Langsung ke konten utama

Gangguan Jiwa : Ihwal Kehidupan dan Cerita Pribadi


Gangguan Jiwa : Ihwal Kehidupan dan Cerita Pribadi

Penulis : Nelli Dwi Rahma

"ketika ekspektasi terlalu tinggi. 
Segala usaha sudah dijalani, sekarang kamu hanya butuh pasrah.
Pasrah bukan berarti menyerah,
 Tapi ada sesuatu hal yang tak bisa dipaksa"
(@yudiipratama)

”Apa penyebab orang bisa terserang gangguan jiwa?” 

Apakah orang yang tidak waras itu takdir dari sang pencipta, Ataukah karena fikiran yang kelewat  batas hingga berujung depresi. Atau memiliki angan-angan yang terlalu tinggi namun tak kunjung tercapai. parahnya lagi, biasanya diakibatkan masalah dalam keluarga yang tidak dapat terselesaikan.

Gangguan jiwa sering terjadi akibat dari keluarga yang tidak harmonis, kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk menafkahi keluarga, dan mewujudkan keinginan terhadap dirinya sendiri.

Sedikit bercerita dari pengalaman pribadi, bukan pengalaman yang tidak waras ya sobat, Ketika saya dan saudara menemui orang yang katanya tidak waras, menset yang ada di kepala saya bahwa orang tersebut tidak akan pernah sejalan dengan sodoran pembicaraan. Namun siapa sangka, setelah beberapa pertanyaan kami sodorkan, ternyata pembicaraan kami nyambung. Bisa terbayang kan?...

Dengan melihat kakak saya ngobrol dengan orang gila tersebut, saya merasa kalau dia masih waras, hanya ada hal berat saja yang mungkin terus mengganjal. Awalnya saya dan kakak saya tidak ada niat mau berbicara dengan orang yang katanya kurang waras itu, tetapi karena memiliki tujuan ingin bertemu, maka kami pun langsung menemuinya.

Nah, dari hasil pertemuan itu muncul pertanyaan dalam diri penulis secara pribadi.

Apakah kita hanya menutup mata untuk orang yang tidak waras, dengan melihat jumlahnya yang semakin meningkat dan membiarkan mereka berserakan tanpa rasa peduli. 

Tidakkah ada tindakan yang bisa dilakukan untuk mereka? seperti memberikan tempat khusus agar tidak kelayapan dimana-mana, dan mencoba untuk memberi pengobatan, seperti merehabilitasi orang yang kecanduan narkoba.

 Saya menilai sepertinya masih ada peluang bagi mereka untuk sembuh.

Yah. Memang ada rumah sakit jiwa, tetapi mengapa masih banyak orang kurang waras berkeliaran dimana-mana?

Apakah kita akan membiarkan orang yang gila itu mati dengan kelaparan, terkadang melahap makanan yang basi. Bukan hanya itu, matahari menyengat tubuhnya, ketika hujan harus basah kuyup lalu kedinginan, bahkan seringkali ada yang sampai korban mati tergeletak akibat tak terurusi.

Yah. Memang Kita hanyalah manusia biasa yang mempunyai rasa takut. Ketika kita berjalan dan melihat orang yang tidak waras, pasti selalunya mendhindar untuk bersentuhan dengan mereka. 

Setidaknya jika bertemu dengan orang yang tidak waras, jangan sekali-kali melihat mereka atau mencoba mempermaini mereka, karena mereka mudah tersinggung dan mudah marah, tak jarang biasa melukai. Ini saya petik dari pengalaman pribadi. Hehehe...

Saya menulis tentang orang yang terkena gangguan jiwa karena sudah berkali-kali saya melihat hal demikian, baik di desa maupun di kota. Yang membuat hati saya merasa sedih serta prihatin. Lalu timbul banyak pertanyaan dalam kepala saya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Sebagai penutup " syukurilah apa yang telah diberikan oleh sang pencipta, Karena hidup itu adalah anugerah. Hiduplah yang sederhana dan jangan terlalu berlebih-lebihan, apalagi jika sampai memaksakan suatu kehendak. Hidup yang sederhana jika dinikmati rasanya sangat indah. 

Flashback kisah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Yaitu Umar bin khattab beliau sangatlah takut dengan kehidupan yang bermewah-mewahan karena itu bisa membuat kita jadi angkuh atau sombong.

[ A_s ]

Komentar

  1. Penyebab ganguan jiwa itu di akibatkan kata aku mencintaimu tak tersampaikan kepada org yang di cintai.
    #ayubsadega#😂😁

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...