“Saya akan terus menulis, tetap menulis, sampai tak bisa menulis”.
Petikan tersebut, adalah ungkapan sederhana dari KH. Mahbub Djunaidi. Memang sederhana. Tapi, konsistensinya dalam menulis, adalah suatu kebanggan tersendiri, untuk generasi-generasi bangsa selanjutnya; khususnya, bagi sahabat-sahabat warga pergerakan.
Pukul 03.00 dinihari, sesaat menjelang salat subuh, saya duduk di ruang tengah sambil baca buku. Salah seorang sahabat datang hampiri. Entah ia darimana. Datangnya, dengan menenteng buku. Lalu, ia perlihatkan kepadaku. Kulihat cermat buku yang dibawanya. Sungguh membuatku tertarik untuk membacanya. Karena, buku itu, telah sekian lama kucari. Judulnya: Sang Pendekar Pena: Bung Mahbub.
(Baca juga: Refleksi Pola Pikir, Generasi Muda Masa Kini)
Nama tersebut, sudah tak asing di telinga. Ya, awal mula injakkan kaki di lokasi Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Angkatan 56 pada 2017 silam, yang diadakan Pengurus Komisariat PMII IAIN Kota Palopo; tepatnya, ketika materi Ke-PMII-an oleh Sahabat senior, yang memandu materi kala itu. Beliau menyebutkan nama Mahbub Djunaidi. Dijelaskan bahwa, Bung Mahbub merupakan ketua Umum PP (sekarang: PB) pertama PMII, pada 1960, dan menjabat pada periode 1960-1967.
Bung Mahbub—Jakarta 27 Juli 1933-01 oktober 1995—merupakan tokoh inspirator. Demikian dalam hematku ketika membaca sepak terjangnya sebagai organisatoris, politisi, dan sastrawan atau penulis. Kepiawaiannya dalam menulis, membuat beberapa kalangan merasa terhipnotis ketika membaca karya-karyanya.
Bung mahbub, tak hanya akrab dengan masyarakat. Bahkan, ia juga bersentuhan dengan para petinggi. Salah satunya, tokoh yang biasa disebut sebagai Putra Sang Fajar; tepatnya, Bung Karno. Beliau merupakan teman karib presiden RI pertama tersebut, untuk ngobrol dan ngopi. Tetapi, meskipun terlihat dekat dengan Bung Karno, Bung mahbub ini tetap menjaga jarak dari kepentingan pribadi. Bahkan, konon pernah ditawari jabatan oleh Soekarno. Tapi, berangkat dari berbagai pertimbangan, beliau menolak tawaran dengan santun.
Inspirasiku ingin menulis tokoh yang satu ini, berawal dari buku Sang Pendekar Pena tersebut. Banyak sahabat pergerakan dari berbagai belahan daerah dan elemen lain, juga menuliskan perjalanan dan apapun terkait Bung Mahbub. Hal ini, juga membuatku tertarik mengukirnya di atas kertas putih. Bahkan beberapa kader PMII ketika merayakan HARLAH PMII-pun, tak lupa mengenang tokoh yang satu ini. Nah, dari sini, sungguh ku ingin di Palopo ini, ketika diadakan acara yang semacamnya, untuk sembari memperingati torehan sejarah yang pernah ditorehkan tokoh nasionalis ini, juga bisa mengemban spirit perjuangan beliau. Bukan sekadar mometum tanpa ruh atau penghayatan.
(Baca juga: KH. SAS: Membangun Peradaban, Melalui Khilafah Literasi)
Saya merasa khawatir, tokoh secerdas Bung Mahbub ini, hilang ditelan masa. Makanya, saya menulis kiprah beliau, untuk memperlihatkan dan mengingatkan kembali ke khalayak. Khususnya kader PMII. Bahwa, marilah kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah tentang Bung Mahbub ini, dan juga mengambil spirit pergerakan beliau.
Bung Mahbub juga seorang Kyai. Beliau merupakan anak pertama dari 13 bersaudara. Anak dari K.H Djunaidi yang merupakan orang NU tulen, yang pernah menjadi anggota DPR Pada pemilu 1955.
Menulis memang bukan perkara mudah. Tapi, kepandaian dan kecerdasan dari Mahbub Djunaidi yang menulis kritikan-kritikannya kepada penguasa Orde Lama dan Orde Baru dengan bahasa yang mudah dimengerti. Bahkan, karena "ulahnya", pernah mengantarkannya ke rutan Nirbaya oleh pemerintah orde baru pada tahun 1977. Ada beberapa karyanya, diantaranya: Dari Kolom ke Kolom, Binatangaisme (terjamahan novel satir: George Orwell), dll yang bisa kita lacak bersama.
