Langsung ke konten utama

Ramadan ditengah Wabah : Bagaimana Kondisi Ibadah Kita ?

Ramadan ditengah Wabah : Bagaimana Kondisi Ibadah Kita ?

Penulis : Rahmida Reski majid
Editor  : A.Dhak

 Minal Aidin Walfidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Tepat pada hari Jumat  tertanggal 24 April adalah awal masuknya bulan suci ramadhan Tahun 1441 H/2020 M. Suasana menjemput Ramadhan di bulan april kemarin tentu sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Keadaan Bulan yang penuh Berkah, Bulan yang penuh dengan Ampunan, Menjadi sunyi senyap seketika di tengah  wabah Pandemi Covid 19.

Terlihat jelas adanya perbedaan di tahun-tahun sebelumnya, mulai dari suasana kampung halaman yang ramai karena banyaknya orang-orang yang mudik ke kampung halaman untuk menyambut Bulan Ramadan bersama dengan keluarga itu sudah tidak terjadi lagi, kegiatan-kegiatan di saat inggin menyambut  ramadan seperti ziarah kubur itu sudah tak ramai lagi orang berdatangan.

Bahkan yang lebih membuat mewek pada malam pertama ramadan, himbauan pemerintah menjadi bahan perdebatan di kalangan masyarakat, Setiap Masjid-masjid mengumumkan kegiatan tarwih untuk sementara ditiadakan dengan alasan memutus rantai penyebaran covid-19. Kegiatan ibadah tarwih rupanya mengharuskan dilaksanakan dirumah, kegiatan Buka Bersama pun menjadi sasaran.

Banyak hal yang berbeda secara signifikan dirasakan oleh kalangan muslim, Mulai dari adanya kegiatan-kegiatan seremonial seperti festival anak shaleh, Safari ramadan dari masjid ke masjid, ngaji bareng pas ngabuburit menjelang buka puasa tiba, dan tentu banyak kebiasaan-kebiasaan yang tidak lagi dilaksanakan.
 Pembayaran zakat yang biasanya dilakukan di akhir-akhir ramadan rupanya kali ini dilaksanakan di awal ramadan, hal tersebut dilakukan agar pihak-pihak yang mendapatkan dapat menerimanya dengan cepat untuk digunakan membiayai kehidupannya dalam menjalankan ibadah puasa kali ini dalam kondisi merebaknya wabah.

Beberapa hal yang membedakan ramadan kali ini dengan sebelumnya bukan menjadi alasan bahwa semangat Ibadah kita  Down karena adanya wabah dan syiar-syiar ramadan tak lagi berkumandang.
Kehadiran mengajari kita  agar lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, jika sebelumnya banyak waktu terbuang hanya untuk perihal kesibukan, maka stay at home menjadi jembatan untuk kita merajut kebersamaan dan mendidik  dengan pendekatan kasih sayang untuk ayah, ibu, anak dan istri .
Kondisi ramadan kali yang tak seperti biasanya menjadi anggapan penulis bahwa justru dengan kita berada dirumah banyak hal-hal positif yang bisa kita lakukanm diantaranya adalah memperbanyak ibadah sunnah dan wajib ramadan.

Menghabiskan waktu membaca lembaran-lembaran ayat suci Al-Qur’an, sholawatan, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya. Banyak hal positif yang masih bisa kita lakukan walau berdiam diri di rumah.
Semoga saja ramadhan kali ini menjadi ramadan terbaik untuk kita semua. Perlu dipahami bahwa walaupun dengan adanya wabah ini tentu ada saja sisi Positif bagi kita yang selalu berfikir posistif (Husnudzon) dan terus berusaha.

Oleh karena itu, Jangan biarkan dengan adanya wabah ini yang membuat semangat Ibadah untuk memperbanyak amal shaleh berkurang. walaupun saat ini kita tidak dapat berjabat tangan Untuk meminta maaf, namun kesempatan  untuk mengangkat tangan dan berdoa itu merupakan spirit guna mengharap ridho Allah SWT.

Tetap dirumah dan Perbanyak Ibadah dibulan yang Mulia ini, Semoga saja Ramadan kali ini kita dapat memperbanyak ibadah, dan kita dapat bertemu dengan Malam Lailatul Qadr dengan keadaan berserah diri kepadaNya.
Keberkahan ramadan tetaplah sama seperti ramadan kemarin, kita memiliki kesempatan beribadah dan bermunajat kepada-Nya untuk menebus kekhilafan  kita yang telah lalu. Perbanyak  Berdoa, dan anggap bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan Terakhir kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...