*Goresan Untuk Sahabat*
Penulis : Ummul Haira Asmar
"Manusia mempunyai kecenderungan lisan dan tulisan. Manusia adalah makhluk hidup sekaligus sosial, memaknai segala hal dengan kata, kalimat, paragraf sehingga membentuk konstruk linguistik dalam berkomunikasi. Caranya pun sangatlah unik, baik searah, dua arah, bahkan multi-komunikatif bisa menjalar seraya mengisyaratkan makna".
Apakah sahabat begitu familiar mengenal istilah teknologi? Sudah barang tentu hampir semua kita memiliki alat dan sarananya. Setiap harinya muncul fitur-fitur kekinian yang begitu pesat. Berbagai aplikasi teramat menarik dan memudahkan komunikasi, pekerjaan, pendidikan, literasi, aktivitas politik, kampanye kemanusiaan dan lain sebagainya.
Dengan kemajuan teknologi, kita cepat akrab membersamai tanpa sekat, ruang dan waktu dalam satu hentakan jempol. Kita bisa saling bertegur sapa, saling menanyakan kabar, dan memberikan hal-hal yang menyangkut dunia pendidikan di jagat media maya.
Seiring bergulirnya tahun 2020, komunikasi kian intensif, baik online maupun offline. Kontrasnya sangat terasa, memunculkan klausul yang saling tarik-menarik, ada baik dan buruk, terdapat kebenaran dan kebohongan, afirmasi karakter dan negasi karakter, dan masih banyak lagi yang bisa sahabat tambahkan.
Manusia dapat berkomunikasi secara daring dengan mengakses jaringan internet, sesuatu yang tentunya menjadi sarana untuk bisa terhubung pada server dan sirkuit jaringan. Komunikasi yang semacam ini, telah bertransformasi seiring perkembangan zaman.
Di media sosial pun, menjadi wahana dan ladang berbagai aktivitas yang memunculkan hal prestisius, maupun di saat yang bersamaan menciptakan sensasional. Seperti Twitter, Facebook, Line, Whatsapp, Kompasiana, dan sekawanannya; merupakan beberapa perangkat lunak yang memuluskan medan komunikasi manusia kini, via internet tentunya.
Penting kiranya diketahui, teknologi ada beberapa macam, yah sahabat. Ada teknologi dalam bidang transportasi, kedokteran, bisnis, linkungan, dan masih banyak lagi. Jangan salah kaprah atau keburu tarik kesimpulan dulu, karena saya bermaksud menguliti teknologi dalam bidang pendidikan.
Beranjak dari itu, sekiranya sahabat pembaca sudah tahu ihwal bahasan kali ini. Menyoal wacana pendidikan dalam teknologi. Saya menganggap ini penting diutarakan, karena keseharian kita sebagai peserta didik—sekaligus kader Pergerakan—tak bisa lepas dari teknologi.
Apa yang membuat aspek ini jarang ditelisik? Barangkali karena kurang minat, minim data, atau bahkan kurangnya pengetahuan. Ini tentu jadi soalan serius. Mengapa demikian? Jawabnya, tentu banyak dari kita—disadari atau tidak—telah masuk ke lembah yang gelap ilmu pengetahuan.
Berawal dari merefleksi diri sendiri; bahwa, selama ini saya terpedaya; bahkan, seringkali dibutakan oleh melimpahnya produk teknologi yang kaya akan fitur 3-dimensi beserta sejuta kemanfaatannya. Tetapi kok, heran beribu heran, kenikmatan itu seakan-akan masih sangat kurang. Kok bisa yah seperti itu? Kenikmatan yang tersebutkan adalah terbukanya ladang keilmuan yang seakan tiada ujung, seharusnya sigap kita manfaatkan.
Secara realistis—kehadiran teknologi dengan segenap kecanggihannya—serasa begitu minim pada taraf pengelolaan dan pemanfaatan, khususnya kader pergerakan. Begitu banyak sahabat yang amat sulit memaksimalkan kecanggihan dunia virtual. Sedih rasanya berada di alam semesta yang terang benderang dengan cahaya keilmuan, tetapi, masih saja diri ini beserta para sahabat, berjamaah untuk betah menghirup kungkungan angin perih. Perih karena ilmu pengetahuan yang minim.
Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia—dari namanya saja Pergerakan—seharusnya perlu menyadari ini. Setidaknya, itu menjadi bagian refleksi kritis buat aktualisasi ke depan. Terutama buat saya pribadi, saya menuliskan ini berdasarkan pengamatan selama kurang lebih 3 tahun berkhidmat di Pergerakan.
Terkait tujuan utama kita yang lahir dari wadah ini—bahkan tak pernah meminta balas budi—sepatutnya kita menjadi corong, pusat, maupun centrum pengetahuan; sebagai manusia perubah peradaban. Tidak sekadar tinggal duduk diam memberi wejangan, menjadi instrumen polemik, yang hanya tersampaikan diujung bibir sampai dengungan suara yang menggema; tapi, sayangnya itu hanya sekedar wacana. Mungkin juga, itu digunakan untuk mendongkrak popularitas. Ataukah, mungkin sebatas kepentingan kekuasaan? Entahlah.
Ah, sudahlah. Tapi sebagai bentuk refleksi, saya sendiri merasa perlu mengajak sahabat-sahabat sekalian; barangkali untuk sekadar melihat kembali, berbagai problematika tadi. Ayolah, kita kembali hidupkan tujuan utama kita, sebagai warga pergerakan. Yakni, membentuk insan yang taat kepada Allah, santun, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan Negara.
Buka kembali memori sahabat sekalian, tentang sang pendekar pena, nakhoda pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Dialah, Mahbub Djunaidi, yang harus dicontohi keberanian dan kegigihan, serta intelektualitasnya dalam menggali ilmu. Dengan adanya kenangan dari orang tua (pendahulu) kita, seharusnya, semangat sahabat-sahabat turut menyala kembali. Apalagi kecanggihan teknologi yang mendukung. Tapi, alhasil hanya sebagaian saja sahabat-sahabat yang sadar akan kenikmatan sang pengcipta dalam persandingan ilmu dan teknologi.
Pedang bermata ganda. Demikian ringkasnya, sahabat-sahabat sekalian. Sebagai belantara ilmu dengan sejuta penawarannya; namun juga, kadang meninabobokkan. Pesatnya teknologi menjulang tinggi, menghinggapi diri kita sekalian; kadang juga diriku sendiri. Diri yang saat ini sedang dilipur duka, bercampur cemas; kadang sesal ketika berkhayal. Menapaki seperti apa langkah yang harus kulakukan sekarang dan selanjutnya.
Haruskah aku "meng-copy" sang pendekar pena, bung Mahbub, untuk berusaha menyadarkan diri, juga sahabat-sahabatku; agar bangkit untuk merekonsiliasi semua keadaan yang dulunya bersinar gemerlap bak air bah menggenangi lautan pergerakan. Mungkin yang saya maksud disini soal output dari hasil proses selama ini berorganisasi.
Kini, bisa dikatakan, kegiatan literasi dan aksi, surut seperti keringnya air di sungai. Pemicu utamanya, tidak lain tidak bukan, ialah teknologi juga. Kebiasaan nyata sahabat-sahabat terhadap teknologi yang salah satu keluarannya adalah gawai/smartphone.
Smartphone yang seharusnya jadi lumbung ilmu pengetahuan, kini semakin terbelakang dibuatnya. Ini dikarenakan adanya berbagai macam sosial media—facebook, instagram, line, dan sebagainya—memang sangat menarik. Iya, saya katakan menarik. Karena, bagi orang yang jeli, terkadang terdapat kutipan bermakna, terdapat juga artikel, atau setidaknya goresan singkat (qoutes) dari untaian kaum intelektual yang seharusnya dimanfaatkan, serta sederet hal positif lainnya. Tapi, nyatanya masih susah juga dikontrol pemanfaatannya, dan menjadikannya sebagai akses dan rujukan pengetahuan yang tentunya bermanfaat.
Entahlah, memang sulit dijelaskan. Alam semesta sekarang yang berisikan para milenial dan generasi Z, yang acuh tak acuh dengan kewajibannya. Sesekali dapat kita tengok keseharian yang dimuat di cerita media whatshapp maupun insta story. Tidak jadi masalah ketika yang dimuat adalah aktifitas sehari-harinya. Mungkin itu adalah bagian dari proses menuju kebahagiaan hidupnya dan itu merupakan hak setiap insan. Tetapi yang menyesakkan, dalam benak pribadiku ketika kata-kata bijak tiada hentinya bergantian muncul memenuhi beranda. Seakan, ialah manusia yang bijak seorang diri. Ataukah hal lainnya? Entahlah.
