Langsung ke konten utama

Kebebasan, Bukan Sebebas-bebasnya



Kebebasan, Bukan Sebebas-bebasnya

Penulis : Lia Anggraini

Di era digitalisasi seperti sekarang ini, semua informasi bisa kita akses dengan lebih cepat dan mudah. Semua hal yang ingin kita ketahui atau ingin kita pelajari dapat dengan mudahnya langsung muncul dihadapan kita, cukup dengan mantra “ok google” dan menambahkan sedikit kata kunci saja, lalu muncullah hasil searching yang kita inginkan.

Menakjubkan ya..?

Tak berhenti pada mbah google saja, tetapi pada media sosial lainnya seperti Facebook, Instagram, Twitter dan aplikasi lain sebagainya juga banyak bertebaran informasi yang kadang dicari tak dicari terlintas di layar handphone kita, ini semua berkat kemajuan teknologi hasil ciptaan kecanggihan zaman.

Pada awal terbentuknya sosial media, para pendirinya bertujuan agar aplikasi yang disediakan tersebut dapat menyampaikan informasi secara lebih mudah dan cepat, sehingga berita atau informasi penting bisa langsung tersampaikan dimasyarakat yang ingin mengakses informasi terkini.

Tapi, seiring perkembangan zaman yang semakin maju, hal tersebut malah disalahgunakan oleh para orang-orang yak tak bertanggung jawab, sehingga lebih banyak unsur negatif yang unfaedah hadir didalamnya.

Seperti misalnya banyak bertebaran gambar-gambar dan video-video tak senonoh yang sengaja disebar untuk memanjakan para netizen, mesum yang hilang akal dan moral, tak hanya berhenti disitu saja, media sosial pun dijadikan ladang curhatan hati para netizen dan tempat saling hujat menghujat online paling populer saat ini.

Ya, ini kalau menurut pengamatan saya, tapi itu semua sah-sah saja bagi diri mereka sendiri, toh kalau aku melarang nanti aku jadi bahan hujatan juga. wkwkwk

Saat ini terasa tak ada privasi lagi diantara kita, hingga dengan bebasnya orang lain menguntit dan mengintip kita lewat jendela sosial media, ya kalau aktivitas positif sih no problem, enjoy-enjoy aja. tapi kalau aktivitas yang sebaliknya, bisa berabeh kan?

Karena terasa tak ada lagi tabir pemisah, tak bisa dipungkiri hal tersebut membuat orang-orang merasa sosmed milik pribadi yang lain cuma ngontrak. Upsss

Demi sebuah like, subscribe dan ya apalah namanya itu seseorang sampai rela mengorbankan harga diri, harta, masa depan, bahkan agama. Hukum negara dilanggar, hukum agama pun ditentang. Pertanyaannya, sehatkah pola pikir demikian? Ataukah ada gangguan ghaib? Ya entahlah..

Telah banyak kasus terjadi tetapi malah tak dijadikan pembelajaran, bahkan malah dijadikan bahan ghibah dan hujatan online, yang paling parahnya, kadang ada yang mengikuti jejak pendahulunya hingga harus berurusan dengan hukum, akibat postingan yang mengandung unsur-unsur terlarang, ya itu akibat dari overdosis ke-narsisan yang telah mereka buat sendiri.

Saat ini sedang gencar-gencarnya para netizen berlomba-lomba menjadi seorang youtuber, demi kesenangan pribadi ataupun hanya karena sekedar hobi akibat telah menjadi pengangguran stadium akut.

Nah, sebenarnya sih tidak salah juga ya kalau seseorang ingin menjadi seorang youtuber, karena setiap manusia kan punya hak atas dirinya sendiri. Ya,  walaupun ada batas-batas tertentu yang tak boleh mereka langgar tentunya, seperti yang telah agama dan ketetapan hukum, batas kebebasan pers misalkan. kau tahulah itu

Awalnya si youtube berisi konten-konten edukasi dan video-video lain yang kiranya bermanfaat bagi sejuta netizen, tetapi pada saat ini terlihat mulai banyak youtuber yang melenceng dari kutub positif dan menghasilkan konten-konten picisan yang isinya bertemakan sesuatu yang terlihat tabu.

Dengan santainya menayangkan hal tersebut di chanel mereka, bukan iri yah. tak hanya itu saja, kadang mereka melakukan kejahilan terhadap seseorang dan tanpa merasa bersalah mempublikasikannya.

Semua hal yang dipublikasikan sebenarnya sih sah-sah saja, karena itu memang hak mereka. tetapi apakah sesuatu yang menyalahi aturan namun kelewat batas masih bisa dimaklumi?, apakah mereka sudah merasa hidup tak perlu privasi lagi?. Hey ayolah, ini semua hanya masalah perspektif tiap individu saja yang salah memahami arti dari kebebasan menggunakan hak.

Tapi ya, seyogyanya kita lebih bijak dalam menggunakan sosial media, agar tak membuat kita harus membayar mahal sebuah kecerobohan bernama kebebasan.

[ A_s ]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...