Lagi-lagi Soal Perempuan
Kenali dirimu sebagai manusia perempuan
Bangkitlah sudahi apa yang terjadi
Buatlah perubahan
Pembicaraan gender masih tampak memuncak dikalangan intelektual. memang bukan tanpa alasan yang mendasar, bagaimana tidak? Setiap perempuan belahan bumi manapun sudahkah mampu meloloskan diri dari budaya patriarki dogmatis yang tertanam dalam kalangan masyakat.
Secara historis perempuan selalu berada dibawah laki-laki, walaupun dibelahan bumi kebanyakan kaum perempuan. Pasca perang dunia ke 2 perang ekonomi melawan barat merupakan awal dari banyaknya korban laki-laki.
Imbas dari perang ini adalah kurangnya tenaga laki-laki yang bisa dipekerjakan, sehingga mulailah sejumlah Kaum perempuan dibebaskan lalu dipekerjakan. bukan hanya terkungkung di ruang domestik, namun juga mereka mulai tampil di ruang publik dan menyadari hak-hak mereka yang sepenuhnya tidak tergantung pada laki-laki.
Sebab, kita diciptakan dimuka bumi ini dengan misi yang sama, yaitu menjadi khalifah. saling melengkapi satu sama lain, yang membedakan hanya kontruks sosial. Hal demikianlah yang terus menjadi bahan pendiskusian masyarakat dan kalangan intelektual.
Oleh karena itu, perempuan masih menjadi bahan perdebatan, baik itu dari segi kesetaraan gender, bahkan keadilan.
Istilah gender muncul di abad ke-18, perempuan selalu berada pada ranah pembatasan hak. baik itu politik, pendidikan, dan sosial. perempuan hanya diberi keleluasaan pada ranah domestik saja, mengurus rumah, kasur, dan dapur.
Begitupun yang dikatakan ulama ortodoks dan juga muslim konservatif bahwa peran perempuan hanya terbatas dirumah, kewajiban utamanya adalah mengurus suami, anak, dan tidak di perbolehkan keluar rumah kecuali atas izin suami.
Contoh sederhana seperti Negara arab saudi, perempuan dilarang untuk berkendara sendiri, tetapi dalam al-Qur'an tidak melarang perempuan keluar rumah pun tidak menyebut bahwa perempuan harus disertai kerabat dekat laki-laki ketika keluar rumah. Kekhawatirannya adalah kalau perempuan terganggu keselamatannya.
Memang Peran perempuan ketika mempunyai keluarga yaitu mengurus rumah, suami, dan anak-anaknya. Namun tidak berhenti sampai disitu, kita sebagai perempuan mampu juga untuk bekerja diruang publik dan tidak melalaikan tanggungjawab sebagai istri, laki-laki diberi kewenangan superioritas terhadap perempuan, tetapi memiliki hak-hak yang sama.
Hingga ketika semakin berkembangnya zaman, kebangkitan gerakan perempuan mulai muncul dari tokoh-tokoh pejuang perempuan indonesia. sebut saja R.A kartini, Cut nyak dhien, dewi sartika, dita indah sari, dan masih banyak lagi tokoh aktivis pejuang dan pahlawan perempuan di indonesia.
Kita harus merefleksi diri sebagai perempuan, mengikuti jejak langkah mereka yang sudah memberikan perjuangan untuk kaum perempuan. terutama bagaimana pentingnya perempuan untuk berpendidikan, bukan hanya dipekerjakan secara paksa sebagai buruh tanpa melawan dan bangkit.
Lalu,
apa kabar dengan perempuan hari ini?
Ada yang sadar pentingnya pengetahuan, pendidikan, namun ada pula hanya diam dan bermasa bodoh.
Mengapa penulis mengatakan seperti ini karena realitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebagian kaum perempuan masih terhegemoni budaya westernisasi, mengikuti style Kebarat-baratan.
Apakah mereka pun kini juga terjebak pada lingkaran hedonisme? bagaimana peran kita sebagai kaum perempuan dalam mengcounter doktrin hedonis yang semakin getol dan menguliti budaya lokal.
Kita pahami bersama bahwa laki-laki dan perempuan adalah insan intelektual dan terpelajar yang harus cinta terhadap budaya literasi. akan tetapi, melihat situasi dan kondisi yang ada sekarang apa peran perempuan?. Apakah sebagian mereka sudah terhegemoni dengan adanya pengaruh Westernisasi. hehehe
Oleh karena itu, perempuan harus belajar mencintai budaya literasi, mampu dan sadar akan tanggung jawab yang dimiliki saat ini, esok, dan masa mendatang.
Peralihan teknologi yang semakin canggih harusnya dipergunakan dengan sebaik-baiknya. sehingga kaum terpelajar dapat menggiring dirinya kepada hal-hal yang lebih bermanfaat.
Memang bukan tanpa alasan, kita sebagai kaum yang tidak terlepas dan pasti membutuhkannya adalah juga hal yang terpenting, ada dampak positif dan negatif, tergantung cara pribadi masing-masing menempatkannya.
Perempuan dan laki-laki seharusnya sudah mampu bersaing dalam dunia literasi, namun saat ini posisi laki-laki masih mendominasi dalam pergulatan narasi tersebut. Mengapa demikian?, ya, mungkin saja karena perempuan lebih nyaman berleha-leha.
Saya sebagai kaum perempuan dan untuk seluruh perempuan diluar sana bahwa penting untuk terus menggeluti dunia literasi, agar melawan diskriminasi budaya patriarki yang terus berkembang.
Ada yang katakan perempuan tak bisa berbuat apa-apa tanpa laki-laki. jangan salah, banyak diluar sana perempuan yang mampu menghidupi keluarganya tanpa seorang laki-laki, wong ada pula perempuan yang seperti kepala rumah tangga mencari nafkah walaupun suami mereka masih ada. disini sudah terbukti maskulin 50% dimiliki perempuan dan feminin 50% dimikili laki-laki. wkwkwk
Walaupun perempuan tidak terlepas dari kosmetik untuk mempercantik diri, tetapi perempuan juga harus hebat dan cerdas. perempuan harus bergerak dan berkontribusi untuk kemajuan dan pembangunan Negara.
[ A_s ]

Komentar
Posting Komentar