Kita sebagai perempuan patut mengetahui bagaimana sosok perempuan yang berjasa bagi kebebasan bernalar hari ini bagi perempuan. Dia adalah Mary Wollstonecraft Yang merupakan seorang penulis, filsuf dan feminis Britania Raya pada abad ke-18.
Tokoh ini merupakan seorang feminis liberal dan salah satu pelopor pendidikan bagi perempuan pada masanya. Mary Wollstonecraft menulis pada waktu posisi sosial dan ekonomi perempuan di Eropa menurun (1759-1799).
Berbicara mengenai Mary Wollstonecraft, Dia merupakan penulis perempuan berpengaruh di dunia. Karyanya sangat menggencangkan, masterpiecenya yakni "A Vindication of the Rights of Women", yang mengulas tentang kebebasan dan persamaan antara laki-laki dan perempuan. Nah landasan ini dijadikan sebagai landasan gerakan hak perempuan.
Situasi sosial yang tumpang tindih antara kapitalisme dan ketimpangan yang terjadi dikalangan perempuan. Terutama antara perempuan yang beruntung dan tidak beruntung. Perempuan yang dapat bebas berkeliaran dan perempuan yang hanya terkurung dalam sangkarnya. Perempuan borjuis dan perempuan kelas menengah. Sehingga perempuan kelas menengah yang dikatakan Mary adalah perempuan “peliharaan” yang mengorbankan kesehatan dan kebebasannya demi laki-laki, karena perempuan kelas menengah ini dilarang melakukan kegiatan diluar rumah, termasuk untuk menerima kesempatan untuk mengembangkan nalarnya dengan alasan bahwa mereka lebih baik memanjakan dirinya demi untuk suami dan anak-anaknya, dan nantinya mereka bisa dikatakan manusia yang utuh.
Atas dasar situasi ini, meskipun Wollstonecraft tidak menggunakan istilah seperti yang sering dikatakan “Peran gender yang dikontruksi secara sosial”, yang menyangkal perempuan secara alami cenderung hanya sebagai pemburu dan pemberi kenikmatan bagi laki-laki. Ia berargumen bahwa jika laki-laki dilakukan hal sama, dikurung didalam sangkar, laki-lakipun akan mempunyai sifat yang sama seperti perempuan. Karena diabaikan kesempatannya untuk mengembangkan nalarnya, untuk menjadi cerdas maka perempuan lebih emosional dari pada laki-laki.
Penilaian negatifnya atas emosi dan penilan yang tinggi atas nalar, sebagai kapasitas yang membedakan manusia dan binatang. Sehingga Dia membantah dan tidak menyukai karya Jean-Jacques Rousseeau, yang mengatakan perkembangan rasional sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi bagi laki-laki,dan tidak bagi perempuan.
Kemudian Wollstonecraft menegaskan bahwa, jika nalar adalah kapasitas yang membedakan manusia dan binatang, maka kecuali jika perempuan bukan binatang liar, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kapasitas ini. Maka dari itu, masyarakat wajib memberikan pendidikan kepada perempuan, seperti juga kepada laki-laki, karena semua manusia berhak mendapatkan kesempatan yang setara untuk mengembangkan kapasitas nalar dan moralnya, sehingga mereka utuh sebagai manusia.
Perempuan haruslah cerdas dan itu adalah haknya. Perempuan harus terdidik, karena perempuan terdidik yang sungguh-sungguh akan menjadi penyumbang utama kesejahteraan masyarakat. Perempuan tidak boleh hanya ingin bergantung pada suaminya kelak. Perempuan harus mandiri terutama dalam segi intelektual. Atas dasar berbagai kritikan diatas, terhadap permasalahan yang terjadi pada perempuan didalam masyarakat pada saat itu, sehingga Mary Wollstonecraft menyuarakan tuntutan agar terjadi kesetaraan dalam pendidikan antara laki-laki dan perempuan.
Untuk itu, saat ini penting bagi kita para perempuan yang telah sampai pada fase emansipasi memastikan bahwa jenjang pendidikan dan kualitas pendidikan kita sudah setara. Kita semua harus bersuara, memastikan nalar kita dan laki-laki setara. Hidup terbebas merupakan hak setiap manusia dan itu harus dimiliki segenap makhluk hidup.
•Pesan ku buat perempuan yang sedang berjuang.
Penulis:Sahabatwati Ummu kalsum

Komentar
Posting Komentar