangguran semakin meluas akibat di PHK, Kerusuhan masih terjadi dimana-mana, masyarakat yang kelaparan, utang bertambah, ekonomi anjlok, apakah itu masih dikatakan New Normal? This is not new normal, but abnormal.

Jadi, untuk menghadapi program New Normal yang akan datang, kunci utama untuk memutus rantai penyebaran virus ini adalah kedisiplinan masyarakat untuk tetap memperhatikan protocol kesehatan. 

Virus ini bukan manusia, ia tidak mengenal kata normal, new normal, maupun abnormal. Selama individu tidak melawan atau menghindarinya maka virus tersebut tetap menular ke individu lain. 

Stay safe everyone.

[ A_s ]



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...