WAJAH ISLAM : Agama Ramah Bukan Marah
Oleh : Ilham Andi Lukman
Editor : A Dhak
Apakah kita sudah melihat bagaimana agama dalam memandang perkembangan zaman di muka bumi ini. Apakah agama menjadi pandangan dan tolak ukur dalam menjalankan kehidupan sehari hari. Atau sebaliknya, agama di jadikan sebuah permainan untuk memenangkan kalangan-kalangan tertentu dan orang-orang yang mencaci maki agama tersebut ? Wallahu alam. Agama lahir untuk umat manusia, menjadi pedoman menjalankan hidup dan kehidupan.
Dalam tulisan kali ini bersama kita menambah khazanah intelektual untuk semua umat muslim yang berada dalam pangkuan agama islam, agar menjadikan sebuah agama islam menjadi agama yang ramah bukan pemarah.
Keberadaan agama tidak bisa dipisahkan dengan budaya. Hal demikian menjadi instrumen ummat manusia agar di jadikan sebagai pelindung, tolak ukur , pedoman dan bahkan di jadikan sebagai sumber segala ilmu pengetahuan.
Agama islam sendiri mengajarkan kita untuk saling membantu bukan untuk mengharapkan, saling menyayangi bukan menyombongi, salling ramah bukan pemarah. Sehingga kita hidup dalam kehidupan yang harmonis dan mengharmoniskan.
Perbedaan pandangan dari beberapa sektor pemikiran umat islam sangat memengaruhi cara berfikir umat muslim satu sama lain, wabilkhusus di indonesia. Aliran-aliran yang mengkalim diri sebagai islam yang sempurna acapkali membuat kegaduhan di tengah ummat, padahal apa yang mereka lakukan itu tidak sepadan oleh ajaran islam yang diajarkan rasulullah SAW dan para wali songo.
Nabi besar muhammad SAW menyampaikan islam sebagai agama rahmatan lilalamin agama untuk seluruh alam semesta, islam bukan hanya agama kaum monaslimat dan monaslimin, atau apalah yang mengkalim diri paling sunnah. Agama tentu sangat berpengaruh diberbagai sektor kehidupan, diantaranya bidang ekonomi, sosial politik, budaya dan pendidikan.
Tantangan terberat kita adalah perkembangan narasi dan wacana agama yang sangat begitu cepat, munculnya berbagai narasi yang memprovokasi sangat mudah didapatkan, miskinnya literasi membuat seseorang kadangkala dengan mudah menerima begitu saja, Alhasil, semua mengklaim diri benar dan menyalahkan kelompok lain.
Kita mengenal bahwa revolusi industri 4.0 merupakan perubahan besar terhadap cara manusia dalam mengolah sumber daya dan memproduksi barang sedimikian rupa agar menjadi kebutuhan umat manusia. Banyaknya pengangguran di akibatkan banyaknya mesin-mesin yang sudah di gunakan secara menyeluruh hasil rekayasa revolusi industri 4.0. maka layak ketika seseorang mengatakan bahwa pekerjaan manusia diambil oleh benda mati.
Melihat fenomena zaman, manusia selalu berkembang menuju perubahan. itu telah menjadi ciri khas yang tidak bisa terlepas dari dirinnya, dalam pandangan islam manusia di lahirkan untuk menjadi seorang khalifah fil ard, dengan itu manusia di tugasi untuk mengelola alam raya beserta isinya. Menjadikan bekal akal pikiran untuk di gunakan mengekplorasi dan merawat alam raya ini.
Tahun 2002 dimana ketika dua ormas besar melakukan pertemuan yakni NU dan Muhammadiyah membahas tentang gerak moral islam dengan tujuan mempererat ukhuwah islamiyah, uhkuwah wataniyah, dan ukhuwah basyariah, agar menjadi islam yg moderat.
Hal demikian sesuai dengan firman allah di surah al hujurat ayat 13 di jelaskan bahwa ”wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa bersuku suku, supaya kamu saling kenal mengenal sesunggguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yg pling bertakwa”.
Sudah jelas pernyataan ayat di atas bahwa islam itu islam yang toleran, menghormati semua suku, agama, budaya, dan ras. mempersatukan satu sama lain, memanusiakan manusia, dan tidak memihak antara suku ras, etnis, dan budaya tertentu.
