Langsung ke konten utama

Lima Senjata dalam Menuntut Ilmu



Lima Senjata dalam Menuntut Ilmu

Penulis : Rahmida Reski Majid
Editor  : A_s

(Setiap Manusia Adalah Penulis).
Terkadang dalam proses belajar-mengajar yang kita lalui, banyak hal yang seringkali terjadi. Dalam hal ini, adanya problem yang selalu menjadi kendala yang dihadapi ketika adanya yang kita inginkan.

Susahnya memahami pelajaran kerap kali terjadi. Hal ini menjadi permasalahan saya penulis secara pribadi. Saya belajar dari pengalaman setelah mengobservasi diri sendiri. Namun ternyata ada beberapa penyebab utamanya.

Hehehe… sedikit curhat dari pengalaman

Dalam keseharian, para penuntut ilmu tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. yang menjadi objek utama saya disini yaitu adanya kebiasaan untuk memilih mata pelajaran yang menjadi favorit seseorang. 

Terkadang kita lihat siapa guru yang mengajarkannya. nah, terkadang (guru, dosen, Ustazd, dll) pasti memiliki karakter tersendiri yang mempengaruhi  cara mengajarnya. Beberapa hal yang terkadang tidak disukai oleh peserta didik dan mahasiswa. mulai dari cara berbicara, bertanya, dan berpendapat.

Tetapi, yang perlu kita pahami bahwa ikhlas belajar dan mengajar adalah kunci utama dalam menuntut ilmu. Kalau tidak ikhlas, bisa berabeh jadinya.

Maka ilmu tersebut tidak mendapat barokah. 

Oleh karenanya, sangat perlu kita sebagai penuntut ilmu untuk memperhatikan etika-etika dalam menuntut ilmu. terutama dalam memilih ilmu dan pendidik.

Adapun hal utama yang dimaksud disini dalam memilih ilmu dan pendidik  dalam menuntut ilmu diantaranya yaitu :

- kita harus memiliki kecerdasan, dalam hal ini kita harus mampu untuk menempatkan diri kita dalam hal kemampuan.

 -Kita harus memiliki Rasa cinta kepada ilmu, karena bagaimanapun caranya kita mencari ilmu jika kita tidak memiliki kecintaan Maka sia-sialah.

 -Bersikap sabar dan teguh, dalam hal ini juga perlu kita pahami bahwa dalam menuntut ilmu kita hendaklah sabar, karena apa yang kita cari tidak selamanya akan langsung dapat kita pahami tanpa melalui proses. olehnya itu, sangatlah perlu untuk kita bersabar mengikuti proses, karena sejatinya hasil tidak pernah menghianati proses. 

-Petunjuk dari guru, terkadang ada yang mengatakan bahwa di zaman yang modern ini kita sudah sangat mudah untuk memperoleh ilmu, dengan adanya teknologi itu dapat memudahkan kita dalam menuntuk ilmu. tetapi, yang perlu kita ketahui bahwa ilmu yang diberikan langsung oleh guru tentu berbeda dengan ilmu-ilmu yang kita bisa peroleh dengan dengan menggunakan media ataupun teknologi yang canggih. selain itu, ilmu yang kita peroleh dari guru langsung tentu memiliki keberkahan tersendiri jika kita sabar dan ikhlas untuk menerimanya untuk selalu memohon berkah kepada sang guru dari ilmu yang diberikan. 

-Waktu yang cukup panjang, dalam hal ini kita sebagai penuntut ilmu perlu meyakini bahwa tidak ada hal yang bermanfaat yang dapatnya serba instan. semuanya butuh proses, pun melalui pengorbanan baik itu materi maupun waktu. 

Adapun untuk keluar dari problematika-problematika yang kerap kali menghantui semangat kita dalam menuntut ilmu yaitu jika seorang pendidik yang mengajarkan suatu ilmu pengetahuan kepada kita terkadang ada hal yang membuat kita tidak senang.

Memilih mata pelajaran favorit selalu dengan alasan tergantung dengan gurunya, maka untuk mata pelajaran yang lainnya yang kita kurang sepaham dengan gurunya itu menjadi hal yang bisa dikata kita benci. 

Hal ini adalah sesuatu yang keliru dan butuh rekonstruksi. maka dari itu jika misalnya terjadi hal tersebut, maka perlu kita untuk berusaha mencari hal baik dari sudut pandang yang berbeda agar dapat menyukainya.

 Misalnya kita tidak menyukai pelajarannya, maka kita berusaha untuk menyukai guru yang mengajarkannya. begitupun sebaliknya, agar dalam menuntut ilmu tersebut kita dapat memperoleh keberkahan baik itu dari ilmu maupun dari pendidik.

Sebagai penutup, bahwa ilmu dan guru saling memiliki keterkaitan. keduanya memiliki kedudukan yang sama. kita memposisikannya sebagaimana mestinya, demi mencapai berkah dan ridho daripadaNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...