Masyarakat Jawa : Perihal Tradisi dan Tata Krama
Oleh : Ega Alfiana Fradilla
Editor : A.s
Selaku penulis bukan bermaksud untuk bersikap primordial dalam menulis tentang kehidupan masyarakat jawa. Namun, akhir-akhir ini adakalanya sikut-menyikut terjadi akibat kedangkalan pengetahuan mengenai karakteristik dan kebiasaan suatu masyarakat tersendiri.
So, siapkan segelas kopi sambil menyabet kata per kata dalam tulisan ini. hehehe
Masyarakat jawa di kenal memiliki sifat ramah dan menjunjung tinggi nilai sopan santun. Masyarakat jawa juga mudah menjalin pertemanan dengan siapapun tanpa mengenal suku, agama dan kebudayaan. sehingga masyarakat Jawa di terima dimanapun ia berada.
Dalam hidup bermasyarakat orang jawa tidak memandang status seseorang, baik agama maupun daerah asal seseorang. Bagi masyarakat jawa semua orang itu sama, lahir dengan fitrahnya sebagai seorang manusia.
Hal demikian menjadi ciri khas tersendiri ketika mereka berbaur dengan suku lain dari sifat yang di turunkan oleh nenek moyang masyarakat jawa. Kendati demikian, tak sepenuhnya masyarakat jawa memiliki sifat seperti itu.
Seperti yang dapat kita lihat sekarang, khususnya di kalangan muda. Kebanyakan dari mereka sudah tidak lagi menanamkan sifat sopan santun dan etika dalam diri mereka. Seperti berbicara lembut kepada orang yang lebih tua, menundukkan kepala saat berpapasan dengan orang yang lebih tua, dan membungkukkan badan ketika lewat di depan orang yang lebih tua.
Tindakan seperti itu sekarang sudah jarang kita temui dalam kalangan anak muda, kebanyakan kalangan muda sekarang saat berbicara kepada orang yang lebih tua acap kali menggunakan nada bicara yang sangat tinggi. Tuman, bukan hanya itu bahkan saat berpapasan dengan orang yang lebih tua atau berjalan melewati orang yang lebih tua tidak menundukkan kepala dan membungkukkan badan.
Kebanyakan kalangan muda sekarang saat berbicara kepada orang yang lebih tua mereka seperti berbicara kepada temannya, bahkan menganggap sebagai temannya. Hal tersebut sangat tidak sesuai dengan sifat masyarakat jawa yang di kenal oleh orang banyak, bahwa masyarakat jawa menjunjung tinggi nilai sopan santun.
Masyarakat jawa juga di kenal sebagai orang yang menerima seseorang apa adanya upsss, misalnya dalam hal hubungan. Mereka akan menerima pasangannya tanpa melihat pangkat, jabatan, maupun yang lainnya.
Yang penting mereka saling suka dan merasa cocok maka mereka akan menikah dan membentuk keluarga baru. Dalam hal pernikahan juga tak kalah hebohnya dengan tradisi masyarakat jawa yang masih mempertahankan tradisi-tradisi dari leluhur, misalnya pasang tarub (tenda), kembar mayang (terbuat dari batang pisang dan janur),dll.
Dalam hal makan masyarakat jawa memiliki kebiasaan makan dengan muluk/puluk yaitu kebiasaan makan dengan menggunakan tangan. Kebiasaan tersebut sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang dan sampai saat ini masih banyak masyarakat jawa yang melestarikan kebiasaan tersebut.
Menyantap makanan dengan cara muluk/puluk memang terasa lebih nikmat terlebih jika makannya sambil duduk di lesehan gubuk di tengah sawah, maka rasa nikmat tersebut bertambah dua kali lipat. Hehehe monggo di coba
Selain itu orang jawa juga terkenal dengan berbagai larangan dan aturan dalam bentuk mitos yang beredar di masyarakat. Misalnya ora ilok mangan karo ngomong ( tidak bagus makan sambil bicara), ya karena nanti makan bisa tersedak kalau sambil ngomong, Hehehe. Mitos- mitos yang beredar seperti jangan makan di depan pintu, jangan bikin rumah menghadap ke timur, jangan tidur menjelang magrib dan masih banyak lagi. Mitos- mitos tersebut sampai saat ini menjadi kepercayaan turun-temurun, termasuk dalam hal pernikahan.
Jadi kita sebagai masyarakat suku Jawa harus menjunjung tinggi nilai kesopanan dan tetap menjaga tata karma.
Ada pepatah yang mengatakan “sinau tata krama luwih disik tinimbang ilmu, amergo akeh wong sing nduwe ilmu nanging ora duwe tata krama” (belajar tata krama terlebih dahulu daripada ilmu, karena banyak orang yang punya ilmu namun tidak punya tata karma).
“Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, lan ojo aleman” (jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut dan jangan mudah manja).

Keren
BalasHapus