Kata GUSDUR ”tidak penting apa agamamu sukumu jika kamu sudah berbuat baik sma semua orang maka orang tidak lagi pertanyakan apa agamamu”
Oleh : Ilham Andi Lukman
Editor : A Dhak
Apakah kita sudah melihat bagaimana agama dalam memandang perkembangan zaman di muka bumi ini. Apakah agama menjadi pandangan dan tolak ukur dalam menjalankan kehidupan sehari hari. Atau sebaliknya, agama di jadikan sebuah permainan untuk memenangkan kalangan-kalangan tertentu dan orang-orang yang mencaci maki agama tersebut ? Wallahu alam. Agama lahir untuk umat manusia, menjadi pedoman menjalankan hidup dan kehidupan.
Dalam tulisan kali ini bersama kita menambah khazanah intelektual untuk semua umat muslim yang berada dalam pangkuan agama islam, agar menjadikan sebuah agama islam menjadi agama yang ramah bukan pemarah.
Keberadaan agama tidak bisa dipisahkan dengan budaya. Hal demikian menjadi instrumen ummat manusia agar di jadikan sebagai pelindung, tolak ukur , pedoman dan bahkan di jadikan sebagai sumber segala ilmu pengetahuan.
Agama islam sendiri mengajarkan kita untuk saling membantu bukan untuk mengharapkan, saling menyayangi bukan menyombongi, salling ramah bukan pemarah. Sehingga kita hidup dalam kehidupan yang harmonis dan mengharmoniskan.
Perbedaan pandangan dari beberapa sektor pemikiran umat islam sangat memengaruhi cara berfikir umat muslim satu sama lain, wabilkhusus di indonesia. Aliran-aliran yang mengkalim diri sebagai islam yang sempurna acapkali membuat kegaduhan di tengah ummat, padahal apa yang mereka lakukan itu tidak sepadan oleh ajaran islam yang diajarkan rasulullah SAW dan para wali songo.
Nabi besar muhammad SAW menyampaikan islam sebagai agama rahmatan lilalamin agama untuk seluruh alam semesta, islam bukan hanya agama kaum monaslimat dan monaslimin, atau apalah yang mengkalim diri paling sunnah. Agama tentu sangat berpengaruh diberbagai sektor kehidupan, diantaranya bidang ekonomi, sosial politik, budaya dan pendidikan.
Tantangan terberat kita adalah perkembangan narasi dan wacana agama yang sangat begitu cepat, munculnya berbagai narasi yang memprovokasi sangat mudah didapatkan, miskinnya literasi membuat seseorang kadangkala dengan mudah menerima begitu saja, Alhasil, semua mengklaim diri benar dan menyalahkan kelompok lain.
Kita mengenal bahwa revolusi industri 4.0 merupakan perubahan besar terhadap cara manusia dalam mengolah sumber daya dan memproduksi barang sedimikian rupa agar menjadi kebutuhan umat manusia. Banyaknya pengangguran di akibatkan banyaknya mesin-mesin yang sudah di gunakan secara menyeluruh hasil rekayasa revolusi industri 4.0. maka layak ketika seseorang mengatakan bahwa pekerjaan manusia diambil oleh benda mati.
Melihat fenomena zaman, manusia selalu berkembang menuju perubahan. itu telah menjadi ciri khas yang tidak bisa terlepas dari dirinnya, dalam pandangan islam manusia di lahirkan untuk menjadi seorang khalifah fil ard, dengan itu manusia di tugasi untuk mengelola alam raya beserta isinya. Menjadikan bekal akal pikiran untuk di gunakan mengekplorasi dan merawat alam raya ini.
Tahun 2002 dimana ketika dua ormas besar melakukan pertemuan yakni NU dan Muhammadiyah membahas tentang gerak moral islam dengan tujuan mempererat ukhuwah islamiyah, uhkuwah wataniyah, dan ukhuwah basyariah, agar menjadi islam yg moderat.
Hal demikian sesuai dengan firman allah di surah al hujurat ayat 13 di jelaskan bahwa ”wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa bersuku suku, supaya kamu saling kenal mengenal sesunggguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yg pling bertakwa”.
Sudah jelas pernyataan ayat di atas bahwa islam itu islam yang toleran, menghormati semua suku, agama, budaya, dan ras. mempersatukan satu sama lain, memanusiakan manusia, dan tidak memihak antara suku ras, etnis, dan budaya tertentu.
Kata GUSDUR ”tidak penting apa agamamu sukumu jika kamu sudah berbuat baik sma semua orang maka orang tidak lagi pertanyakan apa agamamu”

Komentar
Posting Komentar