Langsung ke konten utama

Siapakah Aktor Dibalik Suksesnya Sebuah Tulisan Dipublikasikan?


Siapakah Aktor Dibalik Suksesnya Sebuah Tulisan Dipublikasikan?

Oleh      : Sartika Kasri
Editor   : RWN

"Hanya orang-orang yang punya spirit lebih untuk dapat berperan secara multi-fungsi, dan memberi banyak hal terhadap khalayak. Bekerja untuk keabadian tak semulus di dalam drama Korea, dan tak sesulit dengan kisah romantis dalam film India. Hihihi."

Secara harfiah, menulis adalah sebuah aktivitas untuk menuangkan hasil pemikiran kita ataupun kontruksi dari buah bacaan kita. Menjadi seorang penulis, memang bukanlah hal yang mudah, namun yang jauh lebih sulit adalah sama sekali tak pernah menulis. Dan bahkan hanya mengonsumsi tulisan atau bacaan orang lain.

Jangan sesekali memikirkan tentang seberapa hebat karya kita, tapi mampukah kita berani untuk memulai. Menjadi penulis, harus menyiapkan diri untuk menerima kritikan sekaligus saran, karena itu sebagai stimulus kita dalam mengawali sebuah perubahan dalam hidup yang tak kalah pentingnya. Tentu saja, terdapat kebanggaan tersendiri, jika tulisan kita menjadi perbincangan publik. Akan tetapi, tak mesti berpuas diri, dan selalu meningkatkan kualitas menulis seraya lebih giat untuk membaca beragam jenis buku.

Kebanyakan diantara kita beranggapan bahwa, menulis itu impossible, dan dalih absolutnya adalah tidak tahu mau memulai darimana untuk menulis. Sehingga keinginan itu hanya menjadi imajinasi belaka yang tak pernah terealisasikan. Suatu hal yang dapat menenggelamkan segenap potensi yang dimiliki.

Saya teringat dengan salah seorang senior di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (akrab disingkat PMII) yang mengatakan bahwa, 'untuk menjadi suka terhadap sesuatu maka belajarlah untuk menyukainya. Begitu juga dengan menulis, untuk menjadi penulis maka belajarlah untuk mulai menulis. Jadikan menulis itu sebagai bagian yang paling menyenangkan dari hidupmu', begitu nasihatnya. Ini jadi pegangan kala pesimistik menghantam kepala.

Namun demikian, dalam tulisan ini saya berfokus mengulik lebih jauh soal, 'siapakah aktor dibalik tulisan yang berhasil membuat penulisnya menjadi terkenal?' Tanpa disadari, beberapa hal yang terjadi dalam hidup, sangatlah erat dari bantuan orang banyak. Dan mestinya ini bisa mengaktifkan rasa empati sekaligus simpatik bersama agar tidak hanya satu sisi saja diperhatikan.

Terdapat hal yang tak kalah penting dari sebuah tulisan yang berhasil dipublikasikan, yakni peran dari editor. Aktor di belakang layar ini merupakan hal-hal yang dapat menghantarkan penulis meraih tonggak kesuksesan. J.K. Rowling misalnya, tak akan terkenal sebagai penulis mashyur kontemporer, jika tidak ada orang yang bersedia meluangkan waktunya untuk memoles tulisannya yang dapat dibaca oleh seluruh kalangan. Yups, peran editor memang luput dari kacamata publik, yang tidak sepopuler penulisnya.

Meskipun dalam dunia kepenulisan, masih kekurangan penulis yang bisa berperan ganda, yakni sebagai editor. Bahkan, hanya segelintir saja yang dapat dikenal para penulis sekaligus editor di tanah air, maupun di seluruh dunia. Ini menjadi konsentrasi bersama, supaya penulis mampu juga berperan sebagai pengedit. Yah tepat sekali, sangatlah menguras energi, waktu, dan sebagainya agar dapat multi fungsi dalam dunia kepenulisan.

Kendati demikian, perlu kita ketahui bahwa tak jarang bagi perusahaan penerbitan yang membutuhkan seorang editor yang paten. Sebut saja, Erlangga ataupun Yudistira, dan lain sebagainya. Ini memungkinkan bahwa pekerjaan seorang editor, amat terbuka peluangnya untuk tetap menjadi entitas kecil dari sebuah karya.

Profesi editor sekarang ini amat langka. Tak hayal, setiap penerbit membuka lowongan rekrutmen agar mendapatkan seorang editor yang sesuai dengan permintaan perusahaannya. Terlebih, program study seperti ini sangatlah sulit ditemukan yang menyediakan jurusan khusus editor, baik universitas negeri ataupun swasta. Di Indonesia sendiri, jurusan ini hanya bisa ditemui pada salah satu jurusan yang terdapat di politeknik media, itupun sedikit sekali stok atau kouta mahasiswa/mahasiswi yang tersedia di dalamnya.

Saya teringat dengan pengalaman empiris dari paparan sahabat senior yang pernah dilontarkan kepada kami semua, bahwa kemudian 'sahabat-sahabati begitu banyak menyenangi dan suka menulis, namun tak banyak yang dapat berperan ganda sebagai editor'. Karena harus punya managemen waktu yang baik dan bisa membagi skala prioritasnya.

Misalnya, disela-sela aktivitasnya menulis, seringkali terhambat lantaran terdapat tulisan yang mesti dia edit terlebih dahulu agar nampak gurih pasca termuat di berbagai media. Manakala managemen diri kurang baik, maka bisa memengaruhi juga aktivitasnya. Boleh jadi segalanya ambyar (pelesetan dari ambruk) kalau faktor kompetensi dan managemen tak bisa diselaraskan dengan baik.

Saya acapkali kala selesai menulis, kemudian meneruskan tulisan saya ke salah seorang sahabat yang dapat melakukan proses editing, kerap diberi jawaban seperti ini, 'antri dulu yah, soalnya tulisan-tulisan yang masuk belum kelar di edit semuanya'. Jadi, budaya antri juga tersirat di dalamnya, dan para penulis harus punya kesabaran sebelum tulisannya selesai dipoles. Hihihi.

Ini menunjukkan bahwa, sangat minim orang yang lihai dalam kegiatan dan proses editing. Apalagi kalau daerah-daerah yang terbatas sarana dan prasarananya. Karena menjadi seorang pengedit, banyak indikator penting mestinya diketahui, misalnya pengetahuan dan wawasannya harus luas, referensi primernya harus tersedia, dan lain sebagainya.

Memang teramat jarang diketahui oleh banyak orang bahwa, tugas editor begitu besar perannya terhadap sebuah tulisan. Akan tetapi, menjadi seorang pengedit harus siap tidak terkenal, karena fokus utamanya adalah memperkenalkan para penulis lewat karya. Meskipun tak banyak orang tahu, namun pastinya, seorang editor mempunyai kebanggaan tersendiri, jika tulisan yang dia edit dapat menyukseskan penulisnya.

Tugas penulis adalah menuangkan ide maupun gagasan dalam tulisan, sisa tugas selanjutnya adalah dikerjakan oleh editor yang secara kreatif dan inovatif, membuat sebuah tulisan nampak indah, verifikatif dan faktual agar karya tersebut tidak menjadi 'sampah'. Peran editor sangatlah berkait-kelindan terhadap sebuah karya, dan perlu penyesuaian dengan kaidah kepenulisan. Suatu keistimewaan jika mampu berperan sebagai penulis sekaligus pengedit.

Ditambah lagi, sebagai seorang editor, terdapat sesuatu yang privilese. Lantaran, dia dapat membaca pertama kali karya dari seorang penulis yang bahkan sebelum diterbitkan di berbagai media cetak maupun media cyber. Nikmat manalagi yang engkau dustakan kalau seluruh fungsi ini dapat dilakukan hanya dalam satu tarikan nafas?

Untuk itu, saya mengajak kepada seluruh pembaca agar mengabadikan karyanya dengan menulis. Dan tetap menghargai para editor yang menyisihkan waktunya supaya tulisan kita diperindah sedemikian rupa. Sudah barang tentu, hubungan yang baik terjalin dengan sikap saling menghargai satu sama lain.

Terakhir, mari berkarya secara kolektif dan menjadikan dunia kepenulisan sebagai gerakan intelektual untuk berkontribusi terhadap kemajuan negeri. Dan semoga dalam setiap tulisan kita, dapat menghadirkan inspirasi dan manfaat bagi masyarakat berskala luas.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...