Cinta dan Dinamika Batin Manusia
Penulis:Muh Dayat
Editor : A.D
Batinku berada dalam kesesatan sebab tak tahu harus memposisikan rasa cintaku kepada siapa dan untuk apa aku mencinta sehingga kebahagiaan yang kurasakan selalunya bersifat sementara"
Tolok ukur cinta adalah tatanan realitas di dunia dan di alam baka. Dalam tatanan cinta (ordo amoris),manusia hendaknya mendahulukan apa yang lebih tinggi dalam tatanan itu. Cinta paling bawah adalah cinta pada barang-barang yang akan hancur (cinta pada benda duniawi), manusia hendaknya mencintai diri sendiri dan sesamanya.
Cinta yang paling luhur adalah cinta kepada Allah. Dalam mencintai Allah tidak ada ukuran lagi, seperti cinta kepada sesama hendaknya sama ukurannya dengan cinta kepada diri sendiri, maka Allah hendaknya di cintai tanpa ukuran sama sekali.
Singgasana cinta yang paling esensial tercipta adalah ketika nilai subjektif cinta dan objektif cinta menyatukan dua insan sehingga mungkin saja ini akan mengalahkan Eros ( kekuatan universal dalam alam) tetapi yang paling berhak untuk di cinta adalah Allah karena ialah cinta yang paling luhur tanpa ada ukuran lagi.
Dalam hukum ilahi ketika membahas perihal cinta penulis menyebutnya " Jodoh di tangan Tuhan " karena itu, untuk sampai pada jodoh itu tidak serta merta Tuhan akan memberikan nya tanpa ada ikhtiar dari kita untuk mencarinya, artinya apa bahwa untuk sampai pada kebahagiaan cinta menurut Hukum ilahi adalah jodoh sudah ada yang atur tetapi apa yang kita miliki sekarang " pacar " belum tentu bisa menjadi jodoh, lantas jodoh itu seperi apa? , Penulis disini menganggap jodoh itu adalah pendamping sehidup semati " Dari dunia ke alam baka ".
Tetapi dalam dinamika batin manusia dalam membahas perihal cinta maka penulis tidak akan bisa mengutarakan apa yang selama ini di alami dan di rasakan oleh sang pembaca, tetapi kali ini mungkin pembaca pernah merasakan kekuatan cinta ketika beranjak remaja (pubertas) mengapa tidak , dimasa-masa seperti ini adalah sesuatu yang acap kali akan di rasakan oleh setiap insan manusia.
Pucuk segala kebahagiaan duniawi ketika beranjak remaja (pubertas) adalah mekarnya bunga-bunga percintaan dalam batin manusia maka itu akan menjadi bunyi lonceng pertama, pertanda bahwa dinamika cinta akan di mulai, kebahagiaan akan selalu menyelimuti bagi mereka yang telah mengarungi samudera cinta.
Tetapi secara esensial bahwa kebahagiaan tidak selamanya akan berpihak kepada mereka yang sudah merasakan cinta, di bunyikan nya lonceng pertama itu juga akan menjadi pertanda bahwa setiap insan manusia yang akan mengarungi samudera cinta sudah siap dalam menerima segala apa yang akan menjadi resiko dalam mencinta dan di cinta (Determinan).
Mana kah yang lebih kuat, cinta kepada diri sendiri, kepada sesama, atau kepada Allah sang pencipta cinta? Maka orang-orang akan di cirikan dengan orientasi batin, yaitu mendahulukan dirinya terhadap Allah ataukah mendahulukan Allah terhadap dirinya?
Allah sama sekali tidak membutuhkan cinta kita karena dialah maha pencipta dan maha kuasa, dialah yang menciptakan segala apa yang di anggap mustahil oleh setiap insan di dunia ini (transenden), lantas bagaimana mungkin batin manusia akan mengesampingkan cinta nya kepada Allah sedangkan cinta yang setiap hari bahkan jam, menit, detik kita gunakan adalah ciptaan nya? Maka jangan segan untuk mencinta kepadaNya sebab cintaNya lah yang selama ini kita gunakan untuk mencinta dan dicintai oleh sesama.