Mungkin sedikit jadi problem terpaut pada bagian ini. Karena—kalau boleh jujur—secara pribadi, saya adalah orang yang takut menuangkan isi kepala di laman media sosial. Kendati demikian, lebih kupilih membagikan hal-hal yang sangat bertolak belakang akan pelajaran. Toh, kalaupun saya membagikan, atau berbicara singkat tentang hal yang bijak dan idealistik, mungkin itu adalah suatu aktifitas yang benar-benar telah saya implementasikan pada realitasku. Iya, mungkin setiap pribadi orang berbeda-beda dalam memaknai hidup dan sepak terjangnya. Begitupun juga proses setiap kader, yang mempunyai cara yang beda dalam menunjukkan hasil prosesnya.
Sebagian kader, ada yang bersifat publishtik, juga ada yang privatik, serta mungkin yang lainnya. Layaknya—secara pribadi—saya tergolong kader yang privat terhadap proses belajar di organisasi. Yaa, seperti misalnya polemik yang sebelumnya. Ketika kata-kata bijak hasil isi kepala sangat kaku dan takut untuk kuperlihatkan ke sahabat-sahabat yang lain. Ada yang bertanya, "mengapa demikian?" Singkat jawabku, aku takut ketika yang kupublish, tidak sesuai dengan dedikasiku terhadap organisasi yang perlahan telah membesarkan namaku.
Sahabat-sahabat, mungkin tulisan ini saya buat semata-mata hanya untuk memotivasi diri sendiri, atas segala kekurangan selama berproses di wadah pergerakan. Sahabat-sahabat pergerakan, dengan adanya tulisan singkat ini—sebagai bahan refleksi—ayo sama-sama kita buka mata, lapangkan dada, dan bangkit; serta, yakinkan bahwa kita semua memiliki potensi yang sama besarnya, untuk menuai prestasi teruntuk wadah kita. Seraplah manfaat di setiap kata yang terdapat ditulisanku, yang tidak bermanfaatnya harap diselipkan pada secarik kantong keresek agar tak melubangi qalbu.
Penulis : Ummul Haira Asmar
Apakah sahabat begitu familiar mengenal istilah teknologi? Sudah barang tentu hampir semua kita memiliki alat dan sarananya. Setiap harinya muncul fitur-fitur kekinian yang begitu pesat. Berbagai aplikasi teramat menarik dan memudahkan komunikasi, pekerjaan, pendidikan, literasi, aktivitas politik, kampanye kemanusiaan dan lain sebagainya.
Dengan kemajuan teknologi, kita cepat akrab membersamai tanpa sekat, ruang dan waktu dalam satu hentakan jempol. Kita bisa saling bertegur sapa, saling menanyakan kabar, dan memberikan hal-hal yang menyangkut dunia pendidikan di jagat media maya.
Seiring bergulirnya tahun 2020, komunikasi kian intensif, baik online maupun offline. Kontrasnya sangat terasa, memunculkan klausul yang saling tarik-menarik, ada baik dan buruk, terdapat kebenaran dan kebohongan, afirmasi karakter dan negasi karakter, dan masih banyak lagi yang bisa sahabat tambahkan.
Manusia dapat berkomunikasi secara daring dengan mengakses jaringan internet, sesuatu yang tentunya menjadi sarana untuk bisa terhubung pada server dan sirkuit jaringan. Komunikasi yang semacam ini, telah bertransformasi seiring perkembangan zaman.
Di media sosial pun, menjadi wahana dan ladang berbagai aktivitas yang memunculkan hal prestisius, maupun di saat yang bersamaan menciptakan sensasional. Seperti Twitter, Facebook, Line, Whatsapp, Kompasiana, dan sekawanannya; merupakan beberapa perangkat lunak yang memuluskan medan komunikasi manusia kini, via internet tentunya.
Penting kiranya diketahui, teknologi ada beberapa macam, yah sahabat. Ada teknologi dalam bidang transportasi, kedokteran, bisnis, linkungan, dan masih banyak lagi. Jangan salah kaprah atau keburu tarik kesimpulan dulu, karena saya bermaksud menguliti teknologi dalam bidang pendidikan.