Dari sini, terlihat Bung Mahbub memang tipikal pribadi progresif. Karena, selain menjadi ketua umum PMII pada tahun (1960-1967), ketua umum PWI (1965-1967), wakil ketua umum PBNU (1984-1989) ketua DPR-GR (1967-1971) dll. Hal itu tidak membatasi beliau, untuk sentiasa menggoreskan penanya. Tak habis kagum kita, akan prestasi dari perjuangan pergerakan beliau.
Bung mahbub mengakhiri karirnya sekaligus menghembuskan nafas terakhirnya di Bandung pada 01 Oktober 1995. Meskipun Ia telah pergi, tapi kontribusinya kepada negeri ini, sangat luar biasa. Dia juga merupakan komunikator organisasi mahasiswa dengan Bung Karno. Maka, harapan saya, selaku orang memiliki keterbatasan dalam menuliskan tentang kepribadian bung Mahbub ini bahwa, siapakah kira-kira yang menjadi Mahbub Mahbub selanjutnya, kalau bukan kita sebagai warga pergerakan?!. Jadilah diri sendiri; tapi, dengan semangat dan progresifitas Bung Mahbub.
(Baca juga: Gotong Royong: Warisan Pendahulu yang Luntur)
Tak banyak yang bisa kutuliskan. Tapi, setidaknya kesadaran untuk menulisnya kembali, adalah merupakan tanggung jawab kita sebagai pelanjut perjuangan dari Mahbub Djunaidi, yang telah memberikan sumbangsih perjuangan dan kepekaannya terhadap Sosial; terlebih membangkitkan semangat kaum yang tak hanya pandai mengkritik, tapi memberikan sumbangsih tulisannya kepada khalayak.
Meminjam ungkapan Imam Syafi’i: “Jika kamu bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis“.
Mari sejenak melangitkan Suratul Fatihah, untuk Bung Mahbub Djunaidi....
Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit: Ayying Dhakiri.
Palopo-Nov 02, 2019.
Referensi: Sang Pendekar Pena: Bung Mahbub.
Sumber Gambar Ilustrasi
Petikan tersebut, adalah ungkapan sederhana dari KH. Mahbub Djunaidi. Memang sederhana. Tapi, konsistensinya dalam menulis, adalah suatu kebanggan tersendiri, untuk generasi-generasi bangsa selanjutnya; khususnya, bagi sahabat-sahabat warga pergerakan.
Pukul 03.00 dinihari, sesaat menjelang salat subuh, saya duduk di ruang tengah sambil baca buku. Salah seorang sahabat datang hampiri. Entah ia darimana. Datangnya, dengan menenteng buku. Lalu, ia perlihatkan kepadaku. Kulihat cermat buku yang dibawanya. Sungguh membuatku tertarik untuk membacanya. Karena, buku itu, telah sekian lama kucari. Judulnya: Sang Pendekar Pena: Bung Mahbub.
(Baca juga: Refleksi Pola Pikir, Generasi Muda Masa Kini)
Nama tersebut, sudah tak asing di telinga. Ya, awal mula injakkan kaki di lokasi Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Angkatan 56 pada 2017 silam, yang diadakan Pengurus Komisariat PMII IAIN Kota Palopo; tepatnya, ketika materi Ke-PMII-an oleh Sahabat senior, yang memandu materi kala itu. Beliau menyebutkan nama Mahbub Djunaidi. Dijelaskan bahwa, Bung Mahbub merupakan ketua Umum PP (sekarang: PB) pertama PMII, pada 1960, dan menjabat pada periode 1960-1967.
Bung Mahbub—Jakarta 27 Juli 1933-01 oktober 1995—merupakan tokoh inspirator. Demikian dalam hematku ketika membaca sepak terjangnya sebagai organisatoris, politisi, dan sastrawan atau penulis. Kepiawaiannya dalam menulis, membuat beberapa kalangan merasa terhipnotis ketika membaca karya-karyanya.
Bung mahbub, tak hanya akrab dengan masyarakat. Bahkan, ia juga bersentuhan dengan para petinggi. Salah satunya, tokoh yang biasa disebut sebagai Putra Sang Fajar; tepatnya, Bung Karno. Beliau merupakan teman karib presiden RI pertama tersebut, untuk ngobrol dan ngopi. Tetapi, meskipun terlihat dekat dengan Bung Karno, Bung mahbub ini tetap menjaga jarak dari kepentingan pribadi. Bahkan, konon pernah ditawari jabatan oleh Soekarno. Tapi, berangkat dari berbagai pertimbangan, beliau menolak tawaran dengan santun.
