Langsung ke konten utama

JERITAN HATI SEORANG MAHASISWA TERKAIT KULIAH DARING


JERITAN HATI SEORANG MAHASISWA 
TERKAIT KULIAH DARING


“Didik Rakyat dengan Organisasi
dan didik penguasa dengan perlawanan”

Tirto Adi Soedirjo (Minke, dalam Tetralogi Pram)

Penulis : Ilham Andi Lukman & Muhammad Rezha
Editor  : A.s

Hari ini Teman-Teman,mahasiswa sedang di perhadapkan dengan kebijakan dari para pimpinan tertinggi birokrasi. Dimana semua mahasiswa harus menanggung beban perkuliahan dengan sistem pembelajaran yang sifatnya berbasis Online (Daring). Malang

Sontak hal ini langsung menjadi beban bagi teman-teman mahasiswa yang tak siap dengan kebijakan tersebut.dengan pertimbangan sebagian mahasiswa tidak cukup memiliki alat electronik,terkendala dengan jaringan,persoalan biaya paket, hal demikian merupakan sebagian permasalahan besar yang terjadi sekarang ini.

Beberapa mahasiswa lainya tidak mempersoalkan hal ini, karna merasa berkecukupan dan mampu memenuhi itu semua. Anggapan ini tentu sah-sah saja, namun disisi lain penetapan kuliah daring sangat meresahkan mahasiswa yang memiliki ekonomi berkecupan dan fasilitas yang tak memadai.

Nah sekarang apakah ada kebijakan yang akan di berikan kepada mahasiswa lainya yang tidak mampu untuk memenuhi itu semua? Entahlah, semua itu nanti kita lihat di lapangan. Mungkin Tulisan ini akan mewakili jeritan hati teman-teman mahasiswa tentang adanya kuliah daring.

Hidup mahasiswa…

Apa kabar pendidikan indonesia hari ini? Betulkah sudah mampu mensejahterkan rakyat dan apakah sudah menjadi pendidikan yg baik tanpa ada campur tangan oleh negara2 luar.

Terkait hal ini, kami menuliskan sedikit bagaimana hati seorang mahasiswa dan para pelajar yang sedang mengalami kesakitan dan menangis melihat metode pendidikan yang di terapkan di tengah pandemi covid 19.

Setelah wabah pandemi covid 19 menyerang negara indonesia,aktivitas diberbagai sektor diberi jarak batasan. Diantaranya PNS,honorer, Instansi pendidikan,dsb. Instansi pendidikan atau kampus meniadakan kuliah secara tatap muka langsung di seluruh indonesia, namun di gantikan oleh kuliah daring (online).

Rupanya banyak hal yang menjadi kendala dalam proses perkuliahan diantaranya mengenai sinyal dan kelengkapan alat elektronik. Sekiranya birokrasi paham

Tak kalah mirisnya lagi terkait keputusan sepihak oleh dosen pembimbing yang memberikan tugas tidak sesuai hasil keputusan  yang sudah di keluarkan oleh birokrasi kampus terkait kuliah daring.

Banyak mahasiswa yang mengeluh dengan kondisi lapangan mengenai kuliah daring yang tidak sesuai prosedur dari pihak kampus. ini kemudian menjadi beban para mahasiswa, apalagi terkait sinyal yang tidak mendukung dan minimnya keuangan untuk membeli paket data.

Melihat himbauan pemerintah saat ini bahwa seluruh warga indonesia di harapkan untuk stay at home dan memilki kesadaran diri untuk memutus mata rantai covid 19 yang tiada henti terus memakan korban.

Hal demikian memicu para buruh tani dan masyarakat miskin tidak bisa lagi mendapatkan hasil atau upah untuk menafkahi keluarga terkhusus para anaknya yang sedang melaksanakan kuliah daring.

Pertanyaanya kemana wajah pemerintah dan pihak kampus melihat orang tua mahasiswa yang tidak mampu lagi membiayai anaknya untuk kuliah daring ?

Akhir-akhir ini banyak mahasiswa yang menangis merintih dan berdoa agar pandemi covid-19 secepatnya berakhir, agar aktitivitas perkuliahan kembali seperti biasa (tatap muka).

Keluh kesah dari mahasiswa mengatakan bahwa kuliah daring tidak kondusif untuk memberikan ilmu pengetahuan. para dosen hanya memberikan tugas tanpa di jelaskan terlebih dahulu, dan absensi kehadiran sangat merepotkan karena harus melewati beberapa tahap dan ada pula dosen yang tidak ingin menerima kritikan. Ambyar

Tulisan ini sebagai kritikan kepada para pihak kampus dan pemerintah untuk bagaimana bisa agar memberikan keringanan dan bantuàn untuk para mahasiswa yang saat ini sedang mengalami kesedihan dan kebodohan terkait kuliah daring di tengah pandemi covid 19.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...