Beranjak dari itu, sekiranya sahabat pembaca sudah tahu ihwal bahasan kali ini. Menyoal wacana pendidikan dalam teknologi. Saya menganggap ini penting diutarakan, karena keseharian kita sebagai peserta didik—sekaligus kader Pergerakan—tak bisa lepas dari teknologi.
Apa yang membuat aspek ini jarang ditelisik? Barangkali karena kurang minat, minim data, atau bahkan kurangnya pengetahuan. Ini tentu jadi soalan serius. Mengapa demikian? Jawabnya, tentu banyak dari kita—disadari atau tidak—telah masuk ke lembah yang gelap ilmu pengetahuan.
Berawal dari merefleksi diri sendiri; bahwa, selama ini saya terpedaya; bahkan, seringkali dibutakan oleh melimpahnya produk teknologi yang kaya akan fitur 3-dimensi beserta sejuta kemanfaatannya. Tetapi kok, heran beribu heran, kenikmatan itu seakan-akan masih sangat kurang. Kok bisa yah seperti itu? Kenikmatan yang tersebutkan adalah terbukanya ladang keilmuan yang seakan tiada ujung, seharusnya sigap kita manfaatkan.
Secara realistis—kehadiran teknologi dengan segenap kecanggihannya—serasa begitu minim pada taraf pengelolaan dan pemanfaatan, khususnya kader pergerakan. Begitu banyak sahabat yang amat sulit memaksimalkan kecanggihan dunia virtual. Sedih rasanya berada di alam semesta yang terang benderang dengan cahaya keilmuan, tetapi, masih saja diri ini beserta para sahabat, berjamaah untuk betah menghirup kungkungan angin perih. Perih karena ilmu pengetahuan yang minim.
Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia—dari namanya saja Pergerakan—seharusnya perlu menyadari ini. Setidaknya, itu menjadi bagian refleksi kritis buat aktualisasi ke depan. Terutama buat saya pribadi, saya menuliskan ini berdasarkan pengamatan selama kurang lebih 3 tahun berkhidmat di Pergerakan.
Terkait tujuan utama kita yang lahir dari wadah ini—bahkan tak pernah meminta balas budi—sepatutnya kita menjadi corong, pusat, maupun centrum pengetahuan; sebagai manusia perubah peradaban. Tidak sekadar tinggal duduk diam memberi wejangan, menjadi instrumen polemik, yang hanya tersampaikan diujung bibir sampai dengungan suara yang menggema; tapi, sayangnya itu hanya sekedar wacana. Mungkin juga, itu digunakan untuk mendongkrak popularitas. Ataukah, mungkin sebatas kepentingan kekuasaan? Entahlah.
Ah, sudahlah. Tapi sebagai bentuk refleksi, saya sendiri merasa perlu mengajak sahabat-sahabat sekalian; barangkali untuk sekadar melihat kembali, berbagai problematika tadi. Ayolah, kita kembali hidupkan tujuan utama kita, sebagai warga pergerakan. Yakni, membentuk insan yang taat kepada Allah, santun, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan Negara.
Buka kembali memori sahabat sekalian, tentang sang pendekar pena, nakhoda pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Dialah, Mahbub Djunaidi, yang harus dicontohi keberanian dan kegigihan, serta intelektualitasnya dalam menggali ilmu. Dengan adanya kenangan dari orang tua (pendahulu) kita, seharusnya, semangat sahabat-sahabat turut menyala kembali. Apalagi kecanggihan teknologi yang mendukung. Tapi, alhasil hanya sebagaian saja sahabat-sahabat yang sadar akan kenikmatan sang pengcipta dalam persandingan ilmu dan teknologi.
Pedang bermata ganda. Demikian ringkasnya, sahabat-sahabat sekalian. Sebagai belantara ilmu dengan sejuta penawarannya; namun juga, kadang meninabobokkan. Pesatnya teknologi menjulang tinggi, menghinggapi diri kita sekalian; kadang juga diriku sendiri. Diri yang saat ini sedang dilipur duka, bercampur cemas; kadang sesal ketika berkhayal. Menapaki seperti apa langkah yang harus kulakukan sekarang dan selanjutnya.
Haruskah aku "meng-copy" sang pendekar pena, bung Mahbub, untuk berusaha menyadarkan diri, juga sahabat-sahabatku; agar bangkit untuk merekonsiliasi semua keadaan yang dulunya bersinar gemerlap bak air bah menggenangi lautan pergerakan. Mungkin yang saya maksud disini soal output dari hasil proses selama ini berorganisasi.
Kini, bisa dikatakan, kegiatan literasi dan aksi, surut seperti keringnya air di sungai. Pemicu utamanya, tidak lain tidak bukan, ialah teknologi juga. Kebiasaan nyata sahabat-sahabat terhadap teknologi yang salah satu keluarannya adalah gawai/smartphone.
Smartphone yang seharusnya jadi lumbung ilmu pengetahuan, kini semakin terbelakang dibuatnya. Ini dikarenakan adanya berbagai macam sosial media—facebook, instagram, line, dan sebagainya—memang sangat menarik. Iya, saya katakan menarik. Karena, bagi orang yang jeli, terkadang terdapat kutipan bermakna, terdapat juga artikel, atau setidaknya goresan singkat (qoutes) dari untaian kaum intelektual yang seharusnya dimanfaatkan, serta sederet hal positif lainnya. Tapi, nyatanya masih susah juga dikontrol pemanfaatannya, dan menjadikannya sebagai akses dan rujukan pengetahuan yang tentunya bermanfaat.
Entahlah, memang sulit dijelaskan. Alam semesta sekarang yang berisikan para milenial dan generasi Z, yang acuh tak acuh dengan kewajibannya. Sesekali dapat kita tengok keseharian yang dimuat di cerita media whatshapp maupun insta story. Tidak jadi masalah ketika yang dimuat adalah aktifitas sehari-harinya. Mungkin itu adalah bagian dari proses menuju kebahagiaan hidupnya dan itu merupakan hak setiap insan. Tetapi yang menyesakkan, dalam benak pribadiku ketika kata-kata bijak tiada hentinya bergantian muncul memenuhi beranda. Seakan, ialah manusia yang bijak seorang diri. Ataukah hal lainnya? Entahlah.
Mungkin sedikit jadi problem terpaut pada bagian ini. Karena—kalau boleh jujur—secara pribadi, saya adalah orang yang takut menuangkan isi kepala di laman media sosial. Kendati demikian, lebih kupilih membagikan hal-hal yang sangat bertolak belakang akan pelajaran. Toh, kalaupun saya membagikan, atau berbicara singkat tentang hal yang bijak dan idealistik, mungkin itu adalah suatu aktifitas yang benar-benar telah saya implementasikan pada realitasku. Iya, mungkin setiap pribadi orang berbeda-beda dalam memaknai hidup dan sepak terjangnya. Begitupun juga proses setiap kader, yang mempunyai cara yang beda dalam menunjukkan hasil prosesnya.
Sebagian kader, ada yang bersifat publishtik, juga ada yang privatik, serta mungkin yang lainnya. Layaknya—secara pribadi—saya tergolong kader yang privat terhadap proses belajar di organisasi. Yaa, seperti misalnya polemik yang sebelumnya. Ketika kata-kata bijak hasil isi kepala sangat kaku dan takut untuk kuperlihatkan ke sahabat-sahabat yang lain. Ada yang bertanya, "mengapa demikian?" Singkat jawabku, aku takut ketika yang kupublish, tidak sesuai dengan dedikasiku terhadap organisasi yang perlahan telah membesarkan namaku.
Sahabat-sahabat, mungkin tulisan ini saya buat semata-mata hanya untuk memotivasi diri sendiri, atas segala kekurangan selama berproses di wadah pergerakan. Sahabat-sahabat pergerakan, dengan adanya tulisan singkat ini—sebagai bahan refleksi—ayo sama-sama kita buka mata, lapangkan dada, dan bangkit; serta, yakinkan bahwa kita semua memiliki potensi yang sama besarnya, untuk menuai prestasi teruntuk wadah kita. Seraplah manfaat di setiap kata yang terdapat ditulisanku, yang tidak bermanfaatnya harap diselipkan pada secarik kantong keresek agar tak melubangi qalbu.

Komentar
Posting Komentar