Dalam hidup kita acap kali di perhadapkan pada sebuah pilihan, antara Memilih A dan B maka kita sebagai hamba yang berakal harus bijak dalam mengambil suatu keputusan agar hidup lebih bermakna. Maka itu lah kehidupan di alam yang fana memang akan penuh dengan drama semata yang hari ini A besok B begitupun sebaliknya.
Maka yang paling esensial dalam hidup adalah menuju kebahagiaan, setiap insan akan selalu berlomba-lomba dalam mencapai kebahagiaannya masing-masing, ada yang beranggapan bahwasanya kebahagiaan akan tercapai ketika kekayaan sudah kita hampiri maka ini masih bersifat cinta terhadap benda duniawi semata (semuanya akan hancur ditelan bumi), ada juga yang beranggapan bahwa kebahagiaan akan kita capai ketika apa yang selama ini menjadi tujuan dalam hidup sudah terpenuhi, tetapi itu semua masih ngambang karena tujuan setiap orang beda-beda , ada yang tujuannya mengarah ke duniawi ada juga yang ke alam baka. Tetapi Rasa bahagia yang tidak akan pernah lenyap di telan waktu adalah ketika tujuan yang sifatnya kekal sudah terpenuhi (Dekatnya yang di cipta dengan sang pencipta).
Di masa sekarang ini acap kali muncul beberapa kaum, salahsatunya adalah kaum rebahan, mereka akan di Nina Bobokan dengan teknologi yang berkembang dalam hal ini (gadget) yang akan menjadi sarana dalam melakukan komunikasi, tetapi disini kita akan bahas antara dua insan yang saling mencinta dan dicinta ketika rebahan yang seringkali menjadi aktivitas mereka dan gadget lah yang akan membantu keduanya agar supaya hubungan antara dua insan akan selalu harmonis.
Tetapi bagaimana dengan cintanya kita kepada Allah ketika hari ini rebahanlah yang menjadi aktivitas keseharian kita? Apakah cintanya kita kepadaNya akan rebahan juga atau bagaimana? Ataukah gagdet juga yang akan menjadi sarana untuk mengutarakan cinta kita kepada sang pencipta cinta? Mudah-mudahan tidak.
Olehnya itu kita sebagai insan yang akan mengarungi samudera cinta akan selalu mengalami keambiguan dalam hal mencinta dan dicinta, sebab dalam mencinta dan dicinta dalam hal duniawi tidak selamanya akan melahirkan kebahagiaan kadangkala akan bersifat determinan. Tetapi dengan mendahulukan untuk mencinta kepada Sang Pencipta cinta maka puncak segala kebahagiaan akan menyelimuti kedua insan itu.
Kesalahan dari setiap insan ketika mereka terlena dengan euforia semata yaitu kebahagiaan duniawi yang semuanya akan hilang ditelan waktu sehingga mereka lupa akan hakikatnya yang bertuhan.
Kebijaksanaan dari setiap insan dalam konteks untuk mencapai puncak kebahagiaan duniawi belum bisa dikatakan baik ketika lebih mendahulukan nafsu ketimbang akal Budi nya,pun sebaliknya ketika akal Budi mampu mengalahkan nafsu maka sang Baik akan menghampiri sehingga kebahagiaan akan berkepanjangan.
Sejenak mengajak diri kita untuk berkontemplasi tentang sejauh mana rasa cinta kita terhadap sesama dan juga kepada sang pencipta (khalik), sebab hidup tak akan bermakna bilamana hanya untuk dijalani maka perlu untuk merefleksikan sejenak agar hidup di dunia lebih bermakna sebagi bekal ke alam yang sesungguhnya lagi (alam baka).
"Jangan berharap banyak untuk dicinta dengan mereka yang tak menghargai pribadimu, berharap lah pada dirimu sendiri untuk mencapai kebahagiaan, mencinta sang pencipta cinta dan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membagi cinta kepada yang lain".
Manusia tidak akan pernah puas dengan kebahagiaan yang sudah di milikinya sekarang ketika itu masih bersifat duniawi, olehnya itu, Jangan sesekali mencari yang sempurna untuk di cinta , tapi mencinta lah agar semuanya dapat sempurna.
