Langsung ke konten utama

Melawan Ke-Buntuan dengan Responsif


Melawan Ke-buntuan dengan Resfonsif
Oleh     : Listyani
Editor  : A.s

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
(Pramoedia Ananta Toer)

Istilah buntu (Masa bodoh)  bermula ketika datangnya rasa malas menyelimuti diri, malas beraktifitas misalnya seperti membaca, menulis,mendengarkan dan malas dalam segala hal. jika sifat itu yang terus menerus tumbuh dan menetap dalam diri maka (buntu) akan terus menjadi-jadi, dia selalu Betah dan tidak ingin pergi, menganggap bahwa seseorang keenakan dengan adanya si buntu dengan rasa malas.

Mengingat lagi bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang bodoh hanya saja mereka malas mencari untuk megetahui. Tuhan telah menciptakan manusia yang begitu sempurna,berbeda dengan hewan dan binatang . Manusia di ciptakan dengan dibekali akal dan hawa nafsu, adanya akal yang di ciptakan tuhan manusia bisa berfikir & berilmu.

Hanya saja banyak kemudian manusia yang tidak mempergunakan akal itu sebaik mungkin, dengan Adanya (buntu) ini yang di dukung oleh rasa malas, seakan- akan tidak mengenal dan mengetahui bahwa siapa dirinya, Dan ketika tidak ada keinginan untuk merubahnya maka hidup akan terasa hampa dan merugi.

Saya mengingat salah satu perkataan imam syafi’ I yang mengatakan bahwa "jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka bersiaplah menanggung pedihnya kebodohan". Ini yang patut jadi cerminan bahwa semua aspek kehidupan membutuhkan ilmu dan pengetahuan.

Jika masih ada sifat malas yg tertanam di dalam diri maka bergegaslah untuk mencabutnya dengan melakukan suatu hal yang senantiasa berfaedah . Walaupun perlahan, namun jadikanlah sesuatu yang perlahan itu seperti layaknya segenggam tanah yang kamu miliki step by step menjadi Gunung yang sangat besar.  Akibat dari jerih payah mu mengumpulkan tanah itu hingga menjadi gunung yang indah di pandang.

Ketika seseorang ingin  pintar membaca misalnya, tentu orang tersebut tidak memulainya dengan langsung membaca tulisan tersebut tetapi, sebelum itu seseorang tersebut di bina terlebih dahulu untuk mengenal huruf Lalu kemudian membaca dan menuliskannya.

Mengapa jika belajar menulis itu pertama harus memakai pensil ? mengapa bukan langsung pulpen saja? karena itulah proses, ketika ingin sukses tentu tidak serta merta langsung mendapatkan hasil.

Tetapi di balik semua itu ada proses terlebih dahulu yang harus kita lewati,  agar membuat proses itu utuh dan sempurna, kita harus melakukannya dengan berhati-hati agar tidak tertusuk duri hingga akhirnya berhenti dan tidak mau melangkah lagi. itulah yang harus jadi cerminan bahwa sahnya janganlah gegabah dalam melakukan proses itu.

Terus lah melakukan perubahan, dan kubur se dalam mungkin rasa malas itu. Perubahan akan terjadi ketika kita merespon perubahan itu, dan di sekeliling mereka mendukung bukan mencelah. Ingat, bahwa cara perfikir sukses yakni  Sukses selalu berfikir besar.

Fokuslah berfikir pada sebuah titik, Berfikir Realistis, Adaftif dan responsif.

 Mari sama-sama keluar dari zona (Ke-buntu-An).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...