Ada tulisan yang—bagi saya pribadi—menarik untuk kita telaah kembali bersama. Berikut—kutipannya kira-kira seperti ini: “...Bahwa ada warisan yang ditinggalkan para pendiri bangsa Yang mulai memudar. Apa itu? Disana kita melihat bersatunya masyarakat dengan semangatnya, segala kekuatannya, persatuannya terbangun tanpa harus melihat agama, suku, budaya, dan rasnya..."
Itulah budaya gotong royong. Hal yang dikemas sedemikian rupa, hingga menjadi falsafah negeri ini. Itu pula, yang kemudian termaktub dalam sila ke tiga, dalam asas Negara kita: Pancasila (Persatuan indonesia).
Di desa, mungkin kita masih bisa melihat keindahan gotong royong yang tetap terlestarikan. Apakah juga di kota-kota besar kita masih bisa melihat warisan gotong royong ini? Ataukah mulai terhalang dengan sikap egosentris? Ataukah terhalang dengan budaya budaya impor—budaya dari luar negeri—yang sifatnya individualistik (mementingkan diri sendiri ).
Saya bukanlah penulis andal. Tapi, saya bisa merasakan keresahan penulis yang sempat saya komsumsi tulisannya. Ia menuangkan segala kesedihan, yang meronta ronta di dalam dirinya. Bahwa, perlahan budaya gotong royong di Bangsa kita ini, mengalami warna yang bercampur dan lama kelamaan akan menghilangkan warna aslinya.
Apa pengaruh—tepatnya yang memengaruhi— sehingga lunturnya budaya gotong royong ini? Ya, dengan ini—paling tidak—kita akan sama-sama merefleksi pengaruhnya ataupun implikasinya. Apakah pengaruh liberalisme yang begitu kuat, Ataukah pengaruh globalisasi yang kian maraknya. Sehingga, munculnya sifat yang termaksud di atas—individualistik.
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi—berangkat dari apa yang dikatakan penulis tadi (Sayidimanu S.) menurutnya—sebab lunturnya budaya gotong royong, yaitu: maraknya proses globalisasi sehingga melahirkan sifat narsisme, berakarnya paham kapitalisme, dan mentalitas kader bangsa (baca: generasi penerus bangsa) yang terus melemah.
Gotong royong adalah bekerja bersama,untuk mencapai tujuan yang sama. Tapi betulkah bahwa bekerja bersama masih terlihat hari ini? Atau justru bekerja bersama adalah hal sudah tidak lagi menjadi ciri khas bangsa indonesia kita? Kalaupun ada, ya mungkin saja itu terbatas pada mereka yang masih sadar akan pentingnya budaya gotong royong ini. Sudah ketebak, jumlahnya kian menipis.
Merekalah yang sesungguhnya mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang ada di Pancasila. Nilai yang tertuang dalam sila ke tiga: persatuan indonesia. Ketika diperas, akan menjadi Trisila. Lalu, kalau diperas lagi, akan menjadi Ekasila. Nah, Ekasila inilah yang dimaksud dengan Gotong royong.
Nilai yang disebutkan terakhir, terasa juga seakan diakhirkan. Atau singkatnya, kian dilupakan secara berjamaah dan cuma-cuma. Padahal, kita lihat ada beberapa manfaat lestarinya gotong royong ini, yaitu :
1. Hubungan harmonis antar pemeluk agama tetap terjaga.
2. Masyarakat diajarkan untuk selalu berpikir maslahat, bukan sebaliknya; yaitu, individualistik.
3. Hidupnya nilai-nilai pancasila, bukan semata didengumgkan pada saat upacara bendera.
4. Serta sederet manfaat lainnya.
Mungkin kawan-kawan merasakan sendiri, apa yang menjadi kekurangan bangsa kita. Bahwa dari pergantian fase ke fase kepemimpinan, Pancasila hanya sekadar simbolik. Artinya, ada nilai-nilai adiluhung yang terkandung dalam pancasila, yang mana dalam hal praktiknya, tidak hidup dalam kehidupan berbangsa. Sungguh ironis.
Bahwa—misalkan dari segi ekonomi—itu tidak lagi menjadi "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia". Nah, akibat daripada ini, muncullah sifat individualistik di kalangan generasi bangsa, yang mengharuskan ia tidak lagi peduli pada mutu segala aspek. Melainkan, bagaiamana ia mampu menghidupi dirinya, tanpa memedulikan kepentingan orang banyak (Maslahat).
Pada bagian akhir tulisan ini, saya ingin sampaikan bahwa: kita masyarakat indonesia—yang katanya, generasi-generasi pembaharu—sebenarnya tidak lemah mental ataupun fisik, sebagaimana yang dimaksud pada bagian sebelumnya. Tetapi, yang dimaksud lemah mental adalah dimana kita tidak mampu merealisasikan buah pemikiran yang mampu melahirkan kemajuan bangsa ini. Justru kita terkungkung pada teori. Sehingga setiap ingin melangkah, justru keragu-raguan inilah yang menjadi penghambat kemajuan kita.
Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit: Ayyink Dhakiri.
Palopo-September 30, 2019.
Referensi: (Buku) Budaya Gotong Royong. (SAYIDIMAN SURYAHADIPROJO).

Komentar
Posting Komentar