Langsung ke konten utama

Curhatan Bang Daniel: Berlayar Menuju Kota Daeng Makassar.


  Mengikuti workshop di Ciloto, Jawa Barat pada tanggal 18-23 desember 2019, menghantarku menginjakkan kaki pertama kali di ibu kota (JAKARTA), menyebrangi lautan pertama kali dengan menggunakan kapal laut.

     Pertama kali menaiki kapal membuatku termenung dengan melihat kapal laut yang begitu besar dengan rute Makassar menuju jakarta. Berlayar mengarungi lautan dengan ditemani salah satu sahabatku (Muh. Rafli Setyawan) banyak meninggalkan cerita, mulai dari berinteraksi kepada sesama penumpang kapal, dan juga menikmati keindahan laut.

   Mungkin sebahagian orang banyak yang menikmati perjalanannya pada saat berada diatas kapal dari pelabuhan makassar menuju Tanjung Priok jakarta. Tapi bagi diriku sendiri hanya mampu terbaring lemah (sakit) karena mungkin baru sekali menaiki kapal laut. Aduhhh kasihan diriku.

   Bahkan aku merasa gelisah, sesekali fikiranku melayang-layang ingin kembali menuju Kota palopo, tapi demi mengikuti Workshop Jurnalisme sastrawi : Menulis biografi Ulama,akhirnya aku tetap bersiteguh untuk berlayar walau masih tersimpan rasa tak ingin melanjutkan perjalanan, bagaimana mau kembali coba, kita berada ditengah laut, bagaimana bisa mau kembali… hehehe

  Aduh, terlalu jauh saya bercerita, padahal saya hanya ingin berbagi soal cerita Bang Daniel, yang menurutku hal ini menarik untuk dituliskan karena memuat beberapa cerita Menarik yang mengahantarku berdiskusi dengannya hingga menjelang shalat subuh sabtu 28 desember 2019 WIB.

   Sekitar pukul 23.00 WIB aku berkemas-kemas mandi dan mengganti baju, ditengah pelayaran kapal,dari pelabuhan tanjung perak surabaya menuju pelabuhan makassar, usai mandi akupun bergegas membuat segelas kopi dan membaca buku biografi ulama kharismatik KH. Hasyim Asyari dibagian samping kapal.

   Di tengah keasyikan ku membaca buku tiba-tiba terdengar suara menyapa
Mau kemana mas ? sebuah pertanyaan dari seseorang yang tidak saya kenal
Mau ke makassar… Jawabku
Anda sendiri mau kemana…. Tanyaku kepadanya
Saya mau ke Ambon… Jawabnya

  Jujur, dari raut wajahnya saya tidak melihat ras ambon disana, Justru pada saat melihatnya saya mengira bahwa dia adalah orang  jawa, yang mungkin saja ingin merantau ke ambon.

    Akhirnya perlahan-perlahan akupun berdiskusi dengannya

Dari tadi saya memeperhatikan kamu membaca buku. kata bapak tersebut

   Apakah bapak tau dengan tokoh KH.HASYIM ASYARI  ?... tanyaku sama bapak tersebut
Aku fans dengan NU… kata bapak
Mendengar ucapan bapak tersebut, saya penasaran dan kemudian mencoba berdiskusi dengannya
    Kenapa bapak fans dengan NU…. Tanya ku
Karena NU selalu menjadi pembela dan pengayom kami…. Katanya
Dengan rasa penasaranku, akupun mulai memperbaiki tempat duduk dan menatap matanya.

   Saya tidak mengerti maksud bapak…. Tanya ku
Iya, saya fans dengan Tokoh besar NU, (Gusdur). NU adalah Ormas yang selalu menyerukan persoalan Toleransi, saya dari Agama kristen sangat bangga memiliki NU. Jawabnya, jadi ini bukan hal yang mengada-ngada, ini adalah diskusi murni saya dengan bapak tersebut.

   Tak lama berselang kuberanikan diri untuk bertanya tentang namanya, karena saya penasaran dengannya.
Nama bapak siapa ?... tanyaku
Nama saya Daniel… jawabnya

   Jadi, bang daniel ini adalah perantau asal ambon, seorang Bapak kelahiran 1986 ini bercerita banyak kepadaku tentang kekagumannya terhadap NU. Dari tutur bahasanya saya menebak bahwa bahwa bapak daniel ini banyak tahu tentang NU. Bayangkan, dari sekitar pukul 23.30 WIB saya bercerita dengannya sampai menjelang dikumandangkannya shalat subuh, pembahasan itu hanya berkisar tentang NU.

   Bang daniel sedikit curhat kepada ku bahwa, _ketika melihat lambang NU ada kebaggaan tersendiri bagi dirinya,_ dia bercerita melihat seorang pemuda memakai topi diatas kapal dengan topi yang memiliki lambang NU, setelah ku cari tahu ternyata pemuda itu adalah sahabatku yaitu Muh. Rafli Setyawan. hehehe
    Topi yang dibeli sewaktu mengikuti kegiatan haul ke 10 Gusdur di Kantor PBNU jakarta jalan Kramat Raya.

  Bang daniel juga bercerita bahwa dia sering jalan ke kantor PBNU mengikuti kegiatan LSM dalam rangka sosialisasi pencegahan HIV/AIDS, dia juga curhat banyak kepadaku soal perayaan natal yang akhir-akhir ini menjadi kontroversial di media sosial, menurutnya, NU kembali menjadi pelindung kami dengan dukungan kepada mereka untuk merayakan natal dengan penuh kasih

     Akupun menyampaikan kutipan gusdur kepadanya, gusdur pernah mengatakan bahwa “Ketika kamu berbuat baik kepada manusia, Mereka tidak akan pernah tanya apa agama  mu” aku melihat bang daniel termangguk-mangguk sambil membenarkan perkataan itu.

   Tak banyak yang bisa kuceritakan soal bang daniel, yang jelasnya bang daniel adalah sodara kita dari KRISTIANI yang banyak tahu tentang NU, dan merasa bangga punya NU.

Selamat sampai tujuan bang daniel..

Oleh: Ayyink Dakhiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...