"Pentingnya literasi untuk Regenerasi"
Penulis: AndiPutra
Memang benar perkataan Nelson Mandela, bahwasanya negara yang maju adalah negara yang baik akan pendidikan nya, dan jika inigin menghancurkan sebuah negara hancurkan lah terlebih dahulu pendidikan nya.
inilah suatu fenomena berulang kali terbentuk di negeri tercinta ini (Indonesia) pendidikan sering kali menjadi buah bibir dalam masalah kesejahteraan generasi bangsa, terlebih lagi dalam prioritas memajukan ilmu pengetahuan, serta pengembangan sumber daya manusia yang di miliki, adalah wajar ketika pendidikan sangatlah susah untuk dikembangkan , sebab melihat kurikulum pembelajaran sering kali membelenggu akal sehat, dan selalunya memberikan dampak metode penghapalan ketimbang memahami.
Adalah fakta pernyataan bahwa untuk mengenal dunia maka membacalah dan untuk di kenal dunia maka menulislah, inilah dua perkataan paling bermakna dalam membangun kemajuan pendidikan di negeri ini, (Membaca dan Menulis), bahkan Jawaban dari semua masalah bangsa, dan jawaban dari semua masalah Dunia ada pada satu kata, kata itu adalah "PENDIDIKAN", akan tapi sampai hari ini,masih ada juga yang bermasa bodoh terutama negeri ini, banyak kaum mayoritas memilih sebagai penonton, memilih sebagai komentator dari sudut lapangan, tanpa berbuat apa-apa, sehingga terus menjadi tanda tanya, ada apa dengan pendidikan negeri ini, apakah pemerintah yang tidak menyuplai kebutuhan Belajar, ataukah secara pribadi diri sendiri yang tidak mau untuk belajar, membaca dan menulis ?? Duta Baca Indonesia (Najwa Shihab) pernah mengatakan, membacalah, baca apa saja, dengan membaca akan membuat kita jadi orang kedalaman imajinasi keluasan hati dan tidak mudah di provokasi.
Setelah saya membaca dua buku,karya Bambang Trim ( menulis saja) dan karya Ngainun Naim( spirit literasi ) hati dan pikiran saya langsung seirama tergugah untuk menulis, tapi ke dua penulis mengatakan untuk menjadi penulis yang hebat harus di mulai dari pembaca buku yang hebat pula, dan banyak lagi para penulis kaliber di Indonesia yang mampu membangun spirit ber-literasi, akan tetapi seiring berjalannya waktu, sejarah selalu mencatat, keadaan literasi di negeri ini tidak baik" saja bagaikan covid yang sedang melanda, keadaan ini acap kali di karena kan kurangnya minat baca, baik dari, kalangan anak-anak, remaja,pelajar,siswa, maupun mahasiswa.
Sebagai stapet generasi bangsa, melihat kondisi negeri ini yang tidak mampu bersaing dalam memajukan jalur Perekonomian, marilah kita sama memajukan negeri ini dengan jalur pendidikan, ada satu tokoh yang sangat menginspirasi literasi bangsa ini adalah Ajib Rosidi, seorang tokoh yang mampu menciptakan karya lewat tangannya sendiri seperti tulisan literatur,buku,dan jurnal, beliau hanya berbekal pendidikan SMP( Sekolah Menengah Pertama) ,tapi karena semangat membaca dan menulis yang di milikinya acap kali dia mampu menarik perhatian dunia lewat karya yang di buatnya, dari beliau kita bisa belajar bahwa untuk sukses dalam memajukan Kehidupan tidak mesti bersekolah tinggi, bahkan dengan hasil karya ciptanya dia mampu mampu mendapat gelar Profesor di Osaka Gaikokugu Daigaku Jepang (universitas bahasa asing Osaka) hanya bermodalkan membaca dan menulis, timbul pertanyaan bagaimana mungkin seorang lulusan SMP mampu menjadi seorang Profesor di negara maju seperti Jepang ? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selagi kita mau berusaha untuk meraih mimpi.
Saya juga teringat dengan filem Tridiot, filem kritk pendidikan yang sangat menginspirasi, dengan filem itu kita bisa belajar bahwa ijazah bukan segala gala nya untuk meraih kesuksesan
Akankah di abad 21 generasi yang katanya penerus bangsa, generasi yang hanya mampu mengritik tanpa memberi solusi, mampukah generasi ini memajukan negeri dan melahirkan kembali para tokoh pejuang literasi, menciptakam karya-kraya yang lebih hebat dari sebelumnya, mungkin dengan unggkapan No Pain No Again (tidak ada rasa sakit maka tak ada kesuksesan) akan bisa menjadi semangat kita untuk memajukan literasi di negeri ini.
Memang seharusnya mulai saat ini kita insyaf dan sadar kembali bahwa pendidikan Negeri ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, marilah kita sesama manusia terutama kaum terpelajar, membumikan literasi, ketika "Mahbub Djunaid" mengatakan tanamkan lah kepada anak-anak mu bahwa hak asasi manusia sama pentingnya sesuap Nasi, maka hari ini tanamkanlah di kepala anak-anak mu bahwa literasi hari ini sama pentingnya sesuap Nasi.
Untuk kata di akhir tulisan ini, ketika kita berangkat dari pemahaman agama, di dalam Islam pun, ayat/Wahyu pertama kali di berikan kepada Nabi Muhammad S.A.W adalah perintah iqra, perintah membaca, adalah bukti nyata bahwa membaca ialah sebagian dari tahap meraih kesuksesan
Di zaman sekarang mungkin jargon yang tepat untuk kaum terpelajar hari ini adalah Pantang Rebahan Sebelum Perubahan
Salam Literasi.
