Langsung ke konten utama

Alasan Kita Perlu Untuk Menulis


Alasan Kita Perlu Untuk Menulis

Oleh    : Erbayanti
Editor : RWN


'Aku menulis karena tugas manusia adalah sebagai khalifah dimuka bumi, dan aku menulis karena aku tak ingin jauh dari ALLAH SWT."

Pertanyaan yang sering muncul bagi calon penulis (termasuk saya sendiri) adalah, 'apakah menulis itu susah?' Dengan jawaban yang simple, bahwa menulis itu gampang hanya menggunakan pena dan selembaran kertas. Menulis juga tidak banyak menyita waktu, dan pekerjaan itu amat menyenangkan apabila dilakukan dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu, ada juga orang yang menganjurkan agar menulis dengan hati, sehingga tulisan yang dihasilkan dapat mengalir seperti air yang turun dari tebing ke bawah bukit, lancar tanpa hambatan. Dan dapat menularkan cinta dan kasih sayang bagi pembacanya.

Tulisan yang baik biasanya dihasilkan dari penulis yang menulis dengan ikhlas tanpa beban, dan  mempunyai pengetahuan yang baik pula. Adapun keinginan menulis, bisa muncul dari segi abstraksi maupun terbangun secara empirik. Misalnya, terinspirasi dalam perjalanan hidup yang kerap menggoyangkan emosionalitas, seperti perasaan sedih dan senang yang dapat dituangkan dalam tulisan.

Kendati demikian, untuk memulai hal yang baru, seperti menulis, pasti selalu saja terdapat  hambatan. Misalnya, khawatir jika tulisan kita jelek dan tidak berkualitas, maupun hal-hal yang menganggu psikologis ketika menulis. Kadang-kadang, kita perlu membuang perasaan cemas tersebut, lantaran itu dapat membuat tulisan kita semrawut dan tidak selesai dikerjakan. Justru, dari tulisan yang berhasil di klop jadi karya, akan menambah belantika pemikiran dan warna-warni kehidupan.

Untuk melawan hambatan tersebut, haruslah diubah pola pikir sedemikian rupa agar aktualisasi diri dapat digaungkan. Mengubahnya dengan "katakanlah' hambatan itu sebagai peluang dalam menulis. Karena itu merupakan medium pembelajaran, dan dapat menambah khazanah pengetahuan bersama.

Tentunya tidak meninggalkan aktivitas untuk membaca beragam buku dengan macam-macam judul. Manfaat yang dapat diserap pada aktivitas membaca buku, memberikan saya ilmu dan pengetahuan, seperti misalnya cerminan hidup, motivasi, sejarah, ilmiah, cinta, dan masih banyak lagi daftarnya. Pembaca bisa menambahkan sendiri list dari kemaslahatan membaca buku.

Kalau René Descartes berkata 'aku berpikir maka aku ada, saya sadur dengan kalimat, 'aku menulis karena aku ada'. Aku menulis karena aku memiliki masa lalu, masa kini, dan menjadi pemilik masa depan. Dan aku menulis karena itu aku meruang dan mewaktu, serta aku menulis karena itu aku penulis! Jadi, tanamkanlah dalam hati bahwa 'aku bisa dan mampu untuk menulis'.

Perlu kita ketahui bersama bahwa menulis itu memiliki manfaat dan tujuan. Sisa kembali kepada penulis dalam mengeksplorasi pengetahuannya pada tulisan. Asal, menyalurkan segenap inspirasi dari setiap saduran tulisan agar dapat membangkitkan harapan dan semangat bagi pembaca.

Saya akan mengulas dari dimensi keagamaan (Islam) soal menulis. Secara teologis, respons manusia diperintah oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah 'iqra' yang berarti 'bacalah!' Dalam penyeruhan itu, bukan hanya sekedar tulisan, melainkan bacalah keadaan sekitar kehidupan yang secara historiografi dan kontekstual. Para pakar teolog sering menyandingkan bahwa, menulis merupakan ibadah yang bonusnya menambah pahala kita di dunia. Tentu saja, dapat menjadi modalitas untuk menghadapNYA dihari penghisapan nanti.

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik–baiknya manusia di antara kamu adalah yang paling baik banyak manfaatnya bagi orang lain (Hadits Riwayat Bukhari). Coba bayangkan, jika kita menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, berapa banyak pahala yang kita dapatkan. Dan bernilai pahala yang tiada putus-putusnya, selagi orang yang membacanya masih mengamalkan apa yang tersurat dalam tulisan kita.

Dari dimensi kesehatan, manfaat menulis begitu beragam dan membuat kita tetap sehat. Selain berolahraga secara rutin, menulis juga bisa melatih otot jari-jari tangan, melatih kelenturan tangan, meningkatkan cara kerja otak, melatih otot mata (jika dalam jarak yang dianjurkan), dan lain sebagainya.

Menulis juga membantu kita dalam memulihkan emosi seseorang melalui kata-kata. Bahkan menulis dapat membantu untuk tertidur, jika kita menghabiskan waktu 15 menit di malam hari, hanya untuk menuliskan apa yang anda alami selama beraktivitas pada hari itu. Dapat dikatakan bahwa, tidur kita bisa berkualitas dan baik, bilamana menyisihkan waktu untuk menulis sebelum kita beranjak ke tempat tidur.

Kegiatan menulis, punya manfaat tersendiri terhadap seni dan tersirat implikasi estetik di dalamnya. Selain bernyanyi dan bermain musik, menulis bisa menciptakan hasrat dari otak yang terbalut rasa keindahan dengan ilustrasi 'bersahabat' dari hasil tulisan. Dapat diartikan, menulis merupakan seni yang indah, lantaran hanya dengan tulisan, kita dapat dipengaruhi maupun punya influencer terhadap orang lain (pembaca).

Diakhir tulisan ini, teramat banyak manfaat yang bisa diserap dalam aktivitas menulis. Kata Pramoedya Anatra Toer, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Dan menulis merupakan pekerjaan untuk menuju keabadian”. Fisik dapat fana, tulisan akan selalu abadi disetiap karya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...