Langsung ke konten utama

Belajar Menulis : Jangan Ada Kata Nanti Diantara Kita


Belajar Menulis : Jangan Ada Kata Nanti Diantara Kita

Penulis : Bahyudi A.S
Editor   : A.s 

Sejauh-jauhnya jarak, jika kau rutin melangkahkan kaki,
 kau pasti akan sampai. tapi sedekat-dekatnya jarak 
jika kau terus menunda-nunda untuk melangkahkan kaki, 
hingga matipun kau tak akan pernah sampai.

Menulis Memang tak Semanis Madu
Namun Juga tak Sepahit Kisah Cinta Zainuddin Dan Hayati.
Hehehehe.

Dalam kegiatan seperti menulis, merangkum ide, membuat hal yang kreatif dan inovatif, memberikan manfaat yang begitu sangat penting dalam dunia literasi.

Berbicara mengenai ide, ide itu bisa muncul kapanpun dan di manapun. Seringkali kemunculannya pada saat-saat yang tidak terduga. Kadang saat berjalan santai, tiba-tiba ide muncul, saat hendak tidur, santai di rumah, ibadah di masjid, melihat langit, melihat pepohonan, atau bahkan saat sedang menatap si mantan idepun juga bisa muncul begitu saja. Hehehe

Bambang Trim Pendiri Institut Penulis Indonesia mengatakan : Bahwa setiap hari seseorang memiliki ide, namun setiap hari pula seseorang kehilangan ide, keandalan kita adalah mengabadikan ide.


Menanggapi kemunculan ide, tentu setiap orang punya cara yang berbeda-beda dalam menanggapinya. Ada yang mengikatnya dengan segera menulis agar tetap dapat mengigatnya.  Adapula yang menunda dengan mengatakan, Ah nanti, ah sebentar,  kalau ada waktu saya akan menulisnya". 

Bahkan ada yang lebih parah, yaitu tak ingin mengingatnya sama sekali atau dengan sengaja mengabaikannya begitu saja. Dalam hal tanggap terhadap kemunculan ide yang bisa secara tiba-tiba itu, jenis pertama sepertinya hanya beberapa orang saja yang melakukannya. Sementara yang kedua dan ketiga adalah umumnya seseorang, termasuk penulis sendiri.

Menunda-nunda erat kaitannya dengan kemalasan. Sementara kemalasan erat kaitannya dengan penyesalan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang suka menunda-nunda akan mengalami yang namanya penyesalan. 

Kemalasan bisa hinggap pada siapapun. Ada yang melawan kemalasan itu. Namun Ada pula orang yang memupuk kemalasan, hingga akhirnya setiap aktivitas positif yang akan dilakukan selalu di-PHP dengan kata nanti, nanti dan nanti. Ujung-ujungnya tidak jadi dikerjakan alias zong. Upsss

  Dalam hal menulis kita sering berubah bak malaikat, ketika melihat sahabat atau teman kita yang menghasilkan karya kita mendapat motivasi menulis dari mereka yang pandai nulis atau dari para senior. 

Semangat kita berkobar begitu luar biasanya. "Saya harus menulis, kalau dia bisa mengapa saya tidak bisa. Namun entah mengapa, seringkali ketika buku dan pulpen telah tersedia atau laptop telah menyala tepat di depan mata lengkap dengan segelas kopi dan sebatang rokok surya, semangat yang begitu membara acapkali padam begitu saja. Yang muncul justru, adalah kata nanti, nanti, nanti kalau ada waktu luang nanti baru nulis lagi.

 Percayalah, selamanya kita tidak akan pernah menghadirkan karya tulis, jika kita terus memupuk  kemalasan dan menunda-nunda. Menulis menjadi kegiatan yang begitu menyenangkan bagi para pecintanya, ada yang menjadikan menulis sebagai hobi, dan ada juga yang menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan.

 Hal itu dikarenakan menulis memiliki banyak manfaat, diataranya dengan menulis dapat memperkuat nalar berfikir, mempertajam dan lebih memperluas lagi pengetahuan terhadap apa yang menjadi topik dalam tulisan. 

Menulis membuat kita lebih aktif dalam berfikir, membantu meningkatkan imajinasi, membantu menuangkan pendapat secara tersirat dan tersurat, menjadi spirit untuk terus menggali dan menggali pengetahuan. Sebab itulah bagi para penulis, kegiatan menulis ini memiliki cita rasanya sendiri. Yang belum coba menulis mana bisa tau hehehee!!

 Meskipun begitu, bagi seorang pemula seperti saya, ihwal kegiatan menulis juga memiliki banyak kesulitan yang harus dihadapi, diantaranya sulit dalam merangkai kata, bingung memulai dari mana, kurang fokus karna banyak fikiran, kekurangan ide, ditambah lagi jika takut salah, takut tulisannya tidak menarik, dan tidak percaya diri, maka akan semakin terasa sulitlah menulis itu. 

Tapi ingatlah, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan.

 Kesulitan bukan hanya terdapat dalam kegiatan menulis saja, tetapi juga menapaki berbagai pekerjaan lainnya. Maka kesulitan itu menjadi tantangan tersendiri bagi kita, baik dalam kegiatan menulis maupun dalam pekerjaan lainnya. 

Kesulitan itu tidak akan teratasi jika rasa malas telah berakar kuat dalam diri dan sifat menunda-nunda semakin menjadi-jadi. alhasil, berujung pada penyesalan ferguso

 Maka dari itu jangan pernah menunda-nunda lagi, baik itu dalam kegiatan menulis ataupun untuk melakukan pekerjaan lainny. Hasil dari menunda adalah tertunda, apalagi menunda-nunda untuk menghalalkannya (Meminang menulis maksudnya) hehehee!!.

Malas dan menunda-nunda adalah dua sikap yang akan membuat kehidupan seseorang menjadi sengsara dan merana. Melawan keduanya begitu berat. Kita mungkin tahu bahwa perbuatan malas dan menunda bisa berakibat buruk ke depannya, namun di saat tertentu kita tidak berdaya untuk melawannya.

 "Tapi ketahuilah bersama kesulitan ada kemudahan dan ingatlah tak ada usaha awal maka tak ada hasil akhir".

Ketika kita membiarkan sifat malas dan menunda dalam diri terus tumbuh subur, maka kita tidak hanya akan gagal untuk menjadi seorang penulis, namun kita juga bisa gagal sebagai seorang manusia. 

Untuk itu, jika kamu ingin meraih apa yang kamu impikan, buanglah sifat malas dan menunda-nunda, pun pula jika dirimu ingin benar-benar menjadi manusia. Katakan tidak untuk malas dan menunda. 

Benarlah apa yang dikatakan oleh ahli hikmah, "Bila engkau menyia-nyiakan satu detik, berarti engkau menyia-nyiakan satu jam. Bila engkau menyia-nyiakan satu jam, berarti engkau menyia-nyiakan satu hari. Bila engkau menyia-nyiakan satu hari, berarti engkau telah menyia-nyiakan seluruh kehidupanmu". 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...

Perempuan sebagai Hamba Allah Swt

  Perempuan sebagai Hamba Allah Swt penulis: Nur Azima “cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia” _KH. Husein Muhammad_ Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam  melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan Sejarah  yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.  Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak p...