Penulis: AndiPutra
Memang benar perkataan Nelson Mandela, bahwasanya negara yang maju adalah negara yang baik akan pendidikan nya, dan jika inigin menghancurkan sebuah negara hancurkan lah terlebih dahulu pendidikan nya.
inilah suatu fenomena berulang kali terbentuk di negeri tercinta ini (Indonesia) pendidikan sering kali menjadi buah bibir dalam masalah kesejahteraan generasi bangsa, terlebih lagi dalam prioritas memajukan ilmu pengetahuan, serta pengembangan sumber daya manusia yang di miliki, adalah wajar ketika pendidikan sangatlah susah untuk dikembangkan , sebab melihat kurikulum pembelajaran sering kali membelenggu akal sehat, dan selalunya memberikan dampak metode penghapalan ketimbang memahami.
Adalah fakta pernyataan bahwa untuk mengenal dunia maka membacalah dan untuk di kenal dunia maka menulislah, inilah dua perkataan paling bermakna dalam membangun kemajuan pendidikan di negeri ini, (Membaca dan Menulis), bahkan Jawaban dari semua masalah bangsa, dan jawaban dari semua masalah Dunia ada pada satu kata, kata itu adalah "PENDIDIKAN", akan tapi sampai hari ini,masih ada juga yang bermasa bodoh terutama negeri ini, banyak kaum mayoritas memilih sebagai penonton, memilih sebagai komentator dari sudut lapangan, tanpa berbuat apa-apa, sehingga terus menjadi tanda tanya, ada apa dengan pendidikan negeri ini, apakah pemerintah yang tidak menyuplai kebutuhan Belajar, ataukah secara pribadi diri sendiri yang tidak mau untuk belajar, membaca dan menulis ?? Duta Baca Indonesia (Najwa Shihab) pernah mengatakan, membacalah, baca apa saja, dengan membaca akan membuat kita jadi orang kedalaman imajinasi keluasan hati dan tidak mudah di provokasi.
Setelah saya membaca dua buku,karya Bambang Trim ( menulis saja) dan karya Ngainun Naim( spirit literasi ) hati dan pikiran saya langsung seirama tergugah untuk menulis, tapi ke dua penulis mengatakan untuk menjadi penulis yang hebat harus di mulai dari pembaca buku yang hebat pula, dan banyak lagi para penulis kaliber di Indonesia yang mampu membangun spirit ber-literasi, akan tetapi seiring berjalannya waktu, sejarah selalu mencatat, keadaan literasi di negeri ini tidak baik" saja bagaikan covid yang sedang melanda, keadaan ini acap kali di karena kan kurangnya minat baca, baik dari, kalangan anak-anak, remaja,pelajar,siswa, maupun mahasiswa.
Sebagai stapet generasi bangsa, melihat kondisi negeri ini yang tidak mampu bersaing dalam memajukan jalur Perekonomian, marilah kita sama memajukan negeri ini dengan jalur pendidikan, ada satu tokoh yang sangat menginspirasi literasi bangsa ini adalah Ajib Rosidi, seorang tokoh yang mampu menciptakan karya lewat tangannya sendiri seperti tulisan literatur,buku,dan jurnal, beliau hanya berbekal pendidikan SMP( Sekolah Menengah Pertama) ,tapi karena semangat membaca dan menulis yang di milikinya acap kali dia mampu menarik perhatian dunia lewat karya yang di buatnya, dari beliau kita bisa belajar bahwa untuk sukses dalam memajukan Kehidupan tidak mesti bersekolah tinggi, bahkan dengan hasil karya ciptanya dia mampu mampu mendapat gelar Profesor di Osaka Gaikokugu Daigaku Jepang (universitas bahasa asing Osaka) hanya bermodalkan membaca dan menulis, timbul pertanyaan bagaimana mungkin seorang lulusan SMP mampu menjadi seorang Profesor di negara maju seperti Jepang ? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selagi kita mau berusaha untuk meraih mimpi.
Saya juga teringat dengan filem Tridiot, filem kritk pendidikan yang sangat menginspirasi, dengan filem itu kita bisa belajar bahwa ijazah bukan segala gala nya untuk meraih kesuksesan
Akankah di abad 21 generasi yang katanya penerus bangsa, generasi yang hanya mampu mengritik tanpa memberi solusi, mampukah generasi ini memajukan negeri dan melahirkan kembali para tokoh pejuang literasi, menciptakam karya-kraya yang lebih hebat dari sebelumnya, mungkin dengan unggkapan No Pain No Again (tidak ada rasa sakit maka tak ada kesuksesan) akan bisa menjadi semangat kita untuk memajukan literasi di negeri ini.
Memang seharusnya mulai saat ini kita insyaf dan sadar kembali bahwa pendidikan Negeri ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, marilah kita sesama manusia terutama kaum terpelajar, membumikan literasi, ketika "Mahbub Djunaid" mengatakan tanamkan lah kepada anak-anak mu bahwa hak asasi manusia sama pentingnya sesuap Nasi, maka hari ini tanamkanlah di kepala anak-anak mu bahwa literasi hari ini sama pentingnya sesuap Nasi.
Untuk kata di akhir tulisan ini, ketika kita berangkat dari pemahaman agama, di dalam Islam pun, ayat/Wahyu pertama kali di berikan kepada Nabi Muhammad S.A.W adalah perintah iqra, perintah membaca, adalah bukti nyata bahwa membaca ialah sebagian dari tahap meraih kesuksesan
Di zaman sekarang mungkin jargon yang tepat untuk kaum terpelajar hari ini adalah Pantang Rebahan Sebelum Perubahan
Salam Literasi.

Maju ki senior😁
BalasHapus