Langsung ke konten utama

Hari Raya Tak Seperti Biasanya


Hari Raya Tak Seperti Biasanya

Penulis : Ahmad Hisyam


( Setiap Manusia Adalah Penulis )

Diawali dari perspektif pribadi tentang pandangan hari raya yang terasa berbeda dengan hari raya tahun-tahun sebelumnya. Sejak adanya wabah yang datang tak diundang masuk ke negeri ini, terjadi perubahan secara drastis di berbagai lini sektor, termasuk dalam perihal ibadah jamaah ramadan beberapa waktu yang lalu. Perubahan yang terjadi bukanlah sebuah harapan, namun telah timbul jadi kenyataan.

Telah usai sudah perjuangan kita selama sebulan penuh beberapa waktu yang lalu dalam memerangi hawa nafsu. Tak terasa  semua telah dilewati dengan alhamdulillah dalam keadaan menahan lapar, haus, dan berbagi macam hal-hal  yang dapat membatalkan puasa, hingga akhirnya berada pada puncak kemenangan hari raya idul fitri.

Semua merasa senang dan bahagia karena menyambut  hari kemenangan setelah berjuang sebulan penuh. Namun pada tahun ini, perayaan ibadah idul fitri rasa-rasanya sedikit menyayat hati.

Bukan karena malas beribadah di bulan ramadan ya juleha hehehe

Namun karena keberadaan  wabah pandemi  yang masih bertebaran disekitaran masyarakat sekejap membuat suasana ramadan sontak sunyi seperti di telan bumi. Yah, mau bagaimana lagi, sebagai masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan, termasuk dalam perihal ibadah berjamaah.

Dung,dung , gendang seruan anak- anak dan lantunan takbir yang menggema di langit-langit seringkali terdengar di akhir malam ramadan. Namun sejak adanya wabah yang Kian mencekam membuat tak banyak masyarakat yang datang untuk meramaikan malam tersebut.

Semua hanya bertakbir di rumah masing-masing sebagai bentuk kewaspadaan atas penyebaran covid-19.

Walaupun demikian, sebahagian kecil orang  masih antusias melaksanakan malam takbiran. Anak-anak  dan sebahagian masyarakat  tetap senang dan gembira walaupun tak seperti tahun- tahun sebelumnya. kegiatan takbir keliling, makan bersama, berkumpul dan merayakan takbiran sesekali disisipi lelucon, tahun ini harus di ganti dengan menggigit jari. hehehe

Mentari terbit menerangi indahnya pagi, Beraneka warna baju baru yang tampak setiap menjelang sholat idul fitri rupanya tidak untuk tahun ini.  hanya sebahagian dari sekian yang masih memakai pakaian baru, mungkin saja keterbatasan ekonomi.

Bukan hanya itu, silaturahim juga semakin terbatas dengan adanya surat edaran dari pemerintah agar tidak mengadakan silaturahim dari rumah ke rumah.
semua memang terasa berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, sebelum keberadaan wabah pandemi.

Semoga hari raya selanjutnya tidak akan terulang seperti perayaan hari raya tahun ini yang hanya menjalankan aktifitas ibadah hari raya dirumah saja.
Ketika tangan tak bisa saling menjabat, Dan mata tak saling menatap, Maka melalui tulisan singkat ini, meski idul fitri telah usai beberapa waktu yang lalu, saya mengucapkan selamat hari raya idul Fitri 1441 hijriah, Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

[A_S]


NGOPINI. Proses di lalui dengan proses juga kan (Hehehe)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...