Inspirasiku ingin menulis tokoh yang satu ini, berawal dari buku Sang Pendekar Pena tersebut. Banyak sahabat pergerakan dari berbagai belahan daerah dan elemen lain, juga menuliskan perjalanan dan apapun terkait Bung Mahbub. Hal ini, juga membuatku tertarik mengukirnya di atas kertas putih. Bahkan beberapa kader PMII ketika merayakan HARLAH PMII-pun, tak lupa mengenang tokoh yang satu ini. Nah, dari sini, sungguh ku ingin di Palopo ini, ketika diadakan acara yang semacamnya, untuk sembari memperingati torehan sejarah yang pernah ditorehkan tokoh nasionalis ini, juga bisa mengemban spirit perjuangan beliau. Bukan sekadar mometum tanpa ruh atau penghayatan.
(Baca juga: KH. SAS: Membangun Peradaban, Melalui Khilafah Literasi)
Saya merasa khawatir, tokoh secerdas Bung Mahbub ini, hilang ditelan masa. Makanya, saya menulis kiprah beliau, untuk memperlihatkan dan mengingatkan kembali ke khalayak. Khususnya kader PMII. Bahwa, marilah kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah tentang Bung Mahbub ini, dan juga mengambil spirit pergerakan beliau.
Bung Mahbub juga seorang Kyai. Beliau merupakan anak pertama dari 13 bersaudara. Anak dari K.H Djunaidi yang merupakan orang NU tulen, yang pernah menjadi anggota DPR Pada pemilu 1955.
Menulis memang bukan perkara mudah. Tapi, kepandaian dan kecerdasan dari Mahbub Djunaidi yang menulis kritikan-kritikannya kepada penguasa Orde Lama dan Orde Baru dengan bahasa yang mudah dimengerti. Bahkan, karena "ulahnya", pernah mengantarkannya ke rutan Nirbaya oleh pemerintah orde baru pada tahun 1977. Ada beberapa karyanya, diantaranya: Dari Kolom ke Kolom, Binatangaisme (terjamahan novel satir: George Orwell), dll yang bisa kita lacak bersama.
Dari sini, terlihat Bung Mahbub memang tipikal pribadi progresif. Karena, selain menjadi ketua umum PMII pada tahun (1960-1967), ketua umum PWI (1965-1967), wakil ketua umum PBNU (1984-1989) ketua DPR-GR (1967-1971) dll. Hal itu tidak membatasi beliau, untuk sentiasa menggoreskan penanya. Tak habis kagum kita, akan prestasi dari perjuangan pergerakan beliau.
Bung mahbub mengakhiri karirnya sekaligus menghembuskan nafas terakhirnya di Bandung pada 01 Oktober 1995. Meskipun Ia telah pergi, tapi kontribusinya kepada negeri ini, sangat luar biasa. Dia juga merupakan komunikator organisasi mahasiswa dengan Bung Karno. Maka, harapan saya, selaku orang memiliki keterbatasan dalam menuliskan tentang kepribadian bung Mahbub ini bahwa, siapakah kira-kira yang menjadi Mahbub Mahbub selanjutnya, kalau bukan kita sebagai warga pergerakan?!. Jadilah diri sendiri; tapi, dengan semangat dan progresifitas Bung Mahbub.
(Baca juga: Gotong Royong: Warisan Pendahulu yang Luntur)
Tak banyak yang bisa kutuliskan. Tapi, setidaknya kesadaran untuk menulisnya kembali, adalah merupakan tanggung jawab kita sebagai pelanjut perjuangan dari Mahbub Djunaidi, yang telah memberikan sumbangsih perjuangan dan kepekaannya terhadap Sosial; terlebih membangkitkan semangat kaum yang tak hanya pandai mengkritik, tapi memberikan sumbangsih tulisannya kepada khalayak.
Meminjam ungkapan Imam Syafi’i: “Jika kamu bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis“.
Mari sejenak melangitkan Suratul Fatihah, untuk Bung Mahbub Djunaidi....
Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit: Ayying Dhakiri.
Palopo-Nov 02, 2019.
Referensi: Sang Pendekar Pena: Bung Mahbub.
Sumber Gambar Ilustrasi

Komentar
Posting Komentar