Penulis:Muh Dayat
Editor : A.D
Batinku berada dalam kesesatan sebab tak tahu harus memposisikan rasa cintaku kepada siapa dan untuk apa aku mencinta sehingga kebahagiaan yang kurasakan selalunya bersifat sementara"
Tolok ukur cinta adalah tatanan realitas di dunia dan di alam baka. Dalam tatanan cinta (ordo amoris),manusia hendaknya mendahulukan apa yang lebih tinggi dalam tatanan itu. Cinta paling bawah adalah cinta pada barang-barang yang akan hancur (cinta pada benda duniawi), manusia hendaknya mencintai diri sendiri dan sesamanya.
Cinta yang paling luhur adalah cinta kepada Allah. Dalam mencintai Allah tidak ada ukuran lagi, seperti cinta kepada sesama hendaknya sama ukurannya dengan cinta kepada diri sendiri, maka Allah hendaknya di cintai tanpa ukuran sama sekali.
Singgasana cinta yang paling esensial tercipta adalah ketika nilai subjektif cinta dan objektif cinta menyatukan dua insan sehingga mungkin saja ini akan mengalahkan Eros ( kekuatan universal dalam alam) tetapi yang paling berhak untuk di cinta adalah Allah karena ialah cinta yang paling luhur tanpa ada ukuran lagi.
Dalam hukum ilahi ketika membahas perihal cinta penulis menyebutnya " Jodoh di tangan Tuhan " karena itu, untuk sampai pada jodoh itu tidak serta merta Tuhan akan memberikan nya tanpa ada ikhtiar dari kita untuk mencarinya, artinya apa bahwa untuk sampai pada kebahagiaan cinta menurut Hukum ilahi adalah jodoh sudah ada yang atur tetapi apa yang kita miliki sekarang " pacar " belum tentu bisa menjadi jodoh, lantas jodoh itu seperi apa? , Penulis disini menganggap jodoh itu adalah pendamping sehidup semati " Dari dunia ke alam baka ".
Tetapi dalam dinamika batin manusia dalam membahas perihal cinta maka penulis tidak akan bisa mengutarakan apa yang selama ini di alami dan di rasakan oleh sang pembaca, tetapi kali ini mungkin pembaca pernah merasakan kekuatan cinta ketika beranjak remaja (pubertas) mengapa tidak , dimasa-masa seperti ini adalah sesuatu yang acap kali akan di rasakan oleh setiap insan manusia.
Pucuk segala kebahagiaan duniawi ketika beranjak remaja (pubertas) adalah mekarnya bunga-bunga percintaan dalam batin manusia maka itu akan menjadi bunyi lonceng pertama, pertanda bahwa dinamika cinta akan di mulai, kebahagiaan akan selalu menyelimuti bagi mereka yang telah mengarungi samudera cinta.
Tetapi secara esensial bahwa kebahagiaan tidak selamanya akan berpihak kepada mereka yang sudah merasakan cinta, di bunyikan nya lonceng pertama itu juga akan menjadi pertanda bahwa setiap insan manusia yang akan mengarungi samudera cinta sudah siap dalam menerima segala apa yang akan menjadi resiko dalam mencinta dan di cinta (Determinan).
Mana kah yang lebih kuat, cinta kepada diri sendiri, kepada sesama, atau kepada Allah sang pencipta cinta? Maka orang-orang akan di cirikan dengan orientasi batin, yaitu mendahulukan dirinya terhadap Allah ataukah mendahulukan Allah terhadap dirinya?
Allah sama sekali tidak membutuhkan cinta kita karena dialah maha pencipta dan maha kuasa, dialah yang menciptakan segala apa yang di anggap mustahil oleh setiap insan di dunia ini (transenden), lantas bagaimana mungkin batin manusia akan mengesampingkan cinta nya kepada Allah sedangkan cinta yang setiap hari bahkan jam, menit, detik kita gunakan adalah ciptaan nya? Maka jangan segan untuk mencinta kepadaNya sebab cintaNya lah yang selama ini kita gunakan untuk mencinta dan dicintai oleh sesama.
Dalam hidup kita acap kali di perhadapkan pada sebuah pilihan, antara Memilih A dan B maka kita sebagai hamba yang berakal harus bijak dalam mengambil suatu keputusan agar hidup lebih bermakna. Maka itu lah kehidupan di alam yang fana memang akan penuh dengan drama semata yang hari ini A besok B begitupun sebaliknya.
Maka yang paling esensial dalam hidup adalah menuju kebahagiaan, setiap insan akan selalu berlomba-lomba dalam mencapai kebahagiaannya masing-masing, ada yang beranggapan bahwasanya kebahagiaan akan tercapai ketika kekayaan sudah kita hampiri maka ini masih bersifat cinta terhadap benda duniawi semata (semuanya akan hancur ditelan bumi), ada juga yang beranggapan bahwa kebahagiaan akan kita capai ketika apa yang selama ini menjadi tujuan dalam hidup sudah terpenuhi, tetapi itu semua masih ngambang karena tujuan setiap orang beda-beda , ada yang tujuannya mengarah ke duniawi ada juga yang ke alam baka. Tetapi Rasa bahagia yang tidak akan pernah lenyap di telan waktu adalah ketika tujuan yang sifatnya kekal sudah terpenuhi (Dekatnya yang di cipta dengan sang pencipta).
Di masa sekarang ini acap kali muncul beberapa kaum, salahsatunya adalah kaum rebahan, mereka akan di Nina Bobokan dengan teknologi yang berkembang dalam hal ini (gadget) yang akan menjadi sarana dalam melakukan komunikasi, tetapi disini kita akan bahas antara dua insan yang saling mencinta dan dicinta ketika rebahan yang seringkali menjadi aktivitas mereka dan gadget lah yang akan membantu keduanya agar supaya hubungan antara dua insan akan selalu harmonis.
Tetapi bagaimana dengan cintanya kita kepada Allah ketika hari ini rebahanlah yang menjadi aktivitas keseharian kita? Apakah cintanya kita kepadaNya akan rebahan juga atau bagaimana? Ataukah gagdet juga yang akan menjadi sarana untuk mengutarakan cinta kita kepada sang pencipta cinta? Mudah-mudahan tidak.
Olehnya itu kita sebagai insan yang akan mengarungi samudera cinta akan selalu mengalami keambiguan dalam hal mencinta dan dicinta, sebab dalam mencinta dan dicinta dalam hal duniawi tidak selamanya akan melahirkan kebahagiaan kadangkala akan bersifat determinan. Tetapi dengan mendahulukan untuk mencinta kepada Sang Pencipta cinta maka puncak segala kebahagiaan akan menyelimuti kedua insan itu.
Kesalahan dari setiap insan ketika mereka terlena dengan euforia semata yaitu kebahagiaan duniawi yang semuanya akan hilang ditelan waktu sehingga mereka lupa akan hakikatnya yang bertuhan.
Kebijaksanaan dari setiap insan dalam konteks untuk mencapai puncak kebahagiaan duniawi belum bisa dikatakan baik ketika lebih mendahulukan nafsu ketimbang akal Budi nya,pun sebaliknya ketika akal Budi mampu mengalahkan nafsu maka sang Baik akan menghampiri sehingga kebahagiaan akan berkepanjangan.
Sejenak mengajak diri kita untuk berkontemplasi tentang sejauh mana rasa cinta kita terhadap sesama dan juga kepada sang pencipta (khalik), sebab hidup tak akan bermakna bilamana hanya untuk dijalani maka perlu untuk merefleksikan sejenak agar hidup di dunia lebih bermakna sebagi bekal ke alam yang sesungguhnya lagi (alam baka).
"Jangan berharap banyak untuk dicinta dengan mereka yang tak menghargai pribadimu, berharap lah pada dirimu sendiri untuk mencapai kebahagiaan, mencinta sang pencipta cinta dan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membagi cinta kepada yang lain".
Manusia tidak akan pernah puas dengan kebahagiaan yang sudah di milikinya sekarang ketika itu masih bersifat duniawi, olehnya itu, Jangan sesekali mencari yang sempurna untuk di cinta , tapi mencinta lah agar semuanya dapat sempurna.

Komentar
Posting Komentar