Langsung ke konten utama

Catatan Seorang Sahabat Untuk Negeri

Catatan Seorang Sahabat Untuk Negeri


Penulis : Iis Nila Sari.
Editor : RWN.

Kita cenderung melihat kesalahan orang lain dan tidak peduli akan kebaikan yang diberikan. Berjalan di atas tanah, berdiri sama rata, beriringan sebagai sahabat.

Polemik yang tak berkesudahan dalam tubuh pergerakan, membuat saya berpikir dan menatap pada kepada sahabat bahwa urusan dunia dan akhirat harus selaras tanpa menegasikan satu sama lain. Saya pribadi pun masih sering abai dalam afirmasi kedua hal tersebut.

Pada tulisan ini, saya akan menceritakan sedikit dari banyak hal tentang asam manisnya bergabung dalam pergerakan. Begitu pula beragam karakter yang saya temui dan dibalut dengan term 'sahabat'.

Dari awal sampai detik ini berproses di pergerakan, saya banyak mengamati pluralistik pemikiran dengan perpaduan multi-perspektif. 'Mohon maaf', mayoritas sahabat yang terekrut di dalamnya, cuma sekedar ingin menempelkan eksistensinya dengan serba-serbi jabatan, tanpa mau mengakrabi asam manisnya berproses.

Esensi kaderisasi PMII, bukanlah memasung kebebasan sahabat buat terjun langsung dalam tataran praktis, misalnya ruang politik. Memang itu sah-sah saja dalam strategi pengembangan organisasi, asal tidak saling adu sikut kepentingan yang berimplikasi pada keterceraian. Sangat penting kiranya untuk menyiasati segala hal buat langkah strategis, tetapi medan juang tentunya sejalan dengan visi dan misi organisasi.

Apa yang telah diperjuangkan para pendiri PMII, selayaknya mengakar kuat bagi seluruh sahabat. Bahwa kemudian, independensi PMII sebagai organisasi mandiri dan punya arah kaderisasi yang jelas, teramat urgen dijalankan. PMII menyandarkan pertautan dalam bingkai Ahlussunnah Wal Jamaah dan empat pilar kebangsaan Indonesia. Ini sakramen yang harus bersemayam pada identitas sahabat, sekaligus sebagai warga negara dan umat beragama.

PMII menempah setiap sahabat (tentu yang berproses) sebagai kader yang militan dan berjuang di gugusan terdepan untuk bela negara dari hal-hal yang berpotensi merusak pranata sosial. Mestinya kita menyadari bahwa PMII memiliki tujuan yang begitu ideal, membuat sahabat mencapai Insan Ulil Albab, tentu dengan sikap penuh tanggung jawab. Percayalah, khidmat berproses akan didapatkan hikmahnya di kemudian hari.

Tidakkah kita merasa malu, menyombongkan diri, memproklamirkan diri sebagai sahabat tanpa melalui sabar menikmati proses? Seharusnya hari ini kita memahami bahwa dari perjalanan yang panjang, tak khayal berbalut iming-imingan 'mau jadi ini dan itu' dalam berproses, apalagi menjadikan pergerakan bak batu lompatan yang sewaktu-waktu tak harus diperhatikan. Sesungguhnya, sahabat yang berproses namun punya ambisi lebih, maka kemungkinan besarnya ialah kelakuan bebal yang akan mengakar kuat, tanpa meningkatkan sikap dan moralitas pada yang lain.

Sama-sama kita ketahui bahwa, 'term' kaderisasi merupakan jantung organisasi dalam sepak terjangnya dan jadi lokus gerak di sepanjang multi-sektoral. Kalau kita berkaca pada dinamika global, sepantasnya sahabat mengembangkan tata kelola organisasi dan menguatkan berbagai agenda kaderisasi yang punya daya substansial, bukan hanya merutinitaskan acara ceremonial atau menampilkan adu gengsi pakaian maupun hanya menjejalkan ilmunya sebagai alat gaya-gayaan.

Saya mengumpakan kader yang hanya mengambil segenap manfaat organisasi untuk kepentingan pribadi, laksana benalu yang mematikan perlahan-lahan induknya. Seyogianya sahabat sebagai kader pergerakan, memerhatikan tiga hal, pertama adalah sistem kaderisasi, kedua ideologisasi dan terakhir adalah solidaritas kolektif untuk bergerak secara nyata tanpa menghendaki pujian.

Genap sudah LX tahun usia PMII sepanjang perjalanan bangsa Indonesia, yang masih eksis dan paham tentang arti kemaslahatan. Saya membicarakan ini agar sahabat dari seluruh penjuru Nusantara, mampu membuktikan baktinya untuk negeri, hari ini, esok dan seterusnya.

Tahun 2020, sahabat kiranya sadar bahwa tantangan kita kedepan akan semakin kompleks. Tapi teramat penting berkaca pada tiga hal tadi. Sehingga terjadi proses elaborasi di dalamnya. Kaderisasi PMII bertumpu pada ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdiyah dan Pancasila supaya berpikir secara kreatif, aplikatif, dan inovatif untuk kemajuan Indonesia. Maka jangan heran kalau 'Nilai Dasar Pergerakan' punya tipologi berbeda dengan yang lain. Kader yang nasionalis-intelektualis-religius dapat bermanfaat dalam situasi dan kondisi apapun yang ditemui.

Sikap loyalitas terhadap organisasi harus jadi sarana pengabdian sahabat. Bukan hanya sekedar berkontribusi, namun bertanggung-jawab atas segala sesuatunya. Sahabat selayaknya saling mengayomi, respect dengan yang lain, peduli terhadap yang dialami sahabat, dan tetap beriringan menyongsong arah perubahan esok hari. Saatnya kita melepaskan 'pakaian' sombong nan penuh kecongkakan, agar kita berbakti dan bersatu-padu buat masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Cantik dan ganteng tidak cukup buat modal menjadi orang yang luar biasa. Kita harus punya bekal, dan itulah pentingnya sabar dalam berproses. Kita sama sebagai sahabat, sama pula punya akal dan hati, tapi kalau kita berproses, maka dapat didaya-gunakan untuk memberi kemanfaatan bagi orang lain, wabil khusus alam semesta.

Sahabat, jangan pesimis menghadapi tantangan kedepan, mari kita berproses bersama di pergerakan, tak usah takut lapar mengurus banyak orang, semua harus dirasakan asam dan manisnya berproses. Karena susungguhnya, tempat yang terbaik buat pulang dan terus belajar adalah rumah sendiri (PMII).

Saya menambahkan, kader terbaik PMII perlu kembali ke 'mesjid (bukan dalam arti sempit). Apalagi medan itu merupakan bagian dari aspek kaderisasi. Dinamisasi organisasi berlaku pula di tempat tersebut. Untuk itu, agenda kaderisasi dan kemanusiaan adalah wujud implementasi 'Islam Rahmatan Lil 'Alamin'.

Saya menutup dengan adagium yang seringkali terdengar dari sahabat PMII. Bunyinya seperti ini, 'bukan tampangmu yang akan dikenang, bukan pula ucapanmu yang membuatmu bijak, tetapi pergerakanmu yang akan abadi tak lapuk oleh zaman". [RWN]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...