Langsung ke konten utama

Respon Warga +62 di Tengah Pandemi


Respon Warga +62  di Tengah Pandemi

Oleh : Dhea Reski  Amalia
Editor : A.s

“ Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang
 mengarahkan tidak hanya sebatas pengetahuan, daya dan kemampuannya saja, 
tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya” 
(Stephen King)

Mungkin tidak asing lagi terdengar ditelinga kita tentang Covid-19, atau perlu saya jelaskan lagi ? perihal covid-covidan yaitu virus yang pertama kali muncul di kota Wuhan, Cina. Kurang lebih dua bulan sudah menggerogoti sendi-sendi kehidupan ditanah air. Tidak hanya mengancam kesehatan dan keselamatan, tapi juga meluluhlantakan berbagai sektor lainnya, terutama ekonomi.

Kita tentu sudah melihat perkembangan kasus positif covid-19 di media sosial maupun stasiun televisi yang dari hari ke hari terus bertambah.

Pada tanggal 21 mei kemarin, kasus positif di Indonesia mencapai  973 kasus, hal tersebut membuktikan bahwa virus ini masih massif dan belum ada tanda-tanda bisa dipatahkan dalam waktu dekat ini, mengapa bisa ? Padahal pemerintah sudah mengeluarkan berbagai macam himbauan untuk mencegah rantai penyebaran covid-19, mulai dari mencuci tangan, memakai masker, sosial distancing, Stay at Home, sampai diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai daerah.

   Lalu, bagaimana tanggapan warna  negara Indonesia atau akrab disebut warga +62 ?, Banyak dari mereka yang sama sekali tidak mengindahkan himbauan tersebut.

 Contohnya, kita bisa lihat diberbagai media saat calon pemudik mendesak para petugas bandara untuk membuka bandara secepatnya, ketika  mall dibuka banyak orang-orang berlarian seperti kaget melihat mall layaknya menemukan harta karun yang terpendam , Tanpa takut tertular covid-19.

Kita semua paham, mungkin sudah terlalu bosan dirumah, mungkin ingin bertemu teman-teman, atau pengusaha tidak bisa bertahan lagi dirumah karena membutuhkan uang.

Selalu ada alasan untuk sesuatu, bukan ? Tapi warga +62 mungkin tidak berfikir para tenaga medis mulai berguguran, seakan-akan nyawa dan perjuangan mereka hanya dibalas dengan ego yang tinggi, berasa tidak ada artinya, berasa tidak dihargai. Sampai belakangan ini muncul hastag Indonesia terserah diberbagai media sosial seperti instagram, facebook, twitter, dll.

 Apakah itu tanda kekecewaan tenaga medis ? Sedih? Tentu, tenaga medis bertaruh nyawa tapi beberapa orang diluar sana seenaknya keluar rumah untuk berhura-hura.

Menjelang hari raya Idul fitri, pemerintah makin menjadi-jadi dalam mengeluarkan himbauan mulai dari pusat perbelanjaan sudah bisa beroperasi kembali layaknya hari-hari biasa tapi tempat ibadah masih tidak boleh dipergunakan, kenapa ? Pemerintah juga melontarkan wacana untuk merelaksasi atau melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang katanya bertujuan untuk pemulihan ekonomi ? Sampai keluarnya arahan bahwa semua harus berdamai dengan corona.

Istilah atau jargon yang digunakan oleh pemerintah, Berdamai dengan corona ? Menurut saya itu sangat ceroboh. Tidak heran ketika banyak orang terjebak dalam perdebatan kosong tanpa ujung.

    sama seperti perdebatan mudik atau pulang kampung yang mengemuka beberapa waktu lalu. Tapi, jika melihat situasi saat ini, istilah berdamai memang cukup mengherankan dan menimbulkan berbagai reaksi dan interpretasi, atau tidak semua orang menafsirkan dan menerjemahkannya, tapi  bagi saya pribadi istilah ini kurang bijaksana.

Jika hal seperti itu terus terjadi, bagaimana mungkin virus corona ini bisa dipatahkan ? Jadi wajar  saja kalau tenaga medis sudah tidak bisa berbuat apa-apa dan memviralkan hastag “Indonesiaterserah”. Warga +62 memang benar-benar telah bertindak ambyar, ingin bangkit dari keterpurukan, tapi mereka sendiri belum sadar.

     Saya pun kurang mengerti, orang-orang yang kemarin ignorant dengan peraturan pemerintah hanya karena bosan dirumah itu memang bosan dirumah atau bosan hidup? HAHAHA

Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf lahir dan batin
Semoga Covid-19  secepatnya Berlalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...