Sang Pendekar Pena (Bung Mahbub)
Oleh : Shaliha (Angkatan 60)
Editor : A.S
“Jadilah orang yang hidupnya suka menulis,karena dengan menulis. Dirimu lebih banyak dirimu bisa lebih banyak mengenal sisi utama kehidupan manusia yang ada di seluruh dunia”—(Mahbub Djunaidi).
Hehehe, itu hanya pengantar.
PMII mengenalkanku pada sosok Bung Mahbub melalui beberapa manuskrip sejarah kiprah beliau, tentu ini menjadi spirit baru buat saya sebagai anggota baru pula di PMII, hehehe. Tapi yah, dan ini sangat menarik untuk dituliskan. Mahbub Djunaidi lahir di Jakarta pada 22 juli 1933. Mahbub Djunaidi adalah ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat lainnya yang disematkan di pundaknya.
Nama Mahbub Djunaidi, yang akrab dipanggil Bung Mahbub tentu tidak asing di dunia persilatan tulis-menulis. Penulis senior dari kalangan Nahdlatul Ulama Ini bukan predikat main-main, dia seseorang yang multi-talenta. Kritik-kritik social dalam tulisannya begitu tajam dan dalam kepiawaiannya dalam menulis menjadi sematan abadi Pendekar Pena. Bung mahbub merupakan Salah satu konsolidator organisasi mahasiswa pada masanya, dan juga mahasiswa yang akrab dengan bung karno.
Kebiasaan menulis telah ia lakukan sejak duduk di bangku SMP, bahkan di masa itu, cerpennya berjudul Tanah Mati dipublikasikan oleh Kisah, sebuah majalah kumpulan cerita pendek bermutu, disertai komentar dan penilaian pengelolahnya H.B. Jassin, sang legendaris paus sastra Indonesia.
H.B. Jassin sangat kagum dengan tulisan Mahbub muda. Baginya, Mahbub mampu memandang persoalan dari seginya yang kocak. Gaya tulisannya ringan dan menyenangkan, seolah-olah main-main, tetapi persoalan serius yang disajiakan. Di dunia sastra, Mahbub sangat menyenangi sastra Rusia karena dalam penilaiannya,sastrawan Rusia banyak melahirkan karya sastra yang sarat dengan kritik tajam dan dituturkan secara satire. Mahbub pernah memimpin media massa, juga menulis dan menerjemahkan puluhan buku, diantaranya novel karya George Orwell Binatangisme dll.
Selama menjadi ketua umum PMII, Mahbub berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan PMII wadah pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh Musyawarah NU seluruh Indonesia.
Salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagu-lagu, khususnya lagu mars organisasi. Dia sendiri menyusun lirik lagu mars PMII, lagu yang dinyanyikan pada setiap kesempatan dan pada saat akan memulai acar penting PMII, hingga sekarang. Hehehe keren kan...
Di sekitar waktu pemilu 1977, Mahbub aktif keluar masuk kampus memenuhi undangan mahasiswa untuk memberikan ceramah, diskusi, dan menyampaikan makalah. Akibat kegiatan itu, tanpa kejelasan, Mahbub ditahan pihak berwajib selama setahun. Tanpa jelas apa salahnya karena tidak pernah diproses melalui pengadilan. Sejak penahanan itu, Mahbub tidak pernah sehat sepenuhnya lagi, Mahbub meninggal dunia pada 1 Oktober 1995.
Nama mu abadi melalui karya mu, Bung...

Komentar
Posting Komentar