Langsung ke konten utama

PMII Benda Mati, Kaderlah Yang Menghidupi



PMII Benda Mati, Kaderlah Yang Menghidupi
Oleh : Afdal Passambo
Esitor : A.s

“Jika ada junior bertanya soal distribusi kader
siram ia dengan air satu sumur, Mungkin ia sedang mengigau.
Seorang  kader bukanlah merengek ketakutan menghadapi
Masa depan, cukup ia mengisi dirinya, maka dia akan
Hidup dan tumbuh dimana pun”

(Dwi Winarno)

PMII untuk siapa ? ini menjadi pertanyaan agar tak kebablasan menjadi kader. Selaku penulis, saya sering merefleksi dan merenung, untuk siapakah PMII dan apa peran seorang kader. Apakah PMII hanya organisasi massa, atau justru PMII adalah organisasi kaderisasi yang membasis guna kepentingan rakyat dan Negara.   

Rumit rupanya, berhadapan langsung dengan masyarakat tak hanya mengandalkan teori, wacana yang diperdebatkan siang dan malam tak ubahnya seperti debu yang diterpa angin jika hanya sebatas tersimpan di kepala. Masyarakat butuh gerakan, bukan rebahan. kita selalu menganggap sepeleh hal-hal semacam itu, masyarakat juga pandai dan jangan selalu hadir ketika hanya membodo-bodohi.

 Apakah kita selaku kader pergerakan harus selalu melakukan hal-hal seperti itu ? katanya ilmu untuk di amalkan, bukan ilmu untuk ilmu. Keseringan dengan masyarakat memberi respon yang berbeda-beda kepada kader, selalunya ingin menjadi orang yang benar, terlihat merendah namun berilmu lebih baik daripada sombong namun juga tak berisi. Mengapa tak berisi ? Wajarlah sombong karena kurang nutrisi literasi.

Gusdur pernah mengatakan “ketika kau merendahkan seseorang, sama  saja kau merendahkan sang penciptanya”. Selalu kita menemukan orang-orang yang berpendidikan itu justru minder berinteraksi dengan masyarakat yang ada di kampung. Hanya memilah beberapa orang untuk di ajak bercerita.

 Apakah hal demikian menjadi nilai yang terkandung di dalam NDP, Sorry bro, Suaranya agak meninggi. Makna hablumminannas (hubungan antara manusia) ketika di maknai dan resapi dengan khusyu, di sana jelas menjadi cerminan bagaimana cara kita merawat keharmonisan antara sesama manusia.

Ketika ada sebuah pertengkaran atau pertikaian yang terjadi, selaku kader pergerakan mampu memberikan sebuah solusi kepada masyarakat, bukan malah sebaliknya, menjadi provokator guna kepentingan pribadi. 

Santai ferguzo.

 Pandai dan pintar bukan berarti seseorang bijak dalam bertindak, namun bijak dalam bertindak menjadi pertanda bahwa seseorang berilmu. Selaku kader pergerakan selalu mempertimbangkan mana banyak mashalatanya dan mudharatnya, jangan sampai kita selalu menghakimi seseorang tanpa melihat situasi dan kondisi, Jangan sampai kita menghakimi atau menghujat masyarakat dengan kepandaian kita.

Sering kita menemukan kader pergerakan yang telah usai pendidikanya itu hanya selalu melakukan sebuah gerakan politik, dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Maka jangan salahkan ketika lahir generasi yang selalu berebut kursi. hehehe

 Tapi bagaimana bisa kita selaku kader pergerakan mampu mensusupi dan menganalisa apa-apa saja yang akan kita lakukan di hadapan masyarakat bukan mereka yang memasuki kita tapi kitalah yang memasuki rana masyarakat.

Kita selaku kader pergerakan  selalu mendegar perkataan jadikan semua tempat  adalah sekolah dan jadikan orang adalah guru. di hadapan masyarakatlah bukti nyata bahwa kita kader pergerakan mampu menjadi poros perubahan masyarakat dan Negara.

Merendah dan merendahkan diri itu berbeda, merendah diri berarti tawadhu, nah apa kaitannya, penulis hanya berpesan bahwa hormati yang lebih tua.

Biasa kita menemukan ketika di tempat keramaian mereka lewat-lewat saja tanpa matabe-tabe (Memberi penghormatan), itukah yang kita dapatkan di PMII ?, mari kita saling menghargai satu sama lain, apalagi masyarakat sangat membutuhkan tenaga  dan pikiran kita karena mereka anggap kita lebih tau di banding mereka.

 Masyarakat membutuhkan kita, dan mari kita berikan yang terbaik sebisa mungkin. Jangan takut untuk melakukan hal-hal yang baik di hadapan masyarakat, walaupun respon masyarakat berbeda-beda. Apa yang membuat perbedaan cara pandang masyarakat mahasiswa era dahulu dan kekinian ? mahasiswa kekinian mulai luntur idealismenya, literasi dan sebagainya. Apa yang dominan ? tau ah gelap.

Soekarno pernah mengatakan “Aku lebih menyukai pemuda yang merokok dan minum kopi namun berdiskusi tentang nasib bangsanya, daripada pemuda kutu buku yang mementingkan diri sendiri”.

 Ketika kita bergerak, biarkan masyarakat menilai itu baik dan tidaknya, selaku warga pergerakan tak akan kendor dengan cacian dan makian di hadapan masyarakat. Tak bangga dengan pujian. biarkanlah masyarakat melihat sejauh mana rasa sosial kita.

Kata Gusdur “ketika seseorang masih terpengaruh terhadap cacian,  berarti orang tersebut masih di ambang amatiran”. 

Eh, satu lagi. hehehe

PMII benda mati, tapi kader-kadernyalah yang menghidupkan PMII. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...