Langsung ke konten utama

Masyarakat Desa dan Pendidikan Media

Penulis : Sahabat Resa


Sudah hal nyata di zaman sekarang ini manusia telah mengenal berbagai Media, akan tetapi kerja dari Media tersebut , banyak yang kurang memahami, sehingga media sering kali di salahgunakan oleh sekolompok orang, baik dari media visual, bersifat penglihatan dan  media non visual bersifat suara dan gambar.

Belakangan ini media sangat berkembang pesat,bahkan telah menjadi sumber informasi bagi setiap penggunanya, terlebih lagi, media kini meng-GLOBAL ke seluruh Antero dunia

Pada akhirnya Media di jadikan sebagai sumber informasi bagi seluruh masyarakat di belahan dunia, terutama di negara maju, penggunaan jasa media kini menjadi kewajiban dalam pekerjaan keseharian nya, sehingga Bagi mereka yang paham soal berita media, akan mampu memfilter berbagai wacana media yang tersebar, sangat di sayangkan bagi  mereka yang kurang paham masalah media, mereka akan sangat di pusingkan, Timbul pertanyaan, bagaimana dengan masyarakat bawah, mereka yang tinggal di pedesaan, mereka yang minim pengetahuan tentang media hari ini.

 kita rasakan bersama bahwa kondisi media hari ini media lebih banyak menyebar berita hoax ketimbang berita nyata (Fakta), sehingga masyarakat pedesaan, menjadi lebih panik, dan lebih heboh dalam menanggapi hal tersebut,ketimbang dengan  mereka, para pengguna Media yang paham akan sumber berita tersebut.

mungkin mereka yang paham berita Media akan santai-santai saja menanggapinya,tapi bagaimana dengan kepanikan mereka, masyarakat pedesaan yang aman-aman saja, tapi akibat media Hoax mereka jadi kacau balau. Kata Sujiwo Tedjo: "antisipasi boleh; panik, jangan"

inilah suasana fenomena sekarang, maraknya pemberitaan di media soal Pandemi virus covid-9 (Corona), lagi-lagi, kaum masyarakat bawah yang lebih banyak terkena virus hoax ketimbang virus covid itu sendiri, mereka terlalu cepat mempercayai semua wacana berita yg tersebar, baik dari media, maupun dari mulut ke mulut, seharusnya akan lebih baik jika kita mampu mencerna terlebih dahulu berita yang di sebarkan oleh media itu, apakah bersifat rill benar terjadi ataukah masih ragu-ragu.

Sangat miris bagi kalangan masyarak,mereka tidak menyadari di balik penyebaran berita media,bahwa ada oknum yang tidak bertanggung jawab menyalurkan berita tersebut, seperti Yang sudah di tuliskan yaitu berita tentang HOAX.

Ketika opini semacam itu tersebar ke masyarakat, pasti mereka akan menyampaikannya dari satu tempat ke tempat lainya, sehingga berita yang tidak jelas kebenarannya  akan membuat masyarakat menjadi panik," mungkin bagi mereka yang paham akan berita media ,dengan  mudahnya saja untuk membedakan  mana yang benar mana pula yang HOAX.

Di saat seperti inilah perlu kita memberikan edukasi tentang media pemberitaan yang sifatnya Tidak benar di kalangan masyarakat, agar mereka bisa memahami maksud dan tujuan sebenarnya dari media, kelak mereka tidak gagal paham lagi terhadap apa yang mereka lihat dan mereka dengarkan.

Mungkin penulis bisa sampaikan bahwa edukasi untuk masyarakat itu sangat lah penting, seperti yang tertera dalam  pasal 28C ayat 1 yang berbunyi “setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak  mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi mengningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.

Ini berarti bahwa setiap warga Negara berhak untuk mengembangkan diri dalam hal pendidikan teknologi  agar bisa meningkatkan kualitas hidupnya, Agar mereka yang minim akan pengetahuan Media bisa menambah ilmu tentang Fungsi dan tujuan media itu sendiri, sehingga masyarakat dapat terhindar dari persoaalan gagal paham mengenai  media tersebut.

Jadi dalam narasi mengenai fenomena hari ini, seperti itulah pandangan saya melihat masyarakat,bahwa dalam menanggapi media sekarang ini, seharusnya ada penyaringan terlebih dahulu  sebelum menyebarkan berita, terlebih lagi masyarakat hari ini hanya bisa mengangguk ngangguk tanpa memahami permasalahan sebenarnya yang terjadi di luar sana, melalui media ini sendiri kondisi masyarakat mengalami kepanikan.

mungkin dengan adanya edukasi maupun sosialisasi terhadap Masyarakat, akan menambah pengetahuan bahwa betapa pentingnya untuk memahami dan mencerna baik - baik,bukan malah selalu memperingati sosialisasi terhadap cuci tangan sebelum makan, tapi sampaikan juga berita yang di sebarkan oleh media, apakah benar atau hoax agar tidak terjadi gagal paham dan pemaknaan kata serta menghindarkan dari terjadinya